200 warga Malino pelajari Perda penanganan lahan kritis

Sebanyak 200 warga Malino mengikuti sosialisasi Perda penanganan lahan kritis yang dipaparkan oleh legislator DPRD Provinsi Sulsel, Rahmansyah

Terkini.id, Gowa – Sebanyak 200 orang menghadiri kegiatan Sosialisasi Produk Hukum Daerah (Perda) tentang Pengendalian Lahan Kritis, yang dilaksanakan oleh Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan (Sulsel) Rahmansyah di Masagena Cottage, Jalan Karaeng Pado, Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong. Sabtu, 13 Januari 2018.

Sosialisasi Produk Hukum Daerah Nomor 1 Tahun 2017 yang dimulai pukul 09.30 hingga selesai itu berlangsung dalam suasana dialog penuh keakraban. Beberapa peserta dengan antusias mengajukan pertanyaan ke Rahmansyah mengenai peraturan dan metode penanggulangan lahan krits.

Rahmansyah dalam penyampaiannya mengatakan bahwa permasalahan lingkungan, utamanya lahan kritis adalah tanggung jawab seluruh kalangan, bukan sekadar urusan pemerintah. Karenanya, lanjut Anggota Fraksi Partai Golkar itu, selayaknya gerakan peduli lingkungan mesti dimulai dari diri sendiri.

“Peraturan daerah ini menjadi landasan dan acuan kita untuk sama-sama merehabilitasi lahan-lahan kritis yang ada di Sulawesi Selatan, termasuk di dataran tinggi Malino,” ucap pria yang dikenal murah senyum itu.

Legislator DPRD Sulsel dari daerah pemilihan (Dapil) Gowa-Takalar itu juga mengajak Ustadz Iqbal Jalil sebagai pembicara untuk membahas persoalan lingkungan dari perspektif agama Islam. Sebab, kata Rahmansyah, persoalan lingkungan itu juga diatur dan dianjurkan dalam ajaran agama Islam.

Rahmansyah memaparkan permasalahan lingkungan utamanya lahan kritis kepada warga Malino

Menarik untuk Anda:

“Dalam agama kita juga ada tuntunan untuk menjaga kelestarian alam dan merawat lingkungan kita sebagai sumber kehidupan umat manusia,” tutur Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Fakultas Satra Unhas itu.

Sementara itu, Ustad Iqbal Jalil menyampaikan bahwasanya syariat Islam sangat sangat memperhatikan kelestarian alam. Kaum Muslimin, ungkap Ustad Iqbal, tidak diperbolehkan membakar dan menebangi pohon tanpa alasan dan keperluan yang jelas. Seperti yang tertuang dalam Surah Ar-Rum.

“Kerusakan alam dan lingkungan hidup yang kita saksikan sekarang ini merupakan akibat dari perbuatan umat manusia. Allâh Azza wa Jalla menyebutkan firmanNya: Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allâh merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” jelasnya.

Dialog tentang pengendalian lahan kritis tersebut telah membuka pengetahuan baru masyarakat Malino mengenai gerakan kepedulian lingkungan. Seperti yang dituturkan Firman, tokoh pemuda Kecamatan Tinggi Moncong.

“Kita akhirnya paham bahwa sebagai masyarakat, kita adalah ujung tombak penjaga kelestarian lingkungan dan subur lahan pertanian,” tandasnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Kabar Baik, Pelaku Usaha Mikro di Gowa Bakal dapat Bantuan, Ini Syaratnya

Gowa Urutan Keempat Daerah Serapan Anggaran di Atas Rata-rata Secara Nasional

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar