2,4 Juta Ton Beras Terancam Busuk, Bulog Bingung Didistribusikan ke Mana

Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah meninjau stok beras di gudang Bulog Makassar, Kamis 3 Januari 2018.

Terkini.id, Jakarta – Bulog mencatat, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) atau stok beras di gudang Bulog mencapai hingga 2,4 juta ton.

Bulog menyampaikan, bila jutaan beras tersebut tak segera diedarkan, beras tersebut terancam busuk.

“Hari ini sudah ada lagi jadi 2,4 juta ton,” tutur Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) usai menghadiri rapat koordinasi bantuan pangan nasional di Hotel Royal Kuningan, Jakarta, seperti dilansir dari detikcom, Kamis 4 Juli 2019.

Awalnya, beras tersebut direncanakan untuk disalurkan pada program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Akan tetapi, Kementerian Sosial mengharuskan Bulog untuk menyediakan beras baru dalam program tersebut.

Sehingga tak bisa menggunakan beras yang sudah lama menumpuk di gudang Bulog.

“Iya, saya sudah jamin kemarin bahwa beras-beras yang baru kita serap, bukan pakai beras yang lama. Beras yang baru kita serap langsung kita distribusikan,” ujar Buwas.

2,2 Juta Ton Terancam Busuk

Buwas mengatakan, stok beras yang sudah lama menumpuk di gudang tersebut akan diprioritaskan untuk operasi pasar.

Akan tetapi, dia menegaskan bahwa kualitas beras tersebut bukan kualitas rendah, melainkan terancam menurun.

“Kan yang lama-lama itu sekarang digiatkan ke operasi pasar. Yang lama-lama itu bukan kualitasnya rendah, tidak. Tapi kita prioritaskan untuk keluarkan. Khusus untuk BPNT kita jamin pakai berasnya baru,” terang Buwas.

Ia mengungkapkan, pembagian beras yang akan digunakan untuk operasi pasar disesuaikan dengan penugasan dari pemerintah, dan penugasan itu tidak hanya dalam bentuk kegiatan operasi pasar.

“Ya nanti kita lihat mana yang untuk kegiatan-kegiatan CBP ini. Kan kita tidak tahu, pemerintah kan ada penugasan-penugasan lain, jadi kita (Bulog) harus siap,” papar dia.

Terkait 50.000 ton beras Bulog yang dikabarkan mutunya sudah menurun, Buwas menjelaskan bahwa kualitas beras tersebut masih dapat digunakan. Namun, memang kualitasnya terancam menurun apabila tak segera dikeluarkan.

“Maksudnya yang 50.000 ton itu, beras kan selalu kita nilai mana yang datang duluan, itu harus dikeluarkan duluan dong. Nah yang dimaksud kemarin oleh Direktur Pengadaan (Bachtiar), beras itu yang 50.000 ton sudah harus segera digunakan, karena itu sudah ada kecenderungan mulai turun mutunya.

Ya itu yang diutamakan maksudnya begitu. Bukan berarti beras itu turun mutu terus tidak berkualitas, bukan. Itu yang menjadi prioritas. Jadi nanti ada 50.000 atau 80.000 ton saya tidak tahu. Itu nanti direktur operasional yang menghitung, mana yang harus dikeluarkan lagi,” tandasnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Sinjai

Pemkab Sinjai Siap Bermitra Dengan KMS UNM

Terkini.id, Sinjai - Pengurus Kesatuan Mahasiswa Sinjai (KMS) Universitas Negeri Makassar (UNM) melakukan silaturahmi ke pemerintah Kabupaten Sinjai.Dalam silaturahmi tersebut membahas rencana pelantikan dan