29 Perempuan Indonesia Jadi ‘Pengantin Bayaran’ di China, Kerap Disiksa dan Dipaksa Kerja

Pengantin Bayaran
Ilustrasi perempuan pengantin bayaran alias pesanan. (Foto: jawpos)

Terkini.id – Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) mencatat ada 29 perempuan jadi korban pengantin bayaran alias pesanan di China selama 2016-2019. Para perempuan ini dibawa ke China, dinikahkan dengan lelaki di negara tersebut, dengan iming-iming diberi nafkah besar.

Namun, perempuan ini malah ‘dieksploitasi’ dengan bekerja di pabrik tanpa upah. Demikian diungkapkan Sekjen SBMI Bobi Anwar Maarif,

“Dia sama-sama kerja dari jam 7 sampai 6 sore. Kemudian ada lagi kerja tambahan merangkai bunga sampai jam 9 malam. Jadi dia kerja. Tapi dari pekerjaan-pekerjaan itu dia nggak dapat apa-apa. Semua upahnya itu ke suami atau ke mertua,” ujarnya dalam konferensi pers di LBH Jakarta.

Bobi mengatakan pada saat proses perekrutan dan pemindahan terdapat keterlibatan para perekrut lapangan untuk mencari dan memperkenalkan perempuan kepada pria asal China untuk dinikahi dan kemudian dibawa ke negaranya.

“Cara penipuan digunakan dengan memperkenalkan calon suami sebagai orang kaya dan membujuk para korban untuk menikah dengan iming-iming akan dijamin seluruh kebutuhan hidupnya dan keluarganya. Keluarga para korban juga diberi sejumlah uang,” kata Bobi, dikutip dari Liputan6, Senin 24 Juni 2019.

Bobi menuturkan, seorang pria asal China harus menyediakan uang sebesar Rp 400 juta jika ingin memesan pengantin perempuan.

Dari uang itu, sebanyak Rp 20 juta diberikan kepada keluarga pengantin perempuan dan sisanya diberikan kepada para perekrut lapangan.

Para perempuan ini berasal dari Jawa Barat (16 orang) dan Kalimantan Barat (13 orang). Mereka dikenalkan dengan lelaki di China lewat mak comblang atau pencari jodoh.

Para korban kerap disiksa oleh suaminya di China

Pengantin Bayaran
Perempuan Indonesia korban eksploitasi di China. (Foto: kumparan)

Di China, para korban kerap dianiaya suami dan dipaksa berhubungan seksual, bahkan ketika sedang sakit. Para korban juga dilarang berhubungan dengan keluarga di Indonesia. SBMI menduga, pernikahan ini sebetulnya merupakan praktik perdagangan manusia.

“Proses ini sudah ada proses pendaftaran, perekrutan, penampungan, ada pemindahan, ada pemberangkatan keluar negeri. Terus cara-caranya itu ada penipuan, informasi palsu, dan pemalsuan dokumen,” kata Bobi.

Tak berhenti sampai di situ saja, ditemukan pula dokumen perkawinan khususnya pada kasus dua korban yang masih berusia anak di bawah umur.

Dari data pelaporan korban yang dihimpun SBMI memperlihatkan, saat tinggal di negara asal suami atau pemesan, mereka diharuskan bekerja di pabrik dengan jam kerja panjang.

Tampak tak manusiawi, di mana mereka masih harus bekerja ketika tiba di rumah. Di mana mereka diharuskan mengerjakan pekerjaan rumah dan dan membuat kerajinan tangan untuk dijual. Seluruh gaji dan hasil penjualan dikuasai oleh suami.

Mereka mendapat ancaman, jika ingin kembali ke negara aslinya harus mengganti kerugian yang sudah dikeluarkan oleh keluarga suami.

Eksploitasi juga dilakukan oleh sindikat perekrut yang terorganisasi dengan mengambil keuntungan ratusan juta rupiah dari perkawinan pesanan ini.

Salah satu korban berhasil kabur dari suaminya di China

Pengantin Bayaran
Salah satu korban ekspolitasi WNI di China Monika. (Foto: voaindonesia)

Dari 29 kasus yang tercatat, beberapa korban berhasil kabur dari suaminya di China. Salah satunya adalah Monika, 24 tahun, asal Kalimantan Barat. Dia diiming-iming menikah dengan lelaki China yang bekerja sebagai pekerja bangunan dengan gaji besar.

“Kamu nanti di sana dibelikan emas, kirim orangtua pasti ada. Kamu berkecukupan, mereka juga memperlakukan kamu dengan baik. Kamu mau pulang di sana nanti bisa telepon kami saja nanti kami urus pulang. Kenyataannya sampai sana nggak ada,” cerita Monika, seperti dikutip dari Voaindonesia.

Monika mengaku sempat curiga dengan makcomblang ini. Sebab, dia pernah dilarang mengunggah foto perjalanan di Singkawang karena akan ketahuan polisi.

“Curiga sih. Tanya mak comblangnya, ini aman nggak sih aku menikah? Resmi nggak sih? Dia bilang kamu aman. Jadi kamu nggak perlu takut,” ujarnya.

Dia pun berangkat ke China pada September 2018 berbekal kepercayaan terhadap perantaranya. Namun, selama 10 bulan tinggal di China, dia dipaksa bekerja dan mengalami kekerasan seksual. Kata dia, perantaranya tidak bisa dihubungi.

“Makcomblangnya lari semua, nggak ada kabar semua, nggak aktif semua nomornya,” jelasnya.

Komentar
Terkini