3 skenario kubu Prabowo menangkan head to head lawan Jokowi

Pilpres 2019
Ilustrasi Jokowi vs Prabowo (terkini.id/yusventus)

Terkini.id, Makassar – Pemilihan presiden (Pilpres) akan digelar kembali pada 2019. Menjelang pilpres, head-to-head antara kubu Jokowi dan Prabowo kelihatannya meruncing.

Sejak kemenangan Jokowi atas Prabowo pada Pilpres 2014 silam, hingga saat ini, kelihatannya masing-masing pendukung Prabowo dan Jokowi terpolarisasi sebagai  dua kubu yang saling berhadap-hadapan:

Jokowi lawan Prabowo, kubu kontra aksi 212 lawan kubu yang pro aksi 212, Islam moderat-nasionalis lawan Islam garis keras, hingga simpatisan Anies melawan simpatisan Ahok, dan seterusnya.

Di atas kertas hasil survei, Jokowi selalu unggul dari Prabowo dan semua capres lain. SMRC misalnya merilis, Jokowi unggul 64,1 persen jika head-to-head melawan Prabowo yang meraih 27,1 persen.

Jokowi juga unggul 72,6 persen jika melawan Anies Baswedan yang meraih 15 persen. Demikian halnya jika melawan Gatot Nurmantyo dan Agus Harimurti Yudhoyono, Jokowi unggul dengan perolehan di atas 70 persen.

Meski begitu, tetap berbahaya bagi Jokowi, jika tidak ada yang maju jadi capres selain dirinya, alias melawan kotak kosong. Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Jakarta, Hendri Satrio, menyebut, berdasarkan survei, Jokowi kalah, karena cuma mendapat 44 persen malah.

Sementara, kubu Prabowo, meskipun secara survei kalah, tetap masih ada peluang untuk bisa menang melawan Prabowo.

Jelang Pilpres, calon presiden sudah memasang ancang-ancang dan persiapan besar untuk bisa memenangkan pertarungan besar pada tahun 2019 mendatang. Bagaimana skenarionya?

1. Dorong tiga capres

Skenario politik pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, 2017 lalu, bisa kembali digunakan kubu Prabowo pada Pilpres 2019 melawan Jokowi.

Seperti diketahui, pada Pilgub Jakarta lalu, majunya Agus Harimurti Yudhoyono, cukup sukses memecah suara Ahok. Lalu, saat gugur di putaran pertama, Agus cenderung mendukung Anies. Dengan isu sara yang kencang terhadap lawan, Ahok pun tumbang.

Dalam Pilpres 2019 mendatang, mendorong calon presiden ketiga yang nasionalis, kalangan Islam moderat, bisa membanto Prabowo membuat pecah suara Jokowi.

2. Prabowo tidak maju

Ini strategi yang banyak diprediksi orang. Penggiat media sosial, Iskandar Zulkarnaen, melakukan survei melalui statusnya. Hasilnya, lebih banyak yang memprediksi Prabowo tidak maju dibandingkan maju.

Direktur Lembaga Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti, melihat, ada kemungkinan tidak terjadinya rivalitas antara Jokowi dan Prabowo Subianto seperti 2014 lalu.

Hal ini karena melihat kecenderungan pemilih yang cenderung gampang tertarik dengan capres pendatang baru. Contohnya adalah apa yang terjadi pada Pilgub DKI Jakarta.

Menurut Ray, elektabilitas Prabowo yang cuma mencapai 35 persen, kelihatannya sulit bertambah lantaran pemilih cenderung suka bosan dengan capres yang itu-itu saja.

Dibanding Prabowo, Anies Baswedan lebih punya peluang untuk menaikkan elektabilitasnya lebih tinggi dari Jokowi, meskipun saat ini elektabilitasnya masih 1,2 persen (Poltracking).

3. Mainkan isu

Meskipun elektabilitasnya tinggi, Jokowi punya tantangan berat, karena harus melawan isu sara. Isu-isu seperti utang luar negeri yang bengkak, rupiah melemah, kenaikan BBM, hingga isu-isu hoax dan sara, sangat mempengaruhi elektabilitas bakal calon presiden petahana tersebut.

Sementara, di kubu Prabowo, memang terus menyerang banyak kebijakan pemerintah. Dengan terus menggencarkan kritik, dan isu-isu tentang pemerintah yang diktator, arogan, pro-China dst.

Berita Terkait