Menjadi minoritas, ini pengalaman mengesankan mahasiswa Indonesia saat Ramadan di Inggris

Dimulai pada agustus 2016 lalu, Trifty berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi di Northumbria Newcastle jurusan magister mass communication management. Lewat jalur beasiswa LPDP./ Dok : Pribadi

TERKINI.id, NEWCASTLE – Berpuasa merupakan kewajiban bagi umat muslim. Di mana pun berada pastinya kewajiban rukun Islam keempat ini wajib dilaksanakan.

Namun apa jadinya bila kita harus menjalanakan ibadah puasa di luar negeri, jauh dari tempat tinggal. Seperti kisah Trifty Qurrota, mahasiswi asal Indonesia yang harus menjalankan ibadah puasa di Newcastle, Inggris.

Dimulai pada agustus 2016 lalu, Trifty berangkat ke Inggris untuk melanjutkan studi di Northumbria Newcastle jurusan Magister Mass Communication Management melalui jalur beasiswa LPDP.

Sejak itu, model berhijab ini mulai berbaur dengan mahasiswa dari berbagai negara di dunia yang ikut mengenyam pendidikan di sana.

Mantan reporter Metro TV ini mengaku pengalaman pertamanya menjalankan ibadah puasa di Inggris sangat mengesankan.

Salah satunya perbedaan waktu puasa yang lebih lama yakni sembilan belas jam melewati waktu di Indonesia yang hanya 13 jam.

“Perbedaan puasa di Indonesia dengan di Inggris yang saya rasakan memang terletak hanya pada waktu dan budaya saja. Tapi saya senang sekali karena di sini saya juga berbuka puasa dengan teman-teman dari berbagai negara.” jelasnya kepada MAKASSARTERKINI.com.

Baca :Gelar operasi pasar, polisi sita 1.650 kilogram gula pasir ilegal

Trifty mengaku, setiap hari dirinya menggelar buka puasa bersama di Masjid setempat. Di Masjid, kata Triffy menu takjil dan berbuka puasanya berasal dari berbagai negara. Misalnya Algeria, Timur Tengah, India, Bangladesh, atau Afrika.

“Saya juga secara otomatis mempelajari budaya dari negara lain, khususnya kuliner. Kalau di Indonesia berbuka dengan makanan Indonesia, kalau di sini berbuka dengan makanan khas berbagai negara.” ungkapnya lagi.

Meski demikian perempuan berhijab dengan paras cantik ini juga mengaku ada beberapa kendala yang memerlukan kesabaran ekstra dalam menjalankan ibadah puasa di Inggris.

Triffy menuturkan di Newcastle, sahur dimulai pada pukul 02.40 dan berbuka pukul 21.30 malam waktu setempat. Salat tarawih baru akan dimulai pukul 23.30 malam sehingga jarak waktu tarawih dan sahur sangat dekat .

“Jadi mayoritas warga muslim di Newcastle, termasuk saya tidak tidur sejak berbuka hingga sahur, karena khawatir terlewat sahur dan salat subuhnya,” jelas gadis berusia 28 tahun ini.

Untuk menu sahur dan berbuka, gadis berdarah Sunda ini lebih senang masak sendiri bersama teman-temannya di sana. Trifty menyebutkan menu yang biasa ia dan kawannya buat adalah bakwan, sop iga sapi, sate kambing, dan kolak pisang.

Baca :Ketua MUI Makassar: Program Religi Wali Kota Harus Berlanjut

“Biasanya saya berbuka di rumah teman tapi saya juga biasa berbuka bersama teman dari berbagai negara lain di Masjid yang berbeda” katanya lagi.

Sambil menunggu waktu berbuka puasa, Trifty bersama teman temannya baik dari Indonesia maupun dari negara lain biasanya melakukan kegiatan keagamaan yang dilakukan di Fenham. Fenham adalah wilayah di Newcastle Inggris yang penduduknya mayoritas muslim.

“Saya sering mengikuti tadarus Al-Quran dan tahsin di Fenham bersama teman-teman Indonesia. Bukan hanya itu, saya juga mengikuti kelas tafsir Al-Quran bersama teman-teman dari negara lain di Newcastle Central Mosque, Fenham, Newcastle. Di kelas tafsir Al-Quran inilah saya bertemu dan berkenalan dengan muslimah dari berbagai negara, misalnya dari Inggris, Mesir, Iraq, Bangladesh, Malaysia.” jelas Trifty.

Trifty mengaku pengalaman ramadan di Inggris merupakan moment yang tidak bisa dilupakan, Toleransi antar umat beragama di Inggris juga nampak dirasakan ketika warga Inggris yang mayoritas non muslim  juga menghargai warga muslim untuk menjalanakan ibadahnya.