36822, Lambang Jasa dari Tanah Luwu

36822, Lambang Jasa dari Tanah Luwu

Terkini.id, – Sejarah perjuangan rakyat Luwu yang diperingati setiap tanggal 23 Januari, merupakan wujud nyata kebangkitan dan kesadaran masyarakat Luwu dalam mempertahankan kemerdekaan RI yang dipelopori oleh pemuda dan Kerajaan Luwu.

Andi Jemma lahir 15 Januari 1901 dari pasangan Andi Engka Opu Cenning dan Sitti Huzaimah Andi Kambo Opu Daeng Risompa, yang saat itu menjabat sebagai Manggau, Datu atau Pajung di Luwu. Setelah lahir, tak lama kemudian ayahnya Opu Cenning wafat. Selanjutnya Jemma dididik oleh ibunya dalam lingkungan istana.

Saat berusia sembilan tahun, Andi Jemma mengenyam pendidikan formal di Indianche School di Palopo. Pengalaman masa sekolah itu membuat ia dekat dengan kehidupan masyarakat bawah.
Tahun 1919, saat Jemma berusia 18 tahun, ia dipercayakan untuk memimpin suatu daerah dalam wilayah kedatuan Luwu di Sulawesi Tenggara, yakni di Ngapa sebagai Sulewatang. Ia kemudian lebih dikenal sebagai Sulewatan Ngapa.

Setelah memerintah Ngapa selama tiga tahun, beliau dipindahkan ke Palopo untuk menjadi Sullewatang Ware yang dijabat sejak 1 Oktober 1924. Di samping itu, beliau juga merangkap sebagai wakil Datu Luwu yang bergelar Opu Cenning yang saat itu dipegang oleh ibunya, Daeng Risompa.

Sebelas tahun kemudian, Datu Luwu Daeng Risompa wafat dan Jemma diangkat menjadi Datu Luwu menggantikan ibundanya. Pengangkatan Andi Jemma sebagai Datu Luwu kurang mendapat respon dari Pemerintah Hindia Belanda, sehubungan dengan penolakan Datu untuk mengibarkan bendera Belanda dan bersikeras untuk tetap mengibarkan merah putih di ranah Luwu.

Tanggal 17 Januari 1946 oleh Pemuda Republik Indonesia (PRI) dibentuk Dewan Keamanan Rakyat atas restu Datu. Tujuannya merupakan komando pertempuran menghadapi tentara Belanda/Australia (NICA). Puncak dari perlawanan terhadap NICA terjadi enam hari setelahnya, yaitu tanggal 23 Januari yang kemudian ditetapkan sebagai hari jadi Luwu.
Sayangnya, perjuangan Datu ini dinodai oleh ketidaksetiaan salah satu pengikutnya. Lokasi persembunyian Datu dan laskarnya di Batu Pute, bocor ke Belanda hingga ia dikepung oleh tentara NICA dan ditangkap tanggal 2 Juni 1945.

Datu dibawa ke Bone dan diadili oleh Mahkamah Hadat Tinggi buatan Belanda, putusan pengadilan memvonis Datu 25 tahun pembuangan dan diasingkan ke Ternate. Selama dalam masa pengasingan, Andi Tenri Padang Opu Datu, istri Datu yang merupakan anak dari Andi Mappanyukki, Raja Bone terakhir, selalu setia mendampingi beliau.

Selama dua tahun dalam masa peng-asingan, Datu dibebaskan dan tiba di pelabuhan Makassar tanggal 1 Maret 1950. Beberapa bulan kemudian Datu dan permaisurinya dapat undangan dari Presiden Soekarno di Jakarta. Sekembalinya dari sana, Datu kembali dikukuhkan se-bagai Datu Luwu pada bulan April 1950. Tahun 1953, Datu diangkat menjadi penasihat Gubernur Sulawesi. Tahun 1957, Datu diangkat menjadi Kepala Swapraja di Luwu.

Menghargai kesetiaan pada negara Republik Indonesia, Presiden Soekarno menganugerahi Datu tanda jasa pahlawan nomor 36822 tanggal 10 November 1958. Demikian halnya permaisuri A. Tenri Padang Opu Datu, atas kesetiaannya mengikuti Datu bergerilya di tempat pembuangan, Presiden menganugerahi penghargaan yang sama dengan nomor 96633.

Akhirnya setelah sakit beberapa lama, Datu wafat di kediamannya di Jongaya pada tanggal 23 Februari 1965. Datu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang dengan upacara kenegaraan dan kebesaran militer.

(MT- Teks & Foto: Dok. Makassar Terkini)

Komentar

Rekomendasi

Gubernur Anies Sebut Perayaan Cap Go Meh Perkuat Persatuan Warga

Cheng Ho, Bahariawan Muslim Tionghoa yang Berjasa Sebarkan Islam di Nusantara

Opera Beijing, Seni Mahakarya Tiongkok yang Diakui Dunia

Dicekal Orba, Saat Ini Barongsai Lebih Banyak Dimainkan Non Tionghoa

Tionghoa Indonesia, Asimilatif Sejak Migrasi Nenek Moyang Tiongkok ke Nusantara

Unik, Ini Sejarah Taucang Kuncir Khas Tiongkok Era Dinasti Qing

Patung Singa Khas Tiongkok, Makna bagi Masyarakat Tionghoa

Asimilasi Tionghoa Makassar Tempo Doeloe, Makan Nasi Aking hingga Binatu Keliling

Ramai Soal ‘di Bulukumba Hanya Ada Bahasa Bugis-Makassar’ Begini Penjelasan Andi Mahrus

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar