4 Fakta Ketangguhan Kolom Kosong di Pilkada Makassar

kolom kosong, kota makassar, appi-cicu
Ilustrasi Appi-Cicu Lawan Kolom Kosong

Terkini.id, Makassar – Sejak Komisi Pemilihan Umum (KPU) memastikan cuma satu pasangan calon dalam Pilkada Kota Makassar, saat itulah kampanye kolom kosong mulai digencarkan di kota ini. Lawannya Appi-Cicu.

Fenomena kolom kosong atau biasa juga disebut kotak kosong di Makassar sebenarnya berbeda dari fakta kolom kosong yang terjadi di daerah-daerah lain.

Bedanya, paslon tunggal yang maju, Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi atau Appi-Cicu, harus melawan kotak kosong bukan karena terlalu tangguh.

Appi-Cicu, pada Maret lalu tercatat meraup elektabilitas yang cuma 18,8 persen versi CRC. Atau, kalah jauh dibanding lawannya, Danny Pomanto-Indira yang unggul 71,8 persen.

Appi-Cicu bisa menjadi paslon tunggal, karena sukses memenangkan gugatan meja PT-TUN hingga MA terkait pelanggaran Pemilu yang dilakukan Danny. Hingga akhirnya pasangan calon tersebut harus didiskualifikasi dari Pilkada Makassar.

Pada hari pemungutan suara 27 Juni lalu, kolom kosong dinyatakan menang oleh beberapa lembaga survei. Lembaga survei Indeks Politika misalnya menyatakan Kolom Kosong menang 53,79 persen, sedangkan Appi-Cicu meraup 46,21 persen.

Terkini.id menghimpun beberapa fakta yang menunjukkan tangguhnya kolom kosong di Makassar:

1. Kemenangan Kolom Kosong Sempat Disebut Hoax

Adalah salah satu media online nasional, Republika, merilis berita tentang pernyataan Wakapolri, Komjen Syafruddin, bahwa kemenangan kolom kosong di Makassar adalah hoax.

Pernyataan Wakapolri tersebut disampaikan pada Kamis 28 Juni 2018 lalu. Media tersebut menyampaikan, bahwa kemenangan kolom kosong berdasarkan survei CRC tidak sesuai fakta di lapangan.

Disebutkan juga, bahwa hasil survei Tim Pengamanan Pilkada Mabes Polri mencatat, pasangan calon (paslon) wali kota-wakil wali Kota, Munafri Arifuddin-Rachmatika Dewi (APPI-CICU), tercatat unggul tipis dalam perolehan suara Pilkada Kota Makassar 2018.

Munafri-Rachmatika disebutkan menang 51,07 persen. Sementara itu, kolom kosong mendapat suara sebanyak 48,93 persen.

Sehari setelah itu, Pihak Polri mengklarifikasi. Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) Kombes Dicky Sondani menyatakan, tidak ada anggota polisi yang mengatakan hasil hitung suara pemilihan wali kota Makassar pada pilkada 2018.

Dicky juga menyatakan tugas polisi adalah pengamanan, bukan perhitungan suara pilkada.

“Ada berita dari Mabes Polri yang menyatakan pemenangnya adalah tim ini, itu enggak benar, tolong diluruskan,” kata Dicky kepada Republika.

Nyatanya, kolom kosong hampir pasti menang berdasarkan quick count sejumlah lembaga survei.

2. Kampanye Kerugian Negara Jika Pilih Kolom Kosong

Sebelum Pilkada di Makassar dimulai, salah satu isu besar yang dikampanyekan pendukung Appi-Cicu adalah kerugian negara yang besar jika memenangkan kolom kosong.

Hal itu karena, jika kolom kosong yang menang dengan hasil di atas 50 persen, Pilkada akan diulangi pada periode selanjutnya.

Jika Pilkada diulang, negara paling tidak membuang uang Rp 60 miliar. Itu karena biaya Pilkada Makassar 2018 ini sudah menghabiskan Rp 60 miliar. Jika digelar lagi di 2020, berarti Rp 120 Miliar.

3. C1 Diduga Dimanipulasi, Kolom Kosong Tetap Menang

Fakta ketiga ini yang paling menarik. Hal itu karena terungkapnya sejumlah fakta perbedaan hasil rekapitulasi antara dokumen C-1 di sejumlah TPS di Makassar, dengan hasil yang tayang di situs real count milik KPU Makassar.

Ada belasan TPS yang beda hasil rekapnya di situs real count KPU. Sebagai contoh, rekap C1 di TPS 6 Bontoduri, Kecamatan Tamalate, tercatat Appi-Cicu 98 suara dan kolom kosong 138 suara. Tetapi di website, Appi-Cicu menang 238 suara, dan kolom kosong cuma 1 suara.

Hal yang sama juga terjadi di beberapa TPS menurut versi website KPU. Bahkan, dilaporkan, menurut versi website, suara kolom kosong hilang hingga 10.000, dan suara Appi-Cicu bertambah.

Baca juga: Cerita Nurdin Abdullah Jadi Tukang Pel Sekolah dan Jualan Batu

Menariknya, meskipun dugaan manipulasi data dilakukan di website KPU dengan menghilangkan sekitar 10.000 suara kolom kosong, nyatanya kolom kosong menurut versi website KPU tersebut tetap menang.

Dengan suara masuk hingga 80,41 persen di situs KPU Kota Makassar, 29 Juni lalu, Appi-Cicu memperoleh 47,5 persen suara, sedangkan kolom kosong 52,50 persen.

4. Menang Lawan Appi-Cicu dan 10 Parpol

Meskipun didukung banyak partai politik, Appi-Cicu tetap kalah melawan kolom kosong di Kota Makassar.

Sepuluh Parpol yang mengusung Appi-Cicu tersebut antara lain Partai Golkar, Nasdem, Hanura, PAN, PBB, PKPI, PDIP, Gerindra, PKS, dan PPP.

Komentar

Rekomendasi

Muhammad Ismak Maju Atau Mundur di Pilwali Makassar 2020?

Kantongi Rekomendasi PDIP, Tomy Satria Bangun Komunikasi Dengan Partai Lain

Palsukan KTP Masyarakat, Calon Perseorangan Pilwali Makassar Bisa Dipidana

PDIP Usung Tomy-Makkasau di Pilkada Bulukumba, Basli-Syaiful di Selayar

SAdAP Bakal Setor 100 Ribu e-KTP ke KPU Makassar

Syarifuddin Daeng Punna Ambil User Silon Perseorangan di KPU Makassar, Ini Calon Pendampingnya

PDIP Akan Serahkan Rekomendasi Untuk Pilkada Bulukumba dan Selayar

Ternyata Ini Nama Asli Mendiang Suami BCL, Ditulis Sang Perancang Busana

Ashraf Sinclair Suami BCL Meninggal, Baim Wong: Jangan Menunda-nunda Ibadah

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar