4 Skenario SBY Bisa Jadi Cawapres Prabowo, dan JK Kembali Cawapres Jokowi

Terkini.id, Makassar – Hingga lebih dari sepekan menjelang batas waktu pendaftawan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden, 10 Oktober mendatang, setidaknya sudah ada dua nama bakal capres yang pasti, dan kemungkinan kembali head-to-head.

Jokowi dan Prabowo dipastikan akan kembali bertarung dalam Pilpres 2019 mendatang.

Namun, hingga saat ini, kedua bakal capres tersebut belum mau mengumumkan atau belum memutuskan siapa yang menjadi capresnya.

Jokowi sendiri, didukung sembilan Parpol, mengaku sudah mengantongi satu nama, tetapi belum mau mengumumkan calon wapres tersebut.

Sementara, Prabowo yang baru-baru ini mendapat dukungan Partai Demokrat, juga belum memutuskan siapa Calon Wapresnya.

Dua nama yang diajukan berdasarkan hasil Ijtima Ulama, yakni Ustaz Abdul Somad dan Salim Assegaf. Tetapi tim koalisi Prabowo belum menentukan siapa orangnya.

Tetapi ada yang menarik saat debat Indonesia Lawyers Club yang berlangsung di salah satu televisi swasta, Rabu 1 Agustus 2018.

Dalam diskusi tersebut, disebutkan, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, atau SBY bisa jadi calon Wapres Prabowo.

Demikian halnya Jusuf Kalla yang bisa kembali jadi Wapres Jokowi. Loh, bukannya JK terganjal aturan yang melarang wapres lebih dari dua kali?

Berikut skenarionya:

1. SBY Selalu Menang Jika Turun Langsung

Mantan Kader Partai Demokrat yang saat ini menjadi Wakil Ketua Partai Hanura Gede Pasek, mengungkapkan, pertarungan Pilpres 2019 sejatinya pertarungan antara Megawati dan SBY.

“Pengalaman selama ini, Megawati itu kalah kalau terjun langsung bertarung. Tapi menang ketika menjadi king maker (contohnya saat mengusung Jokowi Capre 2014),” jelas dia.

Sementara, SBY dua kali menang saat terjun langsung jadi Capres. Tapi kalah jika cuma menjadi king maker atau mengusung calon.

2. SBY Bisa Berpikir Jadi Cawapres

Gede Pasek melanjutkan, jangan dikira SBY yang merupakan mantan Presiden RI dua periode, tidak berpikiran untuk maju lagi menjadi Cawapres. Itu bisa saja dia pikirkan.

Gede menceritakan, saat dirinya masih kader Demokrat, dirinyalah yang mengusulkan, agar SBY menjadi Ketua Umum Partai. Itu pada saat Anas Urbaningrum didepak dari kursi ketua umum, dan tidak ada yang dinilai layak menggantikannya.

Padahal, SBY merupakan pendiri partai. Usulan Gede tersebut banyak dibantah dan ditolak oleh para kader, mengingat posisi ketua umum seharusnya diberikan kepada kader-kader yang muda. Namun ternyata, SBY menerima usulan itu dan menjadi Ketua Umum Partai.

3. Gugatan Perindo ke MK

Lalu bagaimana peluang Jusug Kalla? Nah, Seperti diketahui, Partai Perindo saat ini mengajukan uji materi syarat Calon Wapres yang bisa memungkinkan Jusuf Kalla maju lagi sebagai calon Wapres.

Sayangnya, Partai Perindo dinilai tidak punya legal standing untuk mengajukan gugatan tersebut, dan kemungkinan gugatannya ditolak.

Hal itu karena Partai Perindo bukanlah peserta Pemilu 2014 lalu, dan belum punya kursi atau suara untuk Pilpres 2019, sehingga belum berhak mengajukan calon presiden. Makanya, Perindo tidak berkepentingan karena aturan yang digugat tidak merugikan pihak Perindo.

Tetapi, pengamat politik Effendy Gazali punya pandangan berbeda. Menurutnya, gugatan Perindo bisa saja diterima. Apa alasannya? cek poin selanjutnya.

4. Gugatan President Threshold 2019

Effendy Gazali, yang merupakan Direktur Pengabdian Masyarakat Studi Pengembangan Talenta dan Brainware Universitas Indonesia (SPTB UI), sebelumnya menggugat Pasal 222 Undang-undang Nomor 7 tahun 2017 tentang Pemilihan Umum ke Mahkamah Konstitusi.

Effendy menggugat Pasal 222 UU Pemilu berbunyi: “Pasangan calon yang diusulkan Partai Politik atau gabungan Partai Politik peserta Pemilu yang memenuhi persyaratan perolehan kursi paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPR atau memperoleh 25 persen suara sah secara nasional pada Pemilu anggota DPR sebelumnya”.

Menurut dia, persyaratan kursi 20 persen atau presidential threshold 20 persen itu membuat pertarungan Pilpres seperti adu tinju. Selalu cuma dua yang bertarung. Sehingga sangat sedikit calon presiden hebat dan layak yang bisa maju karena harus mengumpulkan dukungan minimal 20 persen kursi di DPR.

Selain itu, masyarakat Indonesia sudah dibohongi, karena pada Pileg 2014 lalu, mereka tidak tahu suaranya akan digunakan juga untuk syarat presidential threshold Pilpres 2019.

Permohonan Gazali tersebut telah diregistrasi oleh MK, Senin lalu.

Nah, jika gugatan tersebut diterima, dan presidential threshold 20 persen dihapus, maka otomatis Perindo punya legal standing untuk mengajukan gugatannya ke MK terkait syarat cawapres.

Apakah prediksi SBY jadi Cawapres Prabowo bisa terwujud sebagaimana prediksi JK bisa jadi Cawapres Jokowi pada 2018? Kata Effendi, tunggu saja sampai tanggal 10 bulan 10 pukul 10.00 medatang.

Komentar

Rekomendasi

Konvensi Hanura, Danny Pomanto Paparkan Pencapaiannya Memimpin Makassar

SBY Dikabarkan Lengser dari Jabatan Ketua Umum Demokrat, AHY Penggantinya?

Adnan Minta Restu Ibu dan Ziarah ke Makam Ayahnya Sebelum Deklarasi

Adnan-Kio Bakal Deklarasi, Warga Gowa Mulai Padati Gedung Haji Bate

Komisi E DPRD Sulsel Kunjungi RS Regional Hasri Ainun Habibie

Jadi Narasumber, JMS: Pemilik Ide dan Gagasan adalah Guru-guru Besar

Nurdin Halid Masih Diinginkan Memimpin Golkar Sulsel

Kongres PAN Ricuh, Peserta Baku Lempar Kursi

Posisi Ketua Golkar Sulsel Digoyang, Nurdin Halid: Itu Kelompok Sotta

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar