6 Tips dari Sandiaga Uno untuk Warga Indonesia Terkait Kenaikan Dolar

Sandiaga Uno (riauonline), dolar amerika
Sandiaga Uno

Terkini.id, Makassar – Seperti diketahui, hadiri ini nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat sudah tembus di angka psikologis, Rp 15.000/dollar.

Sejumlah sektor usaha yang terkait dengan mata uang dolar, mulai ancang-ancang mengatur strategi untuk tetap bisa bertahan di tengah ancaman krisis ini.

Kantor-kantor sekuritas misalnya sudah membriefing para ekonomnya. Intinya, mereka harus menjaga kondisi ekonomi perusahaan dan pribadi karena pengaruh Turki yg inflasinya sampai 20 persen, hingga perang dagang USA VS China.

Di Indonesia, penguatan nilai dolar tentu memberi dampak terhadap ekonomi dalam negeri.

Contohnya, kenaikan harga dari barang-barang berbahan baku impor, seperti tempe (kedelai), roti (gandum), gas elpiji, BBM, hingga barang-barang elektronik seperti ponsel.

Nah, ada bebarapa saran dari Sandiaga Uno, pengusaha yang dikenal jago investasi saham. Ini beberapa sarannya:

1. Meminimalkan semua pengeluaran yang sifatnya konsumtif (cicilan elektronik, mobil, nyicil makan di restoran, dll)

2. Karena saham lagi pada jeblok, jangan transaksi saham dulu. Hindari sementara bermain saham.

3. Lebih baik simpan dalam bentuk emas dibanding cash (deposito, dll).

4. Usahakan punya cash untuk operasional minimal 6 bulan kedepan. “Ada kemungkinan inflasi dan ekonomi tahun 2008 terulang kembali. Kecuali yang gajinya USD (dolar) malah bagus karena USD VS Rupiah makin tinggi,” ujar Sandiaga.

5. Kalau mau mulai investasi, teran Sandiaga lagi, usaha baru atau proyek-proyek fisik, lebih baik tahan diri dulu minimal 6 bulan kedepan. “Tetangga kita seperti Malaysia, Thailand, Vietnam sudah mulai suffer kena imbas akibat Turki dan Eropa,” katanya lagi.
Dia menyebut, Pertamina dan PLN saja skarang diminta hold/freeze proyek-proyek sampai 6 bulan mendatang.

6. Dia juga menambahkan, usahakan gaya hidup sederhana dan ekonomis dan tetap menabung. Kemungkinan banyak yg terkena PHK dan inflasi tinggi akibat Turki dan perang dagang USD vs China.

“Ini pesan saya untuk semua warga Indonesia yang kerja maupun yang masih mencari kerja,” tutupnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini