74 Tahun Indonesia, Merdeka dalam Penindasan

TANGGAL 17 Agustus 2019, bangsa Indonesia dari Sabang sampai Marauke memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-74 tahun.

Berbagai macam bentuk kegiatanpun dilakukan dalam rangka memperingati hari proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang serentak dilakukan di seluruh penjuru tanah air.

Mulai dari berbagai macam acara dan kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah daerah samapi pada pemerintah pusat dalam bentuk pesta rakyat dan acara festival lainnya guna menambah kemeriahan dan menarik simpatisan masyarakat umum untuk turut terlibat merayakan peringatan HUT RI yang ke 74 tersebut.

Namun ironisnya ditengah-tengah semarak kemeriahan dalam rangka HUT RI menyimpan banyak cerita pilu bagi masyatakat Indonesia.

Diusianya yang ke-74 Tahun ini Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dianggap belum bisa dan mampu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara maju di dunia.

Dilihat dari masih banyaknya persoalan dan ketimpangan yang terjadi di seluruh penjuruh tanah air, mulai dari banyaknya permasalahn sosial bagi masyarakat Indonesia, seperti akses pendidikan, permasalahan ekonomi masyarakat dan masih banyak lainnya.

Belum lagi dengan permasalahan yang sudah tak asing lagi terdengar di bumi pertiwi ini, yakni permasalahan para pejabat yang melakukan tindakan korupsi dan merampas hak masyarakatnya sendiri, bisa dilihat dengan tak henti-hentinya pemeberitaan di berbagai media massa yang memberitakan pejabat negara yang korup.

Berdasarkan hasil kajian bersama antara Indonesian Corruption Watch (ICW) dan Transparency International Indonesia (TII) ada sebanyak 18 kasus korupsi lama dan skala yang relatif besar dalam kurung waktu terakhir ini yang beberapa diantaranya belum dituntaskan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK)

“Kami mencatat paling tidak masih ada 18 perkara korupsi yang cukup besar yang masih ditunggak penyelesaiannya oleh KPK,” kata Peneliti ICW Kurnia Ramadhana dalam diskusi Evaluasi Kinerja KPK 2015-2019 di Kantor ICW, Jakarta, Minggu (12/5/2019).

Beberapa dari 18 kasus itu seperti kasus suap perusahaan asal Inggris, Innospec, ke pejabat Pertamina; bailout Bank Century; proyek pembangunan di Hambalang; suap pemilihan Deputi Gubernur Bank Indoneia; proyek Sistem Komunikasi Radio Terpadu di Kementerian Kehutanan.

Kemudian, kasus hibah kereta api dari Jepang di Kementerian Perhubungan; proyek pengadaan alat kesehatan di Kementerian Kesehatan; suap Rolls Royce ke pejabat PT Garuda Indonesia; Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI); proyek pengadaan kartu tanda penduduk berbasis elektronik (e-KTP); hingga kasus Pelindo II.

Bisa dinilai sendiri dari banyaknya kasus korupsi di negeri ini yang mengakibatkan kerugian negara mencapai puluhan triliunan Rupiah, yang tentunya sangat berdampak bagi kedaulatan ekonomi negara dan sangat merugikan seluruh masyarakat Indonesia.

Inikah yang diharapkan dan dicita-citakan para pendiri bangsa ini ? 74 Tahun sudah negara Indonesia diproklamasikan, diusianya yang kini menginjak 74 Tahun, Indonesia bisa apa ? Apa yang diharapkan masyarakat indonesia untuk kemajuan negeri ini ?

Dalam salah satu pidatonya sang Proklamator sekaligus Presiden pertama di negeri ini Ir. Soekarno mengatakan “berikan aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia” , namun apalah daya 7 dari 10 pemuda yang dikhitahkan oleh sang proklamator untuk dapat menguncangkan dunia, kini terhambat oleh akses pendidikan yang kian hari mangkin menguburkan mimpi-mimpi jutaan anak mudah diseluruh tanah air untuk kemajuan bangsa ini.

Jutaan anak-anak dan pemuda di seluruh pelosok tanah air tak bisa merasakan manisnya mengenyam pendidikan dan harus menguburkan mimpinya akibat akses pendidikan, diantaranya minimnya fasilitas pendidikan yang belum merata menjadi salah satu penyebab utamanya, dan alhasil banyak anak-anak Indonesia yang putus sekolah hari ini.

Kemudian pada tingkatan perguruan tinggi, akibat kebijakan pemerintah dan Birokrasi Kampus yang menetapkan biaya perkuliahan yang kian hari mangkin naik mengakibatkan jutaan pemuda tak bisa melanjutkan pendidikanya dibangku perkuliahan.

Padahal dilain sisi pendidikan merupakan salah satu sektor yang sangat mendukung dan penting untuk kemajuan suatu negara, oleh karena daripada itu pemerintah harusnya memberikan perhatian lebih untuk segera membenahi sistem pendidikan di negeri ini agar dapat bersaing dengan negara-negara yang sudah maju dan untuk mengimplementasikan amanah dari pembukaan UUD 1945 yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa”

Apa arti kemerdekaan yang kita peringati setiap tahunnya jika masih banyak persoalan dan ketimpangan yang melilit bangsa ini, 74 Tahun sudah negara ini merdeka namun masih banyak masyarakat Indonesia yang belum bisa merasakan arti kemerdekaan yang sesungguhnya.

Yaitu merdeka dari kemiskinan, merdeka dari perampasan hak, merdeka dari kesenjangan sosial, merdeka dari penderitaan, merdeka dari penindasan pemerintahnya sendiri dan masih banyak lainnya persoalan yang menjadi cerita memilukan bagi masyarakat Indonesia.

Melalui momentum hari ulang tahun Indonesia yang ke 74 tahun ini, Semoga ada solusi yang kongkrit dari pemerintah dan para pejabat negara yang duduk dikursi mewah gedung-gedung perwakilan rakyat
atas segala persoalan dan ketimpangan yang masih terjadi di negeri kita tercinta Indonesia.

Sudah terlalu lama bangsa ini merindukan kehormatan sebagai bagsa yang kuat yang tak mudah didikte oleh asing,
sudah saatnya indonesia menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri.
Cita-cita untuk membangun kedaulatan dan tegaknya martabat bangsa menjadi renungan bagi kita bersama.

Banyaknya perusahan-perusahan asing yang masuk dan merampas hak masyarakat menjadi bukti nyata penindasan di negeri ini, seharusnya pemerintah melindungi kedaulatan masyarakatnya sendiri guna terciptanya bagsa yang berdaulat dan maju.

Dan teruntuk para pemuda dan mahasiswa yang disebut-sebut sebagai agen perubahan tetaplah senantiasa mengawal kebijakan Pemerintah yang tidak pro bagi rakyat, dan agar kemudian dapat berkontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara.

Diam dan hanya menjadi penonton, ataukah bertindak dan menjadi pelaku sejarah.

Diam tertindas atau bangkit melawan

Hidup mahasiswa…
Hidup rakyat…
Panjang umur perjuangan !

Vanto kun

Berita Terkait
Komentar
Terkini