Kapolri Mutasi Ferdy Sambo, Ahmad Khozinudin: Dia Sudah Dikandangin

Terkini.id, Jakarta – Advokat muslim, Ahmad Khozinudin ikut menanggapi keputusan Kapolri Jenderal Listyo Sigit yang melakukan mutasi terhadap sejumlah pejabat tinggi kepolisian termasuk Irjen Pol Ferdy Sambo imbas kasus kematian Brigadir J.

Ahmad Khozinudin pun lewat unggahan videonya di kanal YouTube pribadinya, seperti dilihat Terkini.id pada Jumat 5 Agustus 2022, menyebut keputusan Kapolri mutasi Ferdy Sambo itu memiliki arti bahwa mantan Kadiv Propam Polri itu sudah ‘dikandangin’.

Dilihat dari video berjudul ‘Live, Kapolri Lakukan Mutasi Usai Bharada E Tersangka’ tersebut, Ahmad Khozinudin awalnya menyebut bahwa Kapolri telah menindaklanjuti kasus Brigadir J dengan melakukan mutasi besar-besaran.

Baca Juga: Soal Tewasnya Brigadir J, Sesepuh Polri: Kasus Ini Sangat Memalukan...

“Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menindalanjuti dengan melakukan mutasi besar-besaran di internal Mabes Polri dan yang paling banyak kena di Divisi Propam Polri,” ujar Ahmad.

Ia pun mengungkapkan, Kapolri telah memutasi sebanyak 15 pejabat di lingkungan Polri.

Baca Juga: Kuasa Hukum Bharada E Sebut Sudah Kantongi Nama Pelaku Terkait...

Dari 15 pejabat Polri itu, menurut Ahmad, dua di antaranya merupakan pejabat penting yang sebelumnya telah dinonaktifkan.

Salah satu dari pejabat tinggi Polri yang dimutasi itu, kata Ahmad, yakni Irjen Pol Ferdy Sambo yang dipindahkan dari Kadiv Propam Polri ke bagian pelayanan markas atau Yanma.

“Total 15 pejabat di lingkungan Polri yang dimutasi oleh Kapolri. 2 pejabat yang penting yang sebelumnya dinonaktifkan pertama adalah Irjen Pol Ferdy Sambo dari Kadiv Propam dipindahkan jadi perwira ke Yanma, pelayanan markas,” tuturnya.

Baca Juga: Kuasa Hukum Bharada E Sebut Sudah Kantongi Nama Pelaku Terkait...

Menurut Ahmad, jika seorang perwira tinggi ditarik ke Yanma tersebut maka sama saja yang bersangkutan sudah ‘dikandangin’.

Pasalnya, kata dia, perwira yang ada di Yanma sama sekali tak memiliki kewenangan apapun atau dalam artian tidak lagi punya kekuatan di internal Polri.

“Untuk diketahui, kalau perwira tinggi ditarik ke Yanma sama saja sudah ‘dikandangin’. Artinya, Yanma itu tidak punya kewenangan, tidak lagi punya power,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ahmad menjelaskan jika seorang pejabat Polri dimutasi ke posisi yang memiliki kewenangan maka hal itu merupakan mutasi biasa.

Namun, lanjut Ahmad Khozinudin, apabila ada pejabat Polri dimutasi oleh Kapolri ke Yanma seperti nasib Ferdy Sambo maka berarti yang bersangkutan sedang bermasalah.

“Kalau setiap pejabat dimutasi ke posisi yang punya kewenangan itu berarti mutasi biasa, tapi kalau satu pejabat Polri dimutasi dan ditaruh ke Yanma, berarti itu biasanya (pejabat yang bersangkutan) ada masalah,” ujarnya.

Bagikan