Terkini.id, Jakarta – Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sempat disorot karena videonya yang menolak pindah ibu kota beredar.
Dia pun meluruskan video lawas tersebut, karena beda dengan konteks dan pertanyaan.
Seperti diketahui, video Ahok yang tidak sepakat Ibu Kota pindah, direkam saat dia masih menjabat Wakil Gubernur DKI Jakarta, 2013 silam.
Dalam video tersebut, Ahok mengungkapkan, pindah Ibu Kota dengan menghabiskan duit Rp 800 triliun tidak begitu efektif. Lebih baik uang tersebut digunakan untuk mengatasi mace, seperti membuat loopline kereta api yang cuma Rp 30 triliun, hingga pengadaan bus gratis.
Menurut Ahok, video lawas yang beredar itu ibarat politik gaya kolonial.
- Duh! Pindah Ibu Kota Sama Artinya Putuskan Sejarah Jawa dan Sunan Gunung Jati, Ini Penjelasan Rizal Ramli
- Sebut Banyak Tanda-Tanda Alam di Kaltim, Mustofa Nahra: Batalkan Pindahan Ibu Kota!
- Imbas Ibu Kota Baru, Harga Tanah Dekat Nusantara Naik 10 Kali Lipat
- Komunitas Warung Tegal Nusantara Tolak Ibu Kota Pindah, Berikut Pernyataan Sikapnya
Dilansir dari detikcom, Ahok menjelaskan sikapnya soal rencana pemindahan ibu kota yang sudah diumumkan Jokowi.
BTP, sapaan lain Basuki, menyebut beredarnya video lama tersebut seperti politik peninggalan kolonial Belanda.
“Itulah politik peninggalan kolonial Belanda. Maunya adu domba dengan konteks berbeda dan pertanyaan yang tidak sama,” kata Ahok lewat pesan singkat.
Ahok berpendapat pemindahan ibu kota tidak tepat jika alasannya ingin lari dari masalah yang ada di Jakarta seperti macet dan lainnya.
Menurut Ahok, pemerintah di era Jokowi ingin memindahkan ibu kota bukan lah untuk menghindari kemacetan.
“Buat saya, pindah ibu kota karena lari dari masalah kemacetan saja jelas nggak tepat. Pak Jokowi dari dulu mengatakan pindah ibu kota bukan hindari kemacetan. Karena Jakarta tetap harus dibangun transportasinya, sebab akan jadi pusat bisnis dan jasa,” ujar politikus PDIP ini.
Dia kemudian menyertakan dua tulisan tentang pengumuman Jokowi soal pemindahan ibu kota.
Tulisan pertama berisi alasan pemindahan ibu kota untuk mengurangi beban Jakarta dan Jawa serta yang kedua berisi pernyataan Jokowi bahwa Jakarta akan tetap menjadi prioritas pembangunan.
“Alasan pindah ibu kota beda sekali dengan pertanyaan dalam wawancara dengan aku,” ujar Ahok.
“Pindah ibukota bukan untuk lari dari masalah tetapi untuk pemerataan pembangunan keluar dari Jawa itu benar,” sambungnya.
Pengumuman pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur ini diumumkan Presiden Jokowi pada Senin 26 Agustus 2019. Lokasi ibu kota baru itu sebagian berada di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara.
“Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanaegara Provinsi Kalimantan Timur,” ujar Jokowi di Istana Negara, Jakarta.
Dapatkan update berita terkini setiap hari dari Terkini.id. Mari bergabung di Saluran Whatsapp "Terkinidotid", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/terkinidotid, kemudian klik ikuti.