Alasan BI Sulsel Soal Pertumbuhan Kredit Tidak Terlalu Tinggi di 2019

Dwityapoetra S Besar

Terkini.id, Makassar – Bank Indonesia memproyeksi pertumbuhan kredit di Sulawesi Selatan lebih realistis pada 2019.

Direktur Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Dwityapoetra S Besar, menjelaskan, Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan kredit pada 2019 sebesar 8-10 persen dari tahun sebelumnya (year-on-year/yoy).

“Kalau kita lebih realistis, di antara 8 hingga 10 persen BI,” ujar Dwityapoetra di usai dilaturahmi bersama media di Cafe The Boss, Rabu 26 Desember 2018.

Angka itu dengan melihat turunnya pertumbuhan kredit sejak beberapa tahun lalu.

“Pada 2017, pertumbuhan kredit di Sulsel mencapai kredit tumbuh 8,9 persen. Tahun ini sekitar 6 persen,” terangnya.

Seperti diketahui, hingga bulan Oktober 2018, tercatat kredit di Sulsel tumbuh 5,59 persen year on year (yoy) menjadi Rp 118,25 triliun.

Dana Pihak Ketiga Melambat

Salah satu penyebab melambatnya pertumbuhan kredit adalah melambatnya pertumbuhan simpanan masyarakat di bank.

Dana Pihak Ketiga mengalami perlambatan sejak 2012 silam.

“Kalau dana di bank melambat, tentu kredit yang disalurkan juga ikut melambat,” terang dia.

Saat ini, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan di Sulsel tumbuh 5,89 persen (yoy) pada Oktober 2018, dengan nominal Rp93,67 triliun.

DPK terdiri dari giro Rp 13,91 triliun, tabungan Rp 49,71 triliun, dan deposito Rp 30,04 triliun.

Suku Bunga

Tahun 2019, menurut Dwityapoetra, BI menerapkan kebijakan ‘Preemptif dan Ahead the Curve’. Maksudnya mengantisipasi atau mendahului situasi.

Menurut Poetra, BI cenderung mengamati kebijakan suku bunga The Fed yang berpeluang naik dua hingga tiga kali pada tahun 2019.

Dengan kenaikan itu, ada kemungkinan kenaikan suku bunga di dalam negeri untuk menjaga kestabilan pasar uang. Jika suku bunga naik, tentu kredit juga susah untuk tumbuh lebih kencang.

The Fed

Kebijakan suku bunga The Fed, menjadi perhatian besar Bank Indonesia dalam mengambil langkah-langkah kebijakan moneter di tahun 2019.

“Beberapa indikator yang mempengeruhi kebijakan The Fed, mulai dari tekanan inflasi Amerika Serikat, Indeks PMA, terutama penyerapan tenaga kerja. Belum lagi ketidakpastian yang dipicu perang dagang Amerika-China, government shutdown yang dipicu pembangunan tembok meksiko. Ini semuanya mempengeruhi pengeluaran anggaran pemerintah,” kata dia.

Anggaran Pemerintah

Menurut Dwityapoetra, faktor-faktor yang bisa mempengaruhi pertumbuhan kredit mungkin bisa pemerintah, berupa adanya penerimaan gaji 13-14 para PNS, penerimaan THR dan lain-lain.

“Tapi itu tidak banyak, tidak cukup besar meningkatkan simpanan di bank,” katanya.

Untuk bisa memacu pertumbuhan kredit, bank diminta untuk memperbesar ekspansi kredit di sektor perdagangan, pertanian perikanan kehutanan dan konstruksi.

“Bank kalau tidak suplai kredit ke sektor itu, tambahan ekspansi kreditnya terbatas,” tambahnya lagi.

Berita Terkait