Alhamdulillah, Saya Lahir Tahun Pelita

Ilustrasi

Terkini.id,Makassar – Anak milenial tentu tak cukup banyak yang tahu bagaimana cara membuat pelita minyak tanah atau pelita dari minyak goreng. Mereka harus membuka google atau youtube untuk belajar. Mereka tak tahu dan tak kenal, bagaimana hitamnya lubang hidung orang-orang seperti kami yang lahir di masa itu.

Masih segar dalam ingatan, bagaimana pesta-pesta atau hajatan di kampung kami hanya diterangi pelita dan lampu strongking atau petromaks. Semua orang tetap bahagia dalam kegulitaan. Padahal, itu tahun 1980-an, dua ratusan tahun lebih dari lahirnya istilah Revolusi (Industri) Perancis pada tahun 1760-an atau saat mesin uap ditemukan. Butuh dua ratusan tahun lebih untuk menularkan pemahaman dan kenikmatan revolusi itu di kampung kami, setidaknya demikian.

Seorang lelaki yang lahir sebelum revolusi sebagai pembebas di Perancis, J.J.Roseau yang lahir dan berpikir dan terusir karena pikirannya, seolah mengirim pesan dari masa lalu ke masa semalam tadi tentang “ketakberdayaan” rakyat di depan kekuasaan. Seperti di zaman Perancis saat bangsawan dan pejabat yang lebih dominan menguasai kehidupan lahir bathin masyarakat/rakyat.

Realnya begini, seorang sahabat saya, Profesor dan beberapa Politisi Kampung, mengeluhkan soal mati lampu. Katanya yang nyaris jamak senada, jika kita nunggak listrik sehari, meteran kami dicabut, negara memghukum kita tanpa pilihan. Negara dalam konteks ini menjadi monster yang menakutkan dan mengancam keselamatan energi persis seperti bangsawan dan Pejabat Perancis yang digambarkan Rosseau itu (Kisah Tak Berwajah karya Ahyar Anwar).

Situasi ini tentu menenggelamkan kita dalam kemunafikan dalam berbangsa dan bernegara sebagai jalan keadilan dan kesejahteraan bersama. Ini seperti melukis jelas pepatah gubahan orang PostKolonial: dari rakyat oleh rakyat untuk kekuasaan absolut (rakyat cucuk hidung dan tak boleh membangkang). Semua orang harus tertib, meski negara harus diurusi oleh sekumpulan penyamun sosial di jalan politik.

Mungkin, orang Australia lebih membaca “Kontrak sosial” yang pikirkan J.J. Rosseau. Mereka bisa menghukum negara jika mematikan lampunya dan berakibat buruk pada publik(?). Kalau di Indonesia, tidak demikian. Kita diminta maklum, menerima jika terjadi sesuatu yang merugikan publik. Sama dengan Lakalantas karena ada perbaikan jembatan atau jalan, orang boleh mati menabrak gundukan kerikil milik kontraktor dan mati karenanya. Harap maklum, sedang perbaikan jalan.

Soal pelita, anak milenial tentu banyak yang tak tahu betapa kehidupan sangat terbatas di masa itu. TV hanya satu satu desa, hitam putih pula. Saya teringat bagaimana bintik hitam menjamuri layar saat pertandingan tinju Elyas Fical dikalahkan oleh Galaxy. Elyas sanga legenda Tinju Indonesia dari Saparua, Maluku.

Saya bersyukur memiliki kisah hidup terkait pelita. Hidup dalam kesahajaan dan relasi emosi yang kuat sesama manusia. Kita bermain dan berkelakar sambil makan gorengan di beranda dan balai-balai. Tak ada telepon atau android. Tak sibuk menenteng charge dan colokan listrik. Semua penuh sentuhan emosi dalam interaksi, tanpa virus layar sentuh. Akhirnya kami kreatif dalam keterbatasan.

Kami bisa membuat pelita untuk menerangi malam. Kami pernah tidak mengenal apa itu listrik 24 jam. Dan kami merasa bahwa mati lampu total di Sulawesi Selatan semalam tadi hanyalah pintu kenangan masa kecil, bagaimana kami berjalan dengan obor mencari mangga jatuh di tepian kebun orang sambil berkelakar dan saling menguatkan dari penampakan hantu atau jin.

lalu, pada Bulan  Mei tahun 1998 pelita menjadi hal paling menjemukan dan mengerikan, apalagi ketika itu, kotak pandora beraroma cendana menjadi terbuka dan berbau busuk di atas hamparan-hamparan hutan dan tanah lapang.

Demi Cinta, jangan kembali ke Pelita

karena jika diinggriskan, dia akan menjadi REPELITA.

Itu berarti Malapetaka.

(GUYON Paragraf terakhir ini agak Semangkin asing bagi mereka yang lahir di atas tahun 1999). Selamat Memetik hikmah Pelita dan mati lampu semalam. Perkuat jadwal Ronda Siskamling. Pemilu sudah dekat.

GOWA-Makassar, 16 November 2018

Berita Terkait
Komentar
Terkini