Anggota Komisi A Minta KPID Sulsel Petakan Konten Penyiaran Yang Diinginkan Masyarakat

Ekspose Hasil Monitoring Komisi KPID Sulsel, di Hotel Pesona Makassar, Kamis 3 September 2020.

Terkini.id — Anggota Komisi A DPRD Sulsel, Rismawati Kadir Nyampa meminta kepada Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel untuk melakukan survei atau pemetaan terkait konten yang diinginkan oleh masyarakat Sulsel.

Hal itu diungkapkan Rismawati ketika menghadiri Ekspose Hasil Monitoring Komisi KPID Sulsel, di Hotel Pesona Makassar, Kamis 3 September 2020.

“Bisakah KPID melakukan survei di Sulsel,  kalau untuk anak-anak surveinya seperti apa, dan seperti apa konten yang disukai oleh anak-anak di Sulsel, begitu juga usia remaja,” kata Rismawati.

Ia mendorong, KPID Sulsel untuk mengimplementasikan penyiaran konten lokal, sebagaimana di dalam undang-undang bahwa dari 100 persen konten penyiaran, ada 10 persen konten lokal yang dihadirkan bagi pihak penyiaran TV dan 60 persen untuk radio. 

“Bagiaman ini bisa diimplementasikan dengan baik. Kadang lembaga penyiaran selalu visi-misinya mengedepankan konten lokal, namun implementasinya tidak seperti itu,” ujar Politisi Partai Demokrat ini.

Menarik untuk Anda:

“Kemudian KPID harus merangkul kelompok seni budaya di Sulsel, dari situ muncul berbagai nacam ide dan kreatifitas kemungkinan itu bisa kita tayangkan sebagai konten lokal yang akan dalam memberikan edukasi, pendidikan untuk masyarakat Sulsel,” ujarnya.

Sementara itu, Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPID Sulsel, Herwanita mengatakan, lembaga penyiaran bedaringan di Sulsel yang berjumlah 14 lembaga penyiaran tidak semua konsisten memenuhi siaran konten lokal minimal 10 persen setiap harinya. 

Ia menyebut, terdapat 9 atau 64 persen lembaga penyiaran yang sudah pernah menyiarkan konten lokal di atas 10 persen, meskipun tidak konsisten, 4 (28 persen) lembaga penyiaran yang konsisten menyiarkan siaran lokal di batas minimun 10 persen dan 1 (7 persen) lembaga penyiaran yang menyiarkan konten siaran lokal dibawah batas minimum 10 persen.

“Program siaran lokal paling sedikit 30 persen, wajib ditayangkan pada jam tayang produktif di 05.00-22.00 waktu setempat. Data hasil monitoring menunjukkan bahwa lembaga penyiaran TV berjaringan tidak konsisten menyiarkan konten lokal di jam produktif setiap harinya,” ungkap Herwanita.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Update Pasien Meninggal Covid-19 per 30 November: Tambah 130 Orang dalam Sehari

Gelar Rakor Pilkada Serentak, Pemprov Jatim Sepakat Cegah Klaster Baru Covid-19

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar