Angkat Budaya Rimpu Asal Bima, PKM Mahasiswa UNM Ini Sukses Tembus PIMNAS 32 di Bali

Foto Bersama Tim PKM Rimpu Bima Bersama Tim Juri di Lokasi PIMNAS 32

Terkini.id – Setelah melewati seleksi yang cukup ketat, tiga mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) asal Bima berhasil membawa Budaya Rimpu ke ajang bergengsi tingkat mahasiswa nasional, pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke 32 yang digelar di Universitas Udayana, Bali dari tanggal 27-31 Agustus 2019.

 

PIMNAS merupakan kegiatan puncak pertemuan nasional perwujudan kreativitas dan penalaran ilmiah mahasiswa nasional yang diadakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi di bawah Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Kegiatan tersebut dilakukan dengan agenda utamanya presentasi hasil penelitian Program Kreativitas Mahasiswa (PKM).

 

Mereka adalah, Suci Yati (Jurusan Sejarah UNM 2016), Endang Nila Hardianti (Jurusan Sejarah UNM 2015), dan Khusnul Khatimah (Jurusan Sejarah UNM 2016)

Foto: Tim PKM Rimpu Bima

Melalui Endang Nila Hardianti, salah satu anggota tim, menjelaskan bahwa judul proposalnya yang mengangkat dan membahas budaya rimpu tersebut dilatar belakangi oleh keresahan mereka melihat fenomena social semakin terkikisnya nilai, bentuk estetika, fungsi, dan makna budaya rimpu yang saat ini mulai hilang digantikan oleh trend busana hijab yang lebih modern dan modis di daerahnya.

 

“Melihat fenomena social di Bima hari ini, terkhusus mulai hilangnya budaya Rimpu. Kami berpikir untuk melakukan penelitian ini untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana perspektif budaya rimpu dikalangan orang Bima,” jelasnya.

 

Ketiganya berhasil menyingkirkan 4000an proposal lainnya dari seluruh kampus yang ada Indonesia, dan menjadi salah satu peserta dari 460 tim yang terpilih. Mereka mengungkapkan bahwa yang menjadi subjek utama dalam penelitian mereka adalah anak muda Bima. Hal ini didasarkan bahwa pemudalah generasi pelanjut yang kedepannya berperan penting dalam menentukan apakah budaya Rimpu di Bima masih akan tetap dilestarikan atau sebaliknya terlupakan.

 

“Kelestarian rimpu tergantung dari peran pemuda hari ini, jika hari ini mereka tidak peduli, sudah dapat dipastikan kedepannya salah satu kekayaan yang dimiliki Bima ini akan hilang,” ungkapnya.

 

Mereka juga menegaskan bahwa budaya rimpu harus tetap dipertahankan terutama nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya.  Untuk itu mereka akan terus berusaha mengajak kepada seluruh kalangan masyarakat khsusnya pemuda agar bisa melestarikan budaya rimpu, merekonstruksikan kembali bentuk estetika, fungsi, dan makna tenun Mbojo dalam budaya rimpu.

 

“Hijab asli Bima ini tidak boleh kalah trend dengan busana hijab modern. Ini kekayaan kita,” tegasnya.

 

Nilai moral maja labo dahu yang ingin ditanamkan dalam diri perempuan Bima melalui rimpu, menurut mereka berlaku secara universal, itulah kenapa selain untuk mengenalkan budaya rimpu di kancah Nasional, mereka juga menyerukan pesan moral rimpu kepada masyarakat Indonesia secara luas.

Berita Terkait