Arswendo Atmowiloto, Penulis Cerita ‘Keluarga Cemara’ Meninggal Dunia Akibat Kanker

Arswendo Atmowiloto
Penulis cerita serial 'Keluarga Cemara' Arswendo Atmowiloto meninggal dunia. (Foto: kapanlagi.com)

Terkini.id – Kabar duka datang dari dunia hiburan Tanah Air, budayawan dan seniman Arswendo Atmowiloto meninggal dunia di usia 70 tahun setelah melawan kanker prostat pada Jumat 19 Juli 2019, sekira pukul 17.15 WIB.

Sebelumnya, Arswendo menjalani perawatan akan penyakit yang dideritanya ini. Nama Arswendo Atmowiloto lekat dengan drama Keluarga Cemara. Drama keluarga ini populer di televisi Indonesia pada era 1990 hingga 2000-an awal.

Berdasarkan pesan singkat yang diterima oleh terkini.id, Jumat 19 Juli 2019, Arswendo Atmowiloto meninggal di kediamannya Kompleks Kompas, Jalan Damai, Pesanggrahan, Jakarta.

Berita duka: telah meninggal dunia dengan tenang pak Arswendo Atmowiloto hari Jumat, 19 Juli 2019 pukul 17.50 di rumah kompleks kompas jalan damai, pesanggrahan, jakarta. Kabar pemakaman dll menyusul,” demikian bunyi pesan singkat tersebut.

Arswendo Atmowiloto
Arswendo Atmowiloto semasa hidup. (Foto: medcom.id)

Karir kepenulisan Arswendo Atmowiloto

Dihimpun dari berbagai sumber, Arswendo mengawali kariernya dengan menjadi seorang wartawan. Namun, rupanya ia jago dalam menulis karya fiksi. Ia menulis banyak cerpen, naskah drama, dan novel.

Ia menjadi salah satu penulis yang mendapat banyak penghargaan, salah satunya Hadiah Sastra Asean tahun 1987.

Beberapa novel yang pernah ditulis oleh Arswendo antara lain Canting, 3 Cinta 1 Pria, Senopati Pamungkas, dan Kau Memanggilku Malaikat.

Arswendo termasuk salah satu penulis yang sangat produktif. Karena keproduktifannya itulah, ia kemudian menulis buku ‘Mengarang Novel Itu Gampang.’

Arswendo Atmowiloto
Tokoh dalam serial Keluarga Cemara. (Foto: kabarsidia.com)

Kisah Arswendo dengan Keluarga Cemara 

Dilansir dari Kompas, Arswendo mengisahkan, saat awal ia menjajakan ide itu menjadi serial, tidak banyak orang yang berminat. Menurut dia, saat itu, mereka menginginkan cerita dengan genre horor.

“Kok enggak ada hantunya? Enggak ada santetnya? Saya bilang Indonesia enggak butuh santet banyak,” ujar Arswendo kala itu.

Keluarga Cemara, kata almarhum, mengisahkan tentang nilai kejujuran sebuah keluarga kecil yang hidup jauh dari hiruk pikuk Ibu Kota.  Cerita ini pun mulai digemari dan menjadi favorit khalayak pada waktu itu.

Bahkan, tayangan Keluarga Cemara pernah menjadi serial yang selalu dinanti di akhir pekan. Setiap kalimat yang keluar dari sosok Abah dan Emak kepada anak-anaknya selalu terpatri dalam ingatan.

Lebih dari dua dekade setelah peluncuran serial pertamanya, banyak orang yang masih mengingat setiap detail cerita hingga lagu temanya.

Hal ini lalu membuat rumah produksi Visinema Pictures berniat untuk mengadopsinya menjadi ide cerita film.