Banjir bandang akibatkan jalan dan rumah ambruk di Enrekang

Bencana banjir bandang di Enrekang / foto Arsyad

 

ENREKANG – Banjir bandang kembali menerjang dua desa di dua kecamatan di Kabupaten Enrekang pada Rabu malam 9 November 2016. Kedua desa itu yakni Desa Banti Kecamatan Baraka dan Desa Batu Nuni Kecamatan Anggeraja. Selain itu, bencana tanah longsor juga terjadi di Desa Parinding Kecamatan Anggeraja yang mengakibatkan jalan poros Parinding terputus.

Tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun, aktivitas warga di wilayah bencana terganggu akses jalan terputus. Banjir bandang juga merobohkan satu rumah milik warga dan delapan tergenang banjir. Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Enrekang, Sutrisno, mengatakan banjir bandang disebabkan hujan deras mengguyur wilayah itu, sehingga air dari gunung mengalir ke pemukiman warga.

“Curah hujan sangat tinggi sehingga sungai yang ada di Desa Banti meluap. Sejumlah rumah tergenang banjir, satu di antaranya mengalami kerusakan parah,” katanya.

Kepala BPBD Enrekang, Benny Mansjur, menjelaskan, di dalam peta kajian risiko bencana, Desa Batu Noni masuk dalam kategori risiko sedang. Namun, selama 3 tahun terakhir, intensitas kejadian bencana banjir bandang diikuti material longsoran semakin masif.

Hasil pengamatan fisik di lapangan, aktivitas masyarakat Batu Noni, beberapa tahun terakhir aktif dalam memanfaatkan lahan-lahan dan membuka lahan baru untuk budidaya holtikultura tanaman bawang.

Kondisi ini, kata dia, memicu meningkatnya air permukaan saat hujan. Selain itu, lahan di wilayah itu, sudah gundul. Penanamam bawang juga cukup tinggi diiringi dengan pemakaian air untuk menyiram sehingga membuat tanah menjadi jenuh air.

“Kondisi ini, pada saat musim hujan tentu akan memperbesar massa air tanah yang memicu terjadinya penggerusan material tanah masuk ke badan sungai yang pada akhirnya terjadi pendangkalan aliran sungai secara alamiah,” katanya.

Menurutnya, saat bendung alamiah tidak mampu menahan air, maka disitulah terjadi pelepasan air secara cepat menyebabkan terjadinya banjir bandang yang menghanyutkan material, hasil kebun, dan merusak pemukiman masyarakat.

“Daerah itu, butuh penghijauan di daerah hulu, sosialisasi risiko bencana, dan penyiapan lapangan bagi warga selain bertani bawang,” katanya.

Kondisi ini mirip, kejadian di daerah Tontonan, dan Bassaran di Kecamatan Anggeraja. Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Enrekang, Hj Johra Muslimin, turun ke lokasi bencana dan menyerahkan bantuan berupa sembako bagi warga yang terkena musibah.

Sebelumnya Senin, 31 Oktober, tiga kecamatan di Enrekang yakni Anggeraja, Cendana dan Enrekang terendam banjir. Banjir terparah di tiga kelurahan dan satu desa di Kecamatan Anggeraja, ketiga kelurahan itu, terisolasi akibat banjir bandang. Ketiga kelurahan itu yakni Mataram, tepatnya di Dusun Sossok, Kelurahan Lakawan, di Dusun Cakke, dan Kelurahan Tanete Pasaran, di Dusun Belalang dan Tontonan, dan Desa Saruran. Banjir menggenangi rumah warga setinggi 1 meter.

Selain itu, sebanyak 60 kepala keluarga (KK) yang dihuni sekitar 150 jiwa terkena dampak dari banjir bandang tersebut. Sebanyak 19 rumah warga yang dihuni 29 KK di tiga wilayah itu, mengalami kerusakan cukup parah. Sekitar 109 jiwa terpaksa mengungsi ke rumah kerabatnya.

Banjir juga merendam enam desa di Kecamatan Cendana yakni Kelurahan Juppandang, Desa Pundi Lemo, Pinang, Lebang, Cendana, Taulan, dan Desa Malalin. Di enam desa itu, sebanyak 153 KK yang dihuni sekitar 451 jiwa terendam banjir setinggi bahu orang dewasa.

Sementara itu, luapan Sungai Mata Allo membuat Kelurahan Juppandang, Kecamatan Enrekang terendam sebanyak 34 KK yang dihuni sekitar 154 jiwa terkena dampak banjir. Luapan Sungai Mata Allo mengganggu aktivitas belajar anak-anak di sekolah. Peserta didik terpaksa diliburkan karena sekolah mereka ikut tergenang banjir. (B)

Arsyad

Berita Terkait
Komentar
Terkini