Begini Catatan Tim Medis Gabungan Mahasiswa Kedokteran di Daerah Gempa

Anggota Tim Medis Gabungan FK UNHAS, FK UMI, FK UNISMUH, IKA FK UNHAS & IDI Wilayah Sulselbar
Anggota Tim Medis Gabungan FK UNHAS, FK UMI, FK UNISMUH, IKA FK UNHAS & IDI Wilayah Sulselbar

Menyengat…

Pukul sebelas malam, kurang lebih, operasi terakhir selesai di RS. Undata di hari kedua pasca gempa. Total 7 operasi diselesaikan hari ini.

Rencana awal kami mengaktifkan kamar operasi sebelum siang, namun ternyata masih ada kendala yang memundurkan dimulainya operasi.

Genset RS Undata telah mendapat suplai solar, sayangnya ternyata mengalami masalah teknis sehingga tidak bisa digunakan.

Ruangan-ruangan yang walau dengan retakan di beberapa tempat, telah kami nilai layak untuk digunakan. Butuh suplai listrik yang cukup besar.

Menarik untuk Anda:

Beruntunglah tim bantuan, yang tiba dari  Makassar pagi ini,  datang dengan membawa sebuah genset. Walau demikian masih terkendala bahan bakar, karena genset kecil itu membutuhkan premium yang menjadi langka pasca gempa.

Premium berhasil didapatkan walau dengan volume cukup terbatas. Dua kamar operasi di IGD RS Undata kami operasikan dengan genset ini.

Pasien-pasien cedera extremitas telah “mengantre” untuk segera dioperasi. Enam operasi yang dapat dilakukan oleh tim Orthopedi hari ini, 2 diantaranya adalah kerjasama dengan tim Obstetry.

Prioritas tim dalam kondisi terbatas ini adalah pasien-pasien yang mengalami cedera dengan ancaman kematian tungkai dan infeksi berat. Satu kasus amputasi terpaksa dilakukan di tengah reruntuhan, untuk mengevakuasi seorang korban yang kakinya terjebak oleh reruntuhan.

Tim Obstetri melakukan 7 pertolongan persalinan pervaginam sejak pagi. Ada dua pasien yang in-partu dan juga mengalami cedera tungkai bawah, sehingga terpaksa dilakukan SC sekaligus diberikan bantuan penangan orthopedi.

Kendala lain yang menjadi pertimbangan dalam pemilahan prioritas pasien adalah tidak adanya informasi pemeriksaan pemeriksaan lab darah, terutama kadar hemoglobin. Hal ini menjadi pertimbangan karena hingga saat ini, unit transfusi dan bank darah belum berfungsi.

Tidak ada persiapan darah sama sekali untuk persiapan operasi. Tim anastesi terpaksa melakukan seleksi ketat terhadap pasien dan tentunya persiapan optimal untuk intra dan pasca operasinya.

Kerja ketat dan terbatas sungguh menguras energi. Cuaca panas ditambah terbatasnya air minum membuat anggota-anggota tim makin mudah lelah. Walau demikian semangat mereka untuk memberi pertolongan tidak padam.

Saat hari gelap, panasnya udara berangsur turun. Hembusan angin memberi kesejukan. Namun, udara dingin yang datang juga disertai bau menyengat dari jenazah-jenazah korban yang mengalami pembusukan.

Jenazah para korban, yang ditemukan meninggal maupun yang meninggal di tengah perawatan RS yg terbatas, ditempatkan di Parkir utara RS Undata.

Ada puluhan kenazah di sana. Baru sebagian kecil yang  telah di identifikasi oleh keluarga dan di bawa pulang untuk di makamkan. Tidak adanya Tim DVI di Undata memang menyulitkan proses penangan korban yang meninggal.

Jika hari ini tidak juga di makamkan, tentu jenazah-jenazah ini akan makin menimbulkan bau yang menyengat. Kamar operasi yang berhadapan langsung dengan lokasi penampungan jenazah ini tentunya akan terganggu oleh bau yang ditimbulkan.

Semoga semuanya bisa lebih baik….

Palu, 1 Oktober 2018

Laporan : dr Andi Alfian

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Habib Rizieq Ditolak Banser, Warga Pandeglang Bersumpah HRS Keturunan Nabi

Forum Muballig Beri Dukungan ke Kapolda Metro Baru, Tindak Tegas Pelanggar Protokol di Jakarta

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar