Belajar dari 7-Eleven di Indonesia: Laporan Keuangan UMKM Itu Penting!

7-eleven.(ist)

MASIH ingat dengan gerai 7-Eleven yang sempat muncul di berbagai kota di Indonesia?
Tepatnya pada tanggal 7 November 2009, 7-Eleven melalui PT Modern Sevel Indonesia (MSI) menjadi titik awal cerita 7-Eleven masuk ke Indonesia dengan membuka gerai pertama yang berlokasi di Bulungan, Jakarta Selatan.
Indonesia menjadi negara tujuan ke– 17 di dunia yang membuka bisnis waralaba 7-Eleven pada saat tersebut.

Sejak berdiri tahun 2009, PT MSI terus melakukan ekspansi bisnis secara tumbuh dan berkembang di Indonesia.

Pada akhir bulan Desember 2014, tercatat PT MSI telah memiliki 190 gerai 7-Eleven yang tersebar di berbagai kota di Indonesia.

Meskipun 7-Eleven telah memiliki gerai di mana-mana namun pada tahun 2017, dinyatakan bahwa 7-Eleven mengalami kebangkrutan.

Tepatnya pada tanggal 30 Juni 2017, seluruh gerai 7-Eleven resmi berhenti operasi di Indonesia. Saat itu 7-Eleven terlalu agresif dalam melakukan ekspansi di Indonesia, namun agresifitas tersebut tidak diimbangi dengan keuntungan yang dihasilkan.

Dari kasus 7-Eleven di Indonesia, kita belajar bahwa perusahaan besar dengan modal yang besar pula bisa mengalami kebangkrutan dan gulung tikar.

Kuncinya adalah membuat laporan keuangan yang lengkap dan mengikuti apa yang tertulis di dalamnya.

Sederhananya apabila laporan keuangan mengatakan jika kita menghabiskan dana terlalu besar untuk membeli aset (bangunan, kendaraan, stock barang, dll) tapi kita tidak mendapatkan pendapatan yang sebanding, maka kita harus berhenti atau mengurangi membeli aset tersebut.

Contoh lainnya apabila kita memiliki klien yang menunda pembayaran, maka kita harus membuat kebijakan pembayaran yang lebih ketat ataupun mencari klien baru.

Data Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Badan Pusat Statistik, dan United Nation Population Fund, memprediksi jumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia pada 2018 sebanyak 58,97 juta orang namun hal ini sangat disayangkan dimana mayoritas pelaku UMKM tersebut belum memiliki kompetensi dalam menyusun laporan keuangan secara baik dan benar.

Padahal laporan keuangan yang rinci adalah kunci dalam mengendalikan performa bisnis.

Dengan adanya laporan keuangan dan mengerti isi dari laporan keuangan, diharapkan akan dapat membantu pelaku UMKM dalam membuat keputusan dalam mengembangkan usaha, keputusan untuk mengajukan kredit usaha, maupun keputusan dalam melakukan investasi.

Willix Kosasih adalah VP Commercial Partnership of Jurnal.id

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Ekobis

Apresiasi Konsumen, Suzuki Gelar Loyal Gathering

Terkini.id,Makassar – Dalam rangka menjalin hubungan silaturahmi dengan segenap konsumen, PT Megahputera Sejahtera selaku main dealer Suzuki di kota Makassar menggelar acara Loyal Gathering New Carry Pickup di Red