Benarkah teroris di Indonesia itu penyusup agama Yahudi?

agama
Teroris

Terkini.id – Ada bom, pelakunya sudah mati. Tapi identitasnya jelas. Teroris itu, sebelum melakukan bom bunuh diri mereka sholat berjamaah. Setelah bom, masih ada yang mengatakan bahwa mereka penyusup agama Yahudi.

Ayolah, jangan selalu jadi umat yang denial. Agama itu teks, dengan kemungkinan penafsiran yang macam-macam. Agama pula yang menjadikan Ustman begitu dermawan.

Tapi karena dalih agama pula, beliau dibunuh. Agama pula yang menjadikan Ali bijak, tapi karena dalih agama pula Ibnu Muljam membunuh Ali. Masih mengatakan Ibnu Muljam Yahudi, padahal dia guru Alquran di masa Umar?. Ini sejarah.

Banyak orang baik dilandasi dasar ajaran agama. Namun banyak kejahatan dengan bersandarkan agama juga. Agama itu oxymoron, bisa jadi mawar indah. Namun, juga bisa jadi pedang yang berbahaya.

Pelaku bom, jelas menggunakan Islam sebagai dasar perbuatannya. Walaupun ini bertentangan dengan keyakinan mayoritas umat muslim lainnya.

Agama memang seperti itu, karena selalu mengandaikan kebaikan dengan perlambang malaikat, surga dan umat beriman. Sedangkan kejahatan dengan perlambang setan, neraka dan kafir.

Baca juga: Cara menangkal paham radikalisme yang berujung bom bunuh diri

Ada juga term perang suci, jihad atau apalah namanya dalam semua religi. Ingat perang salib? Kedua pihak memakai landasan agama, untuk membela agama masing-masing.

Artinya memang bukan hanya Islam. Protestan dengan Klu Klux Klan, Islam dengan Al Qaidah dan ISIS-nya, Hindu dengan Bajrang Dhal-nya, Budha dengan Ashin Wirathu-nya, dan Yahudi dengan Zionismenya semuanya berasal dari landasan agama untuk melakukan teror.

Aksi teroris berlandaskan agama

Pertama, kita harus akui teroris itu muncul dari pemahaman agama. Baru kemudian kita bisa melakukan langkah pembenahan, yakni memperbanyak konten pemahaman agama yang damai. Karena sekali lagi ini pemahaman, tafsir atas ajaran pokok agama.

Kedua, walaupun teori konspirasi itu perlu, tapi bukan bagian terpenting. Jangan melulu percaya atau tidak percaya pada teori itu.

Kekejaman atas nama agama pernah terjadi pada ilmu pengetahuan. Pada Ahmad Bin Hambal ketika peristiwa mihnah. Atau pada Giordano Bruno, Galileo Galilei dan Nicolaus Copernicus oleh inkuisisi gereja. Dan itu murni karena pemahaman agama, bukan sekedar konspirasi Yahudi.

Ketiga, saatnya kaum muslim membaca sejarah dengan referensi yang jelas. Walau menyakitkan kadang membaca kitab semacam Thobari, Tarikhul Khulafa al Syuyuthi dll. Bahkan saya pernah dianggap selalu membuka aib Islam, karena mengungkap sejarah kelam Islam. Padahal bukan itu intinya, sejarah adalah pelajaran penting, agar kekejaman tak lagi terjadi.

Ada hadits menjelaskan tentang tanda-tanda Khawarij dan sifat-sifatnya dalam Sahih Bukhari dan Muslim. Mereka berucap seakan sebaik-baik orang, berpakaian seakan sunnah, namun keimanan mereka sebenarnya tak melebihi kerongkongan.

Adapula hadits menjelaskan, “Sesiapa menyakiti/membunuh kafir dzimmiy, tak akan mencium bau surga. Padahal baunya dapat tercium dari tempat sejauh 40 tahun perjalanan.” Namun adapula hadits dan ayat jihad. Inilah pentingnya belajar secara komprehensif.

Maka hurqush atau dzul huwaisiroh, Ibnu Muljam, nyata adalah muslim bukan Yahudi. Mereka tersesat dalam belantara penafsiran dan menganggap tafsirnya paling benar.

Wallahu A’lam.

Komentar

Rekomendasi

Belajar Berhitung

Pandemi yang Membuka Banyak Bobrok

Menyikapi Corona dan Hoax Melalui Intervensi Sosial

Corona oh Corona!

Mengharukan: Sepenggal Kisah Guru Pesantren di Tengah Covid-19

Dokter Tuhan

Opini: Jokowi Mendengar Saran Oposisi

SOP Salat Jumat Masjid ‘Jarang’

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar