Berikut Hasil Pemantauan BPSPL Makassar, Apa Saja?

Hasil Pemantauan BPSPL Makassar, Populasi Ikan Capungan Banggai Relatif Menurun di Bokan Kepualauan Sulawesi Tengah

Terkini.id,SultengBalai Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makassar yang bekerja sama dengan berbagai pihak baru saja melakukan pemantauan populasi Banggai Cardinal Fish (BCF) di Bokan Kepulauan Kabupaten Banggai Laut Provinsi Sulawesi Tengah, 14 hingga 21 Oktober 2019 kemarin.

Adapun pihak yang bekerja sama dengan BPSPL Makassar yang ikut terlibat dalam kegiatan monitoring ialah Universitas Tadulako, STPL Palu, Universitas Hasanuddin, Dinas Perikanan Banggai Laut, Kelompok Masyarakat Bone Baru, Kelompok Masyarakat Mbuang-Mbuang, Stasiun KIPM Kabupaten Banggai.

Dari hasil survei di delapan lokasi ditemukan, populasi ikan capungan banggai ini relatif menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Seperti, pemantauan di Tanjung Nggasung, populasi BCF mengalami penurunan drastis. Begitu pula di stasiun Mandel, ikan endemik Indonesia ini bahkan berada pada tingkat kritis. Lokasi lain yang diketahui mengalami penurunan yaitu staisun Minanga.

Kendati demikian, di beberapa lokasi, kelimpahan BCF masih relatif tinggi meski menurun dari tahun-tahun sebelumnya, seperti di staisun Melilis dan Toada.

Selain itu, dari hasil pemantauan, meningkatnya populasi BCF hanya ditemukan di dua lokasi, yaitu stasiun Kombangan, dan Mbuang-Mbuang. Adapun, stasiun Toropot, kelimpahannya relatif stabil seimbang sejak tahun 2017 hingga 2019.

Laporan pemantauan BCF di perairan Bokan Kepulauan ini disampaikan oleh salah seorang surveyor, Dr Ir H Samliok Ndobe MSi di kegiatan ‘ekspose hasil monitoring populasi Ikan Capungan Banggai T2’ di Kabupaten Banggai Laut.

Selain itu, perwakilan BPSPL Makassar, Kris Handoko yang juga salah seorang surveyor ikut melaporkan hasil pemantauan ikan bernama latin Pterapogon kauderni ini. Ia mengatakan, selain perilaku penangkapan, penurunan drastis populasi BCF juga lantaran berkurangnya jumlah mikrohabitat, yaitu anemon dan bulubabi.

“Mikrohabitat itu diketahui kerap dikonsumsi oleh masyarakat. Bahkan, di salah satu lokasi survei, yaitu di Kombongan, sama sekali tidak ditemukan lagi bulu babi,” jelas Kris.

Dalam ekspose tersebut, Kris juga berkesempatan memaparkan rangkaian kegiatan survei  T2. Di mana, selain Samliok, dan Kris, survei ini juga dilaksanakan oleh Abigail Mary Moore, Deddy Wahyudi, Moch Yasir, Yulina Irawati, Galib R Madady, dan Rikandi Bardi. Dalam melakukan monitoring, surveyor menggunakan metode belt transect, yaitu transek garis dibentangkan sejauh 20 meter dari garis pantai.

“Saya juga menjelaskan hukum kebijakan pengelolaan BCF, arahan kebijakan pengelolaan BCF, Rencana Aksi Nasional (RAN) dan strategi rencana implementasi RAN BCF secara nasional dan Pedoman Rehabilitasi Banggai Cardinal Fish Kementerian Kelautan dan Perikanan,” jelas Kris.

Sebelum pemaparan hasil survei, kegiatan ekspose diawali dengan pemaparan data dan informasi perdagangan Ikan BCF di kabupaten Banggai Laut oleh Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Banggai Laut, Balsam Sarikaya SE MM.

Balsam Sarikaya mengatakan, Ikan BCF hasil tangkapan di alam Kabupaten Banggai Laut sebagian besar diperdagangkan di Bali, Jakarta dan Kendari.

“Berdasarkan lalu lintas perdagangan SKIPM Banggai Laut data per bulan Juni 2019, jumlah produksi Ikan Capungan Banggai di Kabupaten Banggai Laut tahun 2016 sampai Juli 2019 cenderung menurun dalam empat tahun terakhir. Tahun 2016, sebanyak  45.820 ekor, tahun 2017 sebanyak  59.650 ekor, tahun 2018 sebanyak 16.150 ekor, dan tahun 2019 sebanyak 3.435 ekor,” tambah Balsam yang juga berkesempatan membuka acara tersebut.

Ia pun mengapresiasi kegiatan monitoring populasi BCF yang dilakukan oleh BPSPL Makasssar. Menurutnya, kegiatan ini sangat bermanfaat untuk mengetahui kondisi terkini populasi BCF di perairan Kabupaten Banggai.

Lebih lanjut, kegiatan yang juga dihadiri pemangku kepentingan dan kelompok masyarakat Kabupaten Banggai Laut ini diharapkan mampu memberikan rekomendasi kepada pihak pemerintah daerah. Rekomendasi berupa landasan pengambilan dalam menetapkan strategi pengelolaan, perlindungan dan pelestarian BCF.

Berita Terkait
Komentar
Terkini