Bertuhan Tanpa Cerca , Hidup Rukun di Tanah Toraja

Masyarakat Tana Toraja masih mempertahankan budayanya / Foto : Rahma Amin

MAKASSARTERKINI.com – Gumpalan asap dari hasil pembakaran  membumbung  di sela ketinggian bukit Lembang Perindingan. Sebuah desa yang  berada di Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Kabupaten Tana Toraja, Provinsi Sulsel.  Dari kejauhan asap itu tampak makin tebal, mendorong langkah penulis  mendekati  lokasinya.

Di sepanjang perjalanan, wangi khas kopi toraja  cukup merilekskan, dengan suhu yang begitu sejuk namun dengan kondisi jalan yang sempit, curam , mendaki, dan berbelok-belok cukup tajam. Memakan waktu lama hingga akhirnya penulis menemukan sumber api itu. Terdapat segerombolan orang dengan pakaian serba hitam diturunkan dari truk 6 roda.

Jalan menuju sumber api itu tidak mampu dilalui kendaraan roda empat, bahkan cukup sempit untuk  dilewati dengan kendaraan roda dua di antara orang  yang berbondong-bondong ke situ. Jaraknya kira-kira 250 meter dari ujung jalan tempat memarkir kendaraan.

Makin dekat, aroma daging makin tercium. Aroma itu terasa asing bagi penciuman penulis. ”Itu bau daging babi yang dibakar,” ujar Andarias Lowis, seorang  kawan yang menemani penulis  ke tempat itu.

Ratusan orang dengan pakaian serba hitam di lokasi itu, duduk di bawah kolom tenda yang terbuat dari anyaman bambu. Ada juga tenda dengan dekorasi khusus semacam VIP, namun tidak membedakan dengan tenda lainnya, yang duduk lesehan. Lowis bilang itu tempat khusus bagi tamu kelas atas.

Di bagian pintu masuk tamu, berdiri papan ucapan turut berduka cita, tertulis untuk keluarga besar Talondo yang ditinggal pergi nenek Asta (orang yang meninggal) ke surga Tuhan.

Rambu Solo merupakan sebuah upacara pemakaman secara adat. Keluarga almarhum yang diwajibkan membuat pesta sebagai tanda penghormatan terakhir kepada mendiang yang telah pergi. Upacara yang penulis datangi setelah mendapat penjelasan dari Lowis.

***

Ada tokoh adat di hadapan para tamu yang sedang membawakan ceramah. Di antara tenda-tenda, ada satu rumah yang juga ditempati untuk menjamu tamu, masyarakat Toraja menyebutnya sebaga Tongkonan. Orang-orang yang duduk di atas tongkonan bukanlah warga biasa, mereka setingkat lebih tinggi kelasnya dibanding tamu yang duduk di deretan VIP. Namun, tampak tidak ada pembeda dari mereka.

Lebih dalam penulis menelusuri upacara adat ini, melangkah menuju dapur, tempat makanan yang dihidangkan  itu tersaji. Ada yang unik, di dapur itu tidak saja jemari perempuan yang berperan menghidangkan makanan, tetapi juga keuletan pria mengiris daging hasil sembelihan. Mereka membaur di dapur itu.

Pembagian kerja secara seksual seperti pada umumnya pesta, tidak terjadi di tempat ini. “Laki perempuan saling bekerja sama di dapur. Laki-laki mengiris-iris daging, memanggang. Lalu yang menghidangkan perempuan,” tutur Kevil, salah seorang  keluarga almarhum,  seraya mengipas-ngipas daging panggangannya yang telah dimasukkan ke dalam bambu.

Melihat penulis yang mengenakan jilbab, Kevin lalu menawarkan penulis beranjak ke bagian tenda lain. Tempat makanan yang akan diberikan kepada masyarakat. ”Kalau mau makan ambil di tempat ini, ya Dek. Ini halal, tidak mengandung daging babi,” Kevin menunjuk kea rah dapur umum bagi yang beragama Islam.

Cerita Kevin, dapur umum selalu disediakan pada setiap upacara adat di Toraja , baik upacara Rambu Tuka (pesta yang diadakan karena motif-motif kegembiraan misalnya pesta perkawinan, kelahiran, dan syukuran), maupun Rambu Solo.  “Dapur umum ini disediakan untuk tamu yang beragama muslim, bahkan dapur umum ini kadang dibuat lebih besar, agar semua hidangan bisa dinikmati bersama antara saudara-saudara kami yang muslim,” Kevin bercerita.

Meskipun keberadaan masyarakat muslim di Tanah Toraja minoritas, perlakuan penganut agama nonmuslim tidak serta merta mendominasi sistem sosial masyarakat Tana Toraja. Perlakuan spesial itu bukan karena agama Islam lebih unggul ketimbang agama lainnya. “Namun itu bagian dari bentuk toleransi masyarakat Kristiani kepada penganut Islam yang mengharamkan daging babi untuk dimakan. “Kalau kami kan Kristen tidak ada pantangan,” jelas Kevin lagi.

Demikian juga sebaliknya masyarakat muslim kepada yang Kristen. Contoh lain yang digambarkan Kevin sebagai bagian dari toleransi masyarakat di sana, adalah saat penyembelihan kerbau.  Meski yang menjadi tuang rumah dan mayoritas tamu adalah kristiani atau penganut agama lainnya di luar Islam, penyembelihan kerbau diberikan kepada umat Islam.

Bukan karena cara islam menyembelih dianggap lebih benar, namun lebih pada menjaga penganut Islam terhindar dari apa yang dilarangkan dalam ajaran mereka.

“Inilah cara orang Toraja menghargai perbedaan, sehingga yang terbangun adalah meski beda agama kita semua saling menjaga dalam berkeyakinan, bukan saling menginterpensi,” urainya.

Beranjak dari perbincangan bersama Kevin, penulis lalu menemui tokoh adat Toraja yang bercemarah tadi. Namanya Marten Galigo Borotoding, seorang pensiunan TNI  yang diangkat sebagai tokoh adat oleh masyarakat setempat. Ia bercerita kerukunan masyarakat Toraja bisa dilihat dari penyelenggaraan upacara adat di Toraja. Tidak sama dengan kelompok masyarakat lain yang cenderung sektarian terhadap kelompok berpenganut agama lainnya.

***

Di Toraja, kata dia, masyarakat saling membahu, tidak peduli dengan status agama mereka. Islam, Kristen, atau agama lainnya, harmonis. ”Di Toraja, adat dan kebudayaanlah yang mempersatukan masyarakat dalam satu wadah yang disebut dengan Tongkonan,” terangnya di sela-sela upacara adat.

Dari sejumlah kasus konflik yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia, banyak di antaranya  yang dipicu karena selisih paham antara orang atau individu dengan individu lain, kemudian saling menarik identitas yang melekat pada diri masing-masing. Misalnya beda suku, agama, ras dan lainnya.

Kondisi itulah, kadang konflik tersebut berubah menjadi konflik antar Suku, Adat, Ras, dan Agama (SARA). Di Tana Toraja, kata Marten, meski konflik antar individu beda agama pernah juga terjadi,namun kondisi konflik tidak sampai berujung pada keterlibatan kelompok yang memiliki kesamaan identitas.

”Masyarakat beda agama sering juga ada yang bercekcok, namun sampai membawa unsur keyakinan itu tidak. Konflik diselesaikan dengan baik oleh keduanya,” ujarnya.

Lanjutnya, upacara adat seperti Rambu Solo selain sebagai bentuk penghormatan terakhir keluarga kepada yang meninggal, juga sebagai wadah untuk mempererat kembali tali kekeluargaan yang terputus, termasuk mengidentifikasi garis keluarga, karena lama tidak berjumpa. Apalagi masyarakat Toraja banyak yang meninggalkan kampung halamannya. Merantau.

“Banyak tamu yang hadir di sini itu pulang dari perantauannya. Sesibuk apapun anggota keluarga besar lainnya jika mendengar ada kematian pasti mereka sempatkan untuk datang,” katanya sambil menunjuk salah seorang tamu. Dia berkata,”Itu, bapak yang duduk di sana, dia itu dari Kalimantan datang ke acara ini. Kalau yang itu dari Pulau Jawa.”

Di tempat yang sama, penulis juga bertemu dengan salah seorang anggota DPRD Kabupaten Tana Toraja, asal Fraksi Golkar , Nikodemus Mangera. Lama penulis berbincang dengan kakak mantan Kepala Bidang (Kabid)Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Frans Barung Mangera, itu.

Dalam pandangan masyarakat Toraja, agama atau keyakinan kata bukanlah sesuatu yang harus mendapat intervensi dari orang lain. Sebab, orang Toraja menganggap agama adalah urusan individu dengan Tuhan masing-masing.

“Agama itu dipertanggungjawabkan oleh masing-masing individu kepada Tuhan-nya, sehingga orang Toraja sebenarnya tidak tertarik mengurusi ataupun mencerca keyakinan seseorang. Itulah makanya di Toraja rukun-rukun saja meski berbeda agama,” paparnya.

Pakaian yang dikenakan orang Toraja pada upacara Rambu Sulo yang serba hitam, melambangkan kedukaan. Ada filosofi yang terkandung di dalamnya.

“Kita semua sama. Coba perhatikan, mana kita tahu orang yang duduk di sana orang kaya atau bukan, karena melalui pakaian hitam yang saya gunakan ini tidak mencerminkan apa-apa. Tidak ada yang mencolok dari kita yang bisa membedakan orang itu orang kaya atau bukan. Jadi sifatnya lebih kalau kita semua sama, tidak ada sekat yang memberikan kita jarak,” katanya

Saling Bantu, Bangun Rumah Ibadah

Petang mengakhiri terik sang surya,  Sabtu, akhir November lalu di Kota Makale, Kabupaten Tana Toraja. Bunyi lonceng di Gereja Katolik Makale menjadi pengiring kepergian cahayanya sore itu. Iring-iringan lonceng lalu disambung  kumandang azan di Masjid Raya Makale, yang letaknya tidak jauh dari gereja. Ikut melepas tenggelamnya sang penyinar.

Kolaborasi nyanyian agama itu terasa merdu di telinga, tenteram menyejukkan hati, sesejuk cuaca Tana Toraja yang letaknya berada di ketinggian 300-3000 meter di atas permukaan laut (mdpl).  Hawa sejuk Kota Makale dengan ketinggian  600-700 mdpl, menyimbolkan kesejukan masyarakatnya yang toleran terhadap perbedaan.

Di Tana Toraja yang terletak di bagian utara Sulawesi Selatan, kira-kira 8 jam dari Kota Makassar, warga bisa beribadah dengan tenang sesuai dengan kepercayaan yang mereka yakini. Sebab, tidak ada intervensi, juga saling cerca dalam berkeyakinan. Bahkan variasi keyakinan biasa terjadi dalam sebuah rumpun atau keluarga besar di Toraja, menganut agama yang berbeda merupakan hal yang lumrah dan biasa saja.

“Di keluarga saya agama bukan menjadi persoalan, meski berbeda keyakinan tetapi kita tetap hidup bersama sebagai sebuah keluarga. Kami beranggapan bahwa agama adalah urusan seseorang dengan Tuhan mereka,” sepenggal kalimat dilontrakan dari mulut  salah seorang warga yang bermukim di Desa Buntu Burake, Maria Ata’ Patuggu.

Cerita Maria disambung Imam Masjid Raya Makale, Ahmad Gazali ketika penulis beribadah di masjid itu . Selama 22 tahun menjadi penduduk Tanah Toraja, banyak cerita dan pengalaman hidup tinggal bersama mayoritas masyarakat kristiani di Toraja.

“Umat Islam di Toraja hingga sekarang kira-kira hanya 13 persen, tetapi tidak ada bentuk diskriminasi terhadap kami yang minoritas, baik dari pemerintah begitu juga warga,” kata Gazali usai salat berjemaah petang itu.

Hubungan masyarakat dengan penganut agama berbeda terjalin rukun, hampir tidak pernah terjadi  selisih paham, apalagi konflik menyoal tentang agama masing-masing. Antara umat muslim dan kristiani, begitu juga dengan penganut agama lainnya , bahu-membahu ketika ada pembangunan rumah  ibadah di Toraja.

“Ketika Masjid Raya Makale masih sementara dibangun, umat Kristen ikut membantu saat pengecoran. Makanan dan minuman tidak pernah habis untuk pekerja, semuanya berkat pemberian warga nonmuslim,” ungkapnya.

***

Begitu juga saat perayaan hari besar keagamaan, semua warga ikut larut dalam peringatan.  Misalnya saat Idulfitri atau hari keagamaan Islam lainnya, umat kristiani ikut membantu pembersihan masjid, menyediakan perlengkapan ibadah, memberikan makanan atau kue kepada muslim yang merayakan. Hubungan beda agama terjalin sangat indah di setiap perayaan.

“Ketika takbir keliling, anak-anak non muslim juga ikut, dan itu bukan suatu masalah. Bahkan yang membantu pengamanan selain dari pemerintah adalah saudara kami yang non muslim,” tutur Gazali. Suasana itu juga terjadi sebaliknya, ketika umat kristiani merayakan hari besar keagamaan mereka.

Cerita Ahmad Gazali bisa dirasakan penulis saat berkunjung di salah satu gereja di Makale, tepatnya di Gereja Kibaid. Di  sana penulis menemukan pengalaman yang berbeda saat mendapatkan penugasan meliput perayaan Hari Natal di salah satu gereja di Makassar beberapa tahun silam.

Kala itu,  hujan sangat deras  pada malam Natal. Penulis yang  mengenakan jilbab yang umumnya  dikenakan muslimat, menginjakkan kaki di gereja dengan maksud mewawancarai jamaat dan pendeta kala itu, namun yang terjadi penulis disambut pelototan tajam oleh sepasang ratusan mata. Seolah saya dianggap akan menaruh bom di gereja itu.

Kejadian ini tidak penulis temukan di Toraja. Jemaat begitu ramah kepada penulis, melepaskan senyum dengan keramahan yang melekat dari karakter warga Toraja. “Ayo, silakan masuk. Ada yang bisa kami bantu,” tanya seorang perempuan, jemaat yang ingin beribadah. Kedatangan penulis pada Minggu pagi bertepatan dengan hari ibadah umat kristiani.

Setelah menyampaikan maksud dan tujuan penulis, tidak berselang lama keluarlah sosok pria yang diperkenalkan kepada penulis bernama Teopilus Pantandean, pendeta di geraja itu.  Ia bercerita banyak ihwal rasa toleransi yang terbangun di antara warga Toraja. Suasana itu bukan baru terjadi, namun sudah menjadi sistem sosial Toraja yang dianut bersama sejak dahulu kala.

“Di sini kami saling menghargai perbedaan, hidup rukun walau berbeda agama.  Tidak pernah ada gangguan dalam menjalankan keyakinan baik dilakukan umat Kristen maupun Islam. Bahkan keduanya saling membantu di setiap upacara keagamaan,” katanya.

Di tengah terusiknya toleransi beragama di beberapa tempat di Indonesia, Toraja menjadi referensi yang patut menjadi contoh kerukunan di antara penganut agama yang begitu beragam. Agama yang seringkali membuat jarak karena perbedaan keyakinan, oleh masyrakat Toraja perbedaan itu sama sekali tidak menjadi persoalan.

“Dalam perayaan agama  kami semua saling mengunjungi antara satu dengan yang lain walau berbeda agama, membangun silaturahmi. Bahkan jika ada malam tahlilan bagi tetangga muslim yang meninggal, umat nasrani tidak sungkan untuk hadir, demikian juga sebaliknya,” tuturnya.

Tidak saja toleransi itu terjalin antara lapisan masyarakat Toraja yang berbeda keyakinan,  namun juga dipraktikkan dalam tataran institusi di pemerintahan, bahkan hingga di lembaga pendidikan, misalnya di bangku sekolah.

Realitas penulis dapatkan setelah bertemu dan bercerita banyak dengan Sekretaris Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Toraja, Herman Tahir yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Makale.

***

Sekolah yang ia pimpin merupakan SMP terbesar di Makale, bisa juga dikatakan sekolah ini punya segudang penghargaan dan piagam berkat prestasi pelajar di sana.  Tidak sama dengan sekolah umumnya yang ada di kota atau daerah lain, di mana siswa dengan kepercayaan minoritas kadang tidak mendapatkan fasilitas pendidikan keagamaan yang setara.
Kondisi ini banyak terjadi di sekolah-sekolah negeri, yang kadang siswa non muslim jarang bahkan tidak pernah mendapat pelajaran agama sesuai dengan kepercayaan yang dianut siswa. Itu karena pihak sekolah tidak menyediakan sumber daya atau guru yang bisa mengajakan kepada siswanya.

Dari 1.026 orang siswa, Herman menyebutkan 78 persen dari mereka merupakan penganut agama kristen, selebihnya merupakan siswa  beragama Islam dan penganut agama lainnya. Kristen menjadi mayoritas di sekolah tersebut, begitu juga dengan tenaga pengajar yang berjumlah 63 guru, yang beraga Islam hanya 4 orang termasuk kepala sekolah.

“Siswa kami tidak banyak yang beragama Islam, namun pemberian pendidikan agama diberikan selayaknya siswa mayoritas yang Kristiani. Sekolah menyediakan guru dengan latar belakang pendidikan keagamaan untuk siswa yang berbeda keyakinan,“ terang Herman.

Demikian juga pada pemberian fasilitas tempat ibadah di sekolah, ada musala untuk siswa yang beragama Islam dan Gereja untuk yang Kristen. Lulusan IKIP(yang sekarang menjadi UNM) itu mengungkapkan, jika mengacu pada Peraturan Bersama (Perber) Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Nomor 8 dan 9 tahun 2006 tentang syarat pembangunan rumah ibadah,  mungkin hngga kini masyarakat muslim Toraja tidak akan pernah memiliki masjid sebagai tempat ibadah.

Namun berkat kerukunan dan toleransi yang terjalin di Toraja, warga Kristen bisa dikata punya kontribusi besar atas berdirinya sejumlah masjid di Toraja. Bagaimana tidak, dalam pasal 14 aturan tersebut menyebutkan syarat khusus pembagunan rumah ibadah hanya bisa dilakukan ketika daftar nama dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) pengguna rumah ibadah paling sedikit 90 (sembilan puluh) orang yang disahkan oleh pejabat setempat sesuai dengan tingkat batas wilayah sebagaimana dimaksud dalam pasal 13 ayat 3.

Poin kedua disebutkan, dukungan masyarakat setempat paling sedikit 60 orang yang disahkan oleh lurah atau kepala desa. “Kalau mengacu pada aturan tersebut jumlah penganut Islam di toraja dalam batas wilayah tertentu tidak akan cukup memenuhi syarat untuk membangun masjid, namun karena banyak saudara kami di Toraja yang beragama non muslim mengumpulkan KTP mereka, alhamdulillah meski minoritas kami bisa memiliki tempat ibada,” tuturnya. Bahkan tidak jarang kita jumpai masjid dan gereja bertetangga.

Analisis Sosial Kerukunan di Toraja

Untuk mengetahui lebih lajut bagaimana sistem sosial masyarakat toraja dengan segala bentuk toleransi dan kerukunannya, penulis lalu menemui salah seorang Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), yang tahu betul karakteristik masyarakat  Toraja. Selain menguasai betul seluk beluk Toraja, dia juga lahir dan  pernah menjabat sebagai Bupati Tana Toraja pada periode 1989-1995.

Namanya, Prof Dr TR Andilolo Pdh.  Dosen yang akrab disapa Prof TR itu menjelaskan,  yang mempersatukan dan menjadi pererat di antara warga Toraja meski berbeda keyakinan, adalah Tongkonan, sebuah rumah adat  yang juga menjadi cermin hubungan sosial kehidupan masyarakat Toraja.

Tongkonan, seperti yang dijelaskan Prof TR adalah berasal dari kata Tongkon yang berarti duduk, kemudian diakhiri dengan an, yang artinya menjadi tempat duduk bersama. Tongkonan oleh masyarakat Toraja, tidak sekedar menjadi tempat duduk bersama, namun lebih luas memberikan pemaknaan di segala aspek kehidupan.

“Tongkonan itu menjadi tempat lahir dan dibesarkannya anak cucu Toraja, yang telah menganut macam agama. Semua angggota keluarga yang ada di dalamnya sama-sama memeliharanya tanpa melihat agama,” katanya.

Dengan demikian fungsi Tongkonan, selain sebagai pusat budaya, oleh Prof TR mengatakan juga menjadi pembinaan dalam keluarga, kegotong-royongan dan pusat stabilisator sosial. Itulah mengapa konflik horizontal yang melibatkan kelompok tidak pernah terjadi, sebab masyarakat Toraja telah diikat oleh sistem kekerabatan yang sangat kuat dan dipelihara secara turun temurun melalui Tongkonan.

“Salah satu yang dihasilkan dari keberadaan Tongkonan, masyarakat Toraja tidak akan memaksakan kehendak diri sendiri kepada orang lain. Termasuk soal agama, dimana mereka meyakini bahwa masing-masing orang bertanggungjawab sendiri dengan Tuhan-nya, sebab keselamatan tidak ditentukan oleh keyakinan kelompok namun diri sendiri,”papar Prof TR, saat ditandangi di ruang kerjanya, di Jurusan Sosiologi FISIP Unhas.

Selain itu, lanjut Prof TR, konflik horizontal antar kelompok yang pernah terjadi di sejumlah daerah di Indonesia, pemicunya adalah tidak terlepas dari perebutan Sumber Daya Alam (SDM) dengan keterlibatan para korporasi/pemodal. Di Toraja salah satu yang membuat kerukunan dan toleransi terjaga dan tidak terporak-porandakan oleh kepentingan ekonomi, oleh karena Toraja tidak memiliki objek vital SDM yang bisa dikeruk.

***

Dulu masyarakat Toraja menganut kepercayaan yang disebut sebagai Aluktudolo.  Sebagai  kepercayaan pertama yang dianut oleh masyarakat Toraja, Aluktudolo telah mewariskan adat istiadat yang secara turun temurun dijalankan oleh masyarakat, meski orang-orang di Toraja dalam perkembangannya telah memeluk agama baik Islam, Protestan, maupun Katolik.

“Adat itu terus dipelihara oleh masyarakat terutama yang menyangkut hal-hal yang cocok atau tidak bertentangan dengan agama yang mereka anut,” katanya.  Oleh karenanya, menurut Prof TR, agama Islam dan Kristen yang dianut masyarakat Toraja memiliki karakteristik tersendiri dan berbeda dengan negara atau daerah lain di Indonesia.

“Islam dan Kristen yang masyarakat anut adalah Islam dan Kristen ala Toraja yang berbeda di daerah lain yang disatukan melalui adat seperti upacara Rambu Solo dan Rambu Tuka,” jelasnya.

Dalam warisan kebudayaan dan adat  Toraja  yang bersumber dari ajaran Aluktudolo itulah sikap saling menghargai di Toraja muncul, dimana tidak bisa dipisahkan dengan agama. Sehingga meski telah menganut agama di luar Aluktodolo, upacara kematian tersebut tetap dijalankan. Jumlah penganut Aluktodolo sendiri makin terkikis, dan lebih kecil dari jumlah penganut agama Islam. Bahkan Aluktolodo sudah menjadi sekte Hindu Bali sejak keluarnya SK Dirjen Bimas Hindu dan Budha No.Dd-H/200-VI/69 tanggal 15 November 1969,  meski cara beribadah Aluktodolo dan Hindu atau Buddha sangat berbeda.

”Jadi masyarakat Islam, tetap juga melakukan Rambu Solo, meskipun pemakaman dilakukan dengan cara Islam, mereka tetap menyembelih babi namun tidak dimakan, namun  dibagikan kepada masyarakat non muslim untuk dimakan,” jelasnya.

Dilengkapi oleh H Nurdin Baturante, lulusan program Magister agama UMI yang dalam tesisnya menulis tentang Islam di Tanah Toraja, menjelaskan, keseluruhan dari aktivitas adat istiadat Toraja itulah yang berpusat di Tongkonan. “Semua tercermin dari keberadaan Tongkonan di Toraja,” jelasnya saat ditemui di kediamannya di Jalan Antariksa.

“Satu prinsip yang selalu dipegang teguh oleh masyarakat Toraja adalah bahwa manusia sebagai makhluk sosial cenderung akan hidup bersama, sehingga meskipun berbeda, persaudaraan itu tetap akan terjaga melalui bingkai Bhinneka Tunggal Ika, dan itu ada dalam Tongkonan,” jelasnya.

Rahma Amin

Berita Terkait
Komentar
Terkini