Berubah dari Status Normal ke Waspada, Begini Kronologi Elevasi Air Bili-bili

Terkini.id, Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang, Ditjen Sumber Daya Air terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap elevasi air Bendungan Bili-Bili yang berada di di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Melalui rilis resminya, disebutkan Peningkatan Tinggi Muka Air (TMA) bendungan diakibatkan oleh curah hujan ekstrem yang terjadi sejak Senin malam 21 Januari 2019 di Kabupaten Gowa dan sekitarnya.

Berdasarkan pola operasi bendungan, telah ditetapkan empat tingkatan status bahaya yakni;

  1. Status Normal ; TMA + 99.50 meter
  2. Status Waspada ; TMA + 100 meter
  3. Status Siaga ; TMA +101.60 meter dan
  4. Status Awas ; TMA +103.00. meter

Berdasarkan laporan petugas lapangan, berikut perkembangan TMA Bendungan Bili-Bili seperti rilis Kementerian PUPR:

Senin, 21 Januari 2019

Pukul 14.00 WITA ; TMA +99.45 meter dengan Status NORMAL. Sesuai Standar Operasi Prosedur (SOP) Bendungan, pada elevasi ini dilakukan sistem peringatan dini dengan memberitahukan masyarakat bahwa pintu saluran pelimpah akan dibuka. Pintu dibuka setinggi 1 meter.

Selasa, 22 Januari 2019

Pukul 07.00 WITA ; TMA + 99.58 meter Status NORMAL. Sesuai SOP harus dilakukan tambahan bukaan pintu saluran pelimpah secara bertahap sesuai kenaikan TMA.

Pukul 12.45 WITA ; TMA +101.38 meter Status WASPADA. BBWS Pompengan Jeneberang telah melakukan koordinasi untuk menyampaikan kondisi TMA Bendungan Bili-Bili kepada Gubernur Sulsel, Wakil Gubernur Sulsel, Bupati Gowa, Kodam dan Polres Gowa bahwa apabila terjadi peningkatan status dari WASPADA menjadi SIAGA maka masyarakat harus segera siap siaga terhadap dampak bukaan pintu saluran pelimpah. Bupati Gowa Purichta Ichsan kemudian menetapkan status WASPADA dan meminta sepanjang aliran dan hilir bendungan untuk mengungsi. BBWS Pompengan Jeneberang juga membunyikan sirene sebagai peringatan dini kepada warga dan mengumumkan peringatan dini melalui rumah ibadah dan radio.

Pukul 13.40 WITA ; TMA +101.64 meter Status SIAGA.

Pukul 15.20 WITA ; TMA +101.78 meter Status SIAGA

Pukul 18.00 WITA ; TMA +101.87 meter Status SIAGA.

Rabu, 23 Januari 2019

Pukul 01.00 WITA ; TMA +101.56 meter Status SIAGA.

Pukul 04.00 WITA ; TMA + 101.28 meter Status SIAGA

Pukul 07.00 WITA ; TMA + 100.99 meter Status SIAGA

Pukul 11.00 WITA ; TMA + 100.77 meter Status SIAGA.

Dirjen Sumber Daya Air Hari Suprayogi mengatakan, curah hujan ekstrem telah mengakibatkan naiknya TMA Bendungan Bili-Bili.

Dari data yang dihimpun di tiga pos curah hujan pada Selasa 22 Januari 2019,  curah hujan di Pos Limbungan tercatat 328 mm, Pos 1 (Bawakaraeng) sebesar 308 mm dan Pos Lengkese tercatat sebesar 329 mm.

“Langkah-langkah yang telah dilakukan akibat terjadinya peningkatan TMA Bendungan Bili-Bili sudah sesuai SOP Bendungan. TMA +101.87 meter menjadi elevasi tertinggi dalam catatan pengoperasian Bendungan Bili-Bili,” kata Hari.

Masyarakat diminta tetap tenang dan tidak terpengaruh terhadap berita-berita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Kementerian PUPR melalui BBWS Pompengan Jeneberang dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Gowa dan sekitarnya akan terus menyampaikan update tinggi muka air Bendungan Bili-Bili dan tingkatan bahayanya.

Sejarah Bendungan Bili-bili

Bendungan Bili-Bili adalah bendungan terbesar di Sulawesi Selatan yang terletak di Kabupaten Gowa. Bendungan Bili-Bili dibangun mulai tahun 1991 hingga tahun 1999.

Bendungan dengan luas 40.428 hektare dan kapasitas tampung 375 juta m3 ini dibangun dengan biaya Rp 780 miliar.

Bendungan Bili-Bili dibangun untuk mengurangi risiko banjir di Kota Makassar dan sekitarnya akibat luapan air Sungai Jeneberang di bagian hilir. Bendungan Bili-Bili juga menjadi sumber air untuk irigasi dan air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDM) Gowa dan Makassar.

Berita Terkait
Direkomendasikan
Komentar
Terkini