Bias Keputusan yang Sering Dilakukan

SI Anu mempunyai kakek perokok beruntun yang sudah berumur 80 tahun, dan tetap masih sehat. Dengan data tersebut ia cenderung menyimpulkan bahwa merokok tidak membunuh orang, seperti yang dikatakan berbagai iklan kesehatan.

Pendapatnya ini disebabkan ia tidak mempunyai data tentang besarnya jumlah orang yang meninggal akibat merokok beruntun.

Kesalahan ini adalah “bias pendapat” yang mengarah ke “ bias keputusan.”

Proses pembangunan adalah proses yang rumit, yang melibatkan banyak orang, dengan data yang tersedia dan tidak tersedia.

Orang cenderung berpendapat hanya berdasarkan data yang diketahuinya, dan tafsirannya tentang data tersebut.

Akibatnya, terjadi simpang-siur pendapat yang mungkin bertentangan. Apa jalan keluarnya?

Pertama: kesediaan untuk menguji kembali pendapat yang ada dengan mendengar pendapat orang lain yang berbeda.

Kedua, kesediaan untuk memperoleh data yang relevan, benar, dan cukup. Ketiga, kesediaan untuk membuat keputusan dan siaga tentang kemungkinan kesalahan dan akibatnya.

Ibaratnya: dokter memberikan obat yang berbeda-beda, menurut kondisi pasien, dengan dukungan data laboratorium yang relevan, cukup, dan benar.

Di atas segalanya, dokter bertindak demi kesembuhan pasien. Ada perpaduan hati, pikiran, dan tindakan (“Heart, Head, Hand”).

Renungan: Di mana posisiku?

Berita Terkait