Jadilah bagian dari Kolomnis makassarterkini
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis makassarterkini.

Bicara Benar atau Nyinyir?

SEPATUTNYA kita bersyukur karena kebebasan berbicara di Indonesia dijamin UU dan memang terlihat nyata dalam kehidupan.

Tentu masih banyak masalah. Namun dibanding masa orde baru, kebebasan berbicara itu melesat lebih maju.

Karena terbukanya ruang kebebasan berbicara itu, semua orang kini berani mengutarakan pendapatnya.

Terutama di media sosial yang memang tanpa penyaring. Persoalannya, apakah kebebasan berbicara itu betul-betul dijadikan ajang mengutarakan kebenaran?

Parhesia, demikian istilah Foucault, adalah berbicara bebas mengutarakan kebenaran.
Berbicara dalam pengertian demikian, berarti berbicara secara lugas tanpa selubung retorika.
Rasanya ini yang belum muncul dari pembicaraan kita di ruang publik. Para politisi lebih banyak membungkus kata katanya dengan retorika dibanding dengan membicarakan kebenaran secara lugas.

Yang menyedihkan, acap kali banyak kalangan yang berbicara mengenai satu hal yang sama sekali tak punya dasar.

Hanya menyatakan apa saja yang tersirat di dalam benaknya berdasarkan emosi (benci atau suka) tanpa kualifikasi yang memadai.

Lihatlah betapa banyak orang yang membicarakan tentang Islam Nusantara, soal ekonomi, perihal demokrasi dan lain-lain, dengan model seperti ini.

Baca :Benarkah Video Salat Berbahasa Indonesia Ini Ajaran Aliran Liberal ?

Parhesia dengan demikian, telah terjatuh dalam pengertian yang pejoratif. Itulah yg kita istilahkan dengan pembicara yang nyinyir.

Benarlah adagium: Kulil haqqa aw liyasmuth (berkata benar atau cukup diam saja)

Tulisan ini adalah kiriman dari kolumnis makasar terkini, isi dari tulisan ini adalah tanggungjawab penulis yang tertera, tidak menjadi bagian dan tanggungjawab redaksi makassar.terkini.id
Editor : Hasbi Zainuddin