Bincang teduh awal tahun kupas titik bangkit literasi

Puluhan pegiat budaya literasi di Makassar menggelar Bincang Teduh Awal Tahun guna menyikapi budaya literasi di era milenial kekinian

Terkini.id, Makassar – Menyikapi gerakan literasi di era milenial kekinian, para pegiat literasi Makassar menggelar Bincang Teduh Awal Tahun dengan mengangkat tema “Titik bangkit literasi, kearifan budaya, dan transformasi gerak memetakan peradaban”, berlangsung di Mie Ayoe Pasar Segar, Jalan Pengayoman Makassar. Selasa, 16 Januari 2017.

Bincang para pegiat literasi ini mengupas persoalan perkembangan dunia literasi terkait minat membaca dan menulis para pemuda di Indonesia khususnya di Makassar.

Hadir sebagai pembicara, Direktur Penerbit de La Macca, Goenawan Monoharto, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UINAM, M Syaiful S Sos MSi, Sastrawan Makassar, Rahmi Chaer, dan pemeran utama film ‘Ati Raja’, Fajar Baharuddin.

Menurut Goenawan Monoharto yang pernah berkecimpung sebagai wartawan di era tahun 70-an, di era sekarang, teknologi menjadi keuntungan tersendiri bagi budaya menulis, beda di tahun 70-an silam dimana pada masa itu orang-orang masih menulis di buku diary.

“Makanya di era sekarang ini, anak SD pun bisa menulis, beda di era 70-an seperti yang pernah saya lalui saat masih bekerja di salah satu redaksi koran di Makassar. Saat itu bahkan para wartawan harus menulis dengan menggunakan tinta timah,” bebernya.

Goenawan Monoharto memaparkan perbedaan budaya literasi antara era 70-an dengan era milenial kekinian

Goenawan juga menghimbau kepada kalangan pemuda yang memiliki minat menulis agar senantiasa membaca jika ingin menjadi penulis.

“Anda tidak bisa menulis kalau tidak membaca, kekayaan perbendaharaan kata hanya bisa Anda peroleh dengan banyak membaca. Jika ingin menulis kuncinya adalah membaca,” himbaunya kepada puluhan peserta yang hadir.

Ketua IKAPI Sulsel ini juga menyikapi perkembangan media sosial di zaman teknologi saat ini. Menurutnya, media sosial menjadi wadah kebebasan bagi dunia literasi, dimana semua orang bebas menulis di media sosial.

“Jangan pernah takut menulis di media sosial, tapi juga ingat harus tetap berhati-hati menulis di media sosial karena tulisan kita sangat mudah untuk di plagiat,” lanjutnya.

Puluhan peserta dari kalangan pegiat dan pemerhati budaya literasi mengikuti kegiatan bincang teduh awal tahun

Sementara dari pandangan penulis muda, Rahmi Chaer menegaskan kepada kalangan pemuda generasi milenial, jangan hanya berani menulis di status media sosial saja, tapi harus berani membuktikannya dengan sebuah karya nyata melalui karya buku.

“Alasan yang mendorong saya berani menulis sebuah buku, karena jika nantinya saya sarjana, saya ingin meninggalkan jejak inspiratif bagi adik-adik saya di kampus, minimal apa yang saya lakukan bisa menjadi contoh bagi mereka nantinya,” ungkap Rahmi Chaer, yang baru saja melaunching buku perdananya, ‘Kubur Aku dengan Mawar kali ini’.

Kegiatan ini ditutup dengan sesi diskusi lepas antara para pembicara dengan para peserta yang berasal dari kalangan pegiat dan pemerhati budaya literasi di Makassar.

Berita Terkait
Komentar
Terkini