BNPB Beberkan 22 Alat Pendeteksi Tsunami Sudah 7 Tahun Tidak Aktif

Kepala Pusat Data, Informasi dan Hubungan Masyarakat BNPB, Sutopo Purwo Nugroho. (independensi.com)

Terkini.id, Jakarta – Korban bencana tsunami seharusnya bisa diminimalisir jika saja alat pendeteksi berfungsi. Sayangnya, dalam beberapa peristiwa tsunami yang terjadi belakangan ini, alat itu tidak berfungsi.

Kepala Pusat Data dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, mengungkapkan, tercatat ada 22 Buoy tsunami di perairan Indonesia yang sudah lama tidak beroperasi.

“22 buoy (pendeteksi) tsunami di perairan Indonesia, yang dibangun Indonesia (8 unit), Jerman (10), Malaysia (1) dan USA (2) pada tahun 2008. Saat ini sudah tidak beroperasi sejak 2012,” ungkap Sutopo dalam konferensi pers di kantornya, Jl Pramuka Raya, Jakarta Timur, Rabu 26 Desember 2018 kemarin.

Adanya aksi vandalisme dan terbatasnya biaya pemeliharaan dan operasi menyebabkan buoy tersebut tidak berfungsi.

Kondisi itu menyulitkan untuk memastikan apakah tsunami benar terjadi di lautan atau tidak.

Baca juga:

“Saat ini hanya mengandalkan 5 buoy tsunami milik internasional di sekitar wilayah Indonesia yaitu 1 unit di barat Aceh (milik India), 1 unit di Laut Andaman (milik Thailand, 2 unit di selatan Sumba dekat Autralia (milik Australia) dan 1 unit di utara Papua (milik USA),” ungkap Sutopo lagi.

Sutopo mengungkapkan, sebagian besar kerusakan buoy tsunami disebabkan vandalisme dan tidak adanya biaya operasi dan pemeliharaan.

“Buoy di lautan banyak yang dirusak oleh oknum. Sebagai misal buoy yang dipasang di Laut Banda (April 2009), namun pada September 2009 rusak dan hanyut ke utara Sulawesi,” ungkapnya.

Padahal harga buoy sangat mahal.

Sutopo menila, jika diproduksi sendiri untuk mengamankan perairan Indonesia, biaya yang dibutuhkan jauh lebih kecil.

“Harga 1 unit buoy produk USA Rp 7-8 miliar, sedangkan buatan Indonesia Rp 4 miliar,” kata Sutopo seperti dilansir detikcom.

Lalu, bagaimana memprediksi tsunami tanpa buoy? Sutopo mengungkap dalam InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), buoy tsunami hanya menjadi salah satu bagian dari peringatan dini tsunami.

“Tanpa buoy tsunami, peringatan dini tsunami (EWS) tetap berjalan karena peringatan dini tsunami berdasarkan pemodelan yang dibangkitkan dari jaringan seismik gempa yang terdeteksi. 2-5 menit setelah gempa, InaTEWS/BMKG langsung memberikan peringatan dini secara luas kepada masyarakat sesuai alur peringatan dini tsunami. Sistem ini telah berjalan dengan baik,” katanya.

Bouy tsunami, menurut Sutopo, hanya untuk meyakinkan bahwa tsunami terdeteksi di lautan sebelum menerjang pantai. Saat tsunami sudah menerjang pantai, tinggi tsunami terdeteksi dari alat/jaringan pasang surat dan GPS di pantai.

“Idealnya dalam InaTEWS semua komponen itu tersedia, baik dari hulu hingga ke hilir. Namun memerlukan peralatan dan biaya operasional yang cukup besar setiap tahunnya,” pungkasnya.

Komentar

Rekomendasi

Pasien Positif Corona di Indonesia Bertambah 687, Terbanyak dari Jawa Timur

Gugus Tugas Nasional Kirim Dua Mobile Combat COVID-19 di Jatim

TNI dan Polri Dapat Tugas Disiplinkan Masyarakat Hadapi Corona

Masih Pandemi Covid-19, Gubernur Irwan: Sudah Masuk, Tidak Boleh Keluar

Vaksin COVID-19 Belum Ditemukan, Ini Permintaan Pemerintah ke Masyarakat

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar