Bukan Kolesterol dan Asam Urat, Ini Penyakit Berbahaya di Hari Raya Kurban

Hadarati Razak, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Makassar
Hadarati Razak, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Makassar / M Yunus

Terkini.id, Makassar – Pemerintah Kota Makassar mulai membentuk tim, menjelang Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Kurban. Tim yang dibentuk akan memastikan hewan kurban yang disembelih aman untuk dikonsumsi.

Hadarati Razak, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Makassar mengungkapkan, masyarakat harus makan daging yang sehat. Hewan dan daging yang diduga beresiko tertular penyakit harus dihindari.

“Yang paling ditakutkan adalah penyakit antraks,” kata Hadarati di Acara Coffe Morning Pemerintah Kota Makassar, Selasa 31 Juli 2018.

Penyakit ini disebabkan oleh kuman antraks. Bermula dari menginfeksi hewan ternak. Kemudian menular ke manusia. “Lewat kulit, mulut, dan saluran pernafasan,” ujarnya.

Hadarati mengatakan, jika ada hewan yang terinfeksi kuman antraks, orang yang pertama paling berpeluang tertular adalah pemelihara ternak. Kemudian petani yang bekerja di sekitar tempat tinggal hewan ternak. Karena spora kuman antrax bisa hidup di dalam tanah sampai puluhan tahun.

Setelah itu bisa menular ke penjual ternak, dokter hewan yang memeriksa, dan petugas laboratorium. “Gejalanya terjadi pembengkakan dan pendarahan. Kemudian kematian,” ungkapnya.

Menurut Hadarati, sampai saat ini belum ada laporan di Kota Makassar, hewan kurban tertular antraks. Belum ada juga warga yang terserang antraks karena makan daging kurban. “Tapi kami harus selalu waspada dan antisipasi,” katanya.

Langkah Pencegahan

Langkah Pencegahan yang bisa dilakukan adalah memastikan hewan yang akan disembelih sehat. Memasak daging di atas suhu 100 derajat celcius. “Jangan biasakan makan daging mentah. Cuci tangan sebelum makan,” kata Hadarati.

Dinas Kesehatan sudah berkoordinasi dengan sejumlah lembaga. Agar bisa memantau setiap hewan yang akan dikurbankan. “Untuk mengetahui hewan sehat atau tidak bisa dilihat dari fisiknya,” katanya.

“Untuk mengatahui daging yang tertular,harus dilakukan pemeriksaan laboratorium,” tambahnya.

Berita Terkait
Komentar
Terkini