Bukti Pengaruh Budaya Bugis Makassar di Australia, Karei untuk Sebutan Karaeng

Bugis Makassar Australia
Pernikahan antara suku Makassar dan suku Aborigin Marege dalam sebuah teatrikal di Australia

Terkini.id – Sebagai pelaut ulung, orang Bugis-Makassar selalu mendapat pengakuan dan penghargaan sebagai bangsa yang kuat dari negeri manapun yang mereka datangi. Mereka bertualang dan menaklukkan banyak lautan, sekaligus menyebarkan pengaruh kebudayaan, Australia salah satunya.

Sejak jaman dahulu, hubungan antara Sulawesi Selatan dengan benua Australia telah terjalin baik. Ini dilakukan oleh kaum pelaut Bugis Makassar yang terkenal gagah berani mengarungi “gunung” ombak.

Hubungan ini menjadikan beberapa unsur-unsur kebudayaan Bugis Makassar terdapat pula pada penduduk asli benua itu, yaitu orang Aborigin.

Berkenaan dengan itu, amat menarik untuk disimak tulisan Drs. H.J Heeren dalam majalah “Indonesie”, tahun VI No.2 September 1952 yang berjudul: “Indonesische Cultuurinvloeden in Australie” (Pengaruh kebudayaan Indonesia di Australia).

Tulisan ini dengan gamblang menjelaskan pengaruh kebudayaan Bugis-Makassar terhadap penduduk asli Australia (Aborigin).

Suku Aborigin
Suku Aborigin

Diceritakan betapa pendapat orang-orang Eropa tentang pelayaran-pelayaran orang Bugis-Makassar ke Australia dan nama yang diberikan oleh orang Bugis-Makassar mengenai benua Australia dan penduduknya yang disebutnya “Marege”.

Untuk lebih jelas, berikut kutipan “Indonesie” halaman 149-150:

Orang-orang Eropa pertama yang mendapatkan nelayan-nelayan teripang Bugis Makassar di situ adalah pendatang Inggris Sir Matthew Flinders. Pada tanggal 17 Februari 1803 bertemulah ia di kepulauan English Company’s Island 6 perahu Makassar di bawah pimpinan seorang yang bernama Po Bassu

Dari Po Bassu ini didapatinya keterangan, bahwa ia telah 7 kali mengunjungi daerah itu dan merupakan orang yang pertama-tama datang ke tempat itu. Menurut Po Bassu pelayarannya telah dimulai sejak 20 tahun sebelumnya (jadi dimulai sejak tahun 1780). B

ersama dengan perjalanan Flinders ini sebuah ekspedisi Perancis “Geographe” di bawah pimpinan Kapten Baudin, dengan memuat pula antara lain Peron dan de Freycinet menjelaskan, pada bulan April 1803 menyaksikan 24 sampai 26 perahu-perahu layar besar.

Olehnya de Freycinet menetapkan, bahwa orang-orang Makassarlah yang menemukan “Nieuw Holland”, tetapi karena daerah pesisir ini tidak memberikan harapan apa-apa, mereka meninggalkan persisir itu dan tidak didatanginya lagi sampai pada waktu orang Tionghoa bersedia membayar harga tinggi untuk teripang.

Pada waktu itulah orang-orang Bugis-Makassar berusaha memperluas daerah penangkapannya, dan mendatangi kembali “ Nieuw Holland” melalui Sahulbank yang tidak begitu jauh letaknya. Nelayan Bugis-Makassar itu ditemukan pula oleh Philip King dekat teluk Raffles di semenanjung Coburg. Selanjutnya disaksikan pula oleh Vosmaer.

Beliau menceritakan, bahwa orang-orang Makassar mengenal dua macam daerah di Nieuw Holland, yaitu “Kai Jawa” (yang dimaksud mungkin sebuah tanah yang menjorok ke laut menyerupai  pulau Jawa) dan “Marege”, nama yang juga diberikan kepada teripang yang asalnya dari tempat ini. Kedua tempat ini terletak pada pesisir utara, bahagian pertama meliputi daerah yang letaknya di sebelah barat sekali, sedangkan sebahagian lainnya meliputi daerah pesisir dimulai dari pulau Melville sampai jauh di dalam teluk Carpentaria. Tetapi penduduk di kedua tempat itu oleh orang-orang Makassar dan Bugis disebut juga Marege.

Bugis Makassar Australia
Suku Aborigin dan Suku Bugis Makassar

Dalam keterangan lebih lanjut, tulisan Heeren menjelaskan (dan inilah yang terpenting dalam tulisanny itu) adanya sifat perhubungan kebudayaan antara nelayan-nelayan itu dengan penduduk asli Australia.

Baca :Ini Urutan Cara Melamar Perempuan Bugis Makassar

Menurut pernyataan Kapten Bremer, pada tahun 1824 di pulau Melville ada seorang pemuda berumur 20 tahun “with perfect Malay features” diasuh oleh bangsa Aborigines yang sangat sayang padanya, pun dikemudian hari diketahui bahwa orang-orang Australia dengan secara sukarela pergi ke Sulawesi bersama-sama dengan orang Makassar untuk berdiam beberapa lamanya di situ.

Mengenai pertanyaan apakah di antara mereka terjadi kawin-mawin, oleh tuan Warner dan Tuan Thomson menyangkalnya. Mereka berpendapat, bahwa penghargaan tinggi yang diberikan oleh orang-orang Aborigines kepada orang-orang Makassar disebabkan oleh kenyataan, orang-orang Makassar tidak mengganggu perempuan-perempuan Aborigines.

Yang jelas, hubungan kedua bangsa ini menghasilkan sebuah peradaban yang diambil orang-orang Aborigines, seperti: perahu batang (kayu) yang oleh orang Aborigines menyebutnya “lippa-lippa”, yang dalam bahasa Makassarnya “leppa-leppa”. Demikian juga kapak besi, dan pipa.

Bugis Makassar Australia
Wanita Indonesia dan Wanita Suku Aborigin

Sedangkan pada kebudayaan rohania (geestelijkecultuur) seperti  bahasa, sebagaimana diterangkan tuan Berndt dan tuan Thomson, bahwa kata “Karei” adalah bahasa Makassarnya “Daeng”, yaitu gelar bangsawan bagi orang-orang Makassar yang oleh orang Australia diartikan “tuan”. Demikian halnya kata “kelun” bahasa Makassarnya “kelong”, “manni-manni” bahasa Makassarnya “mani’-mani’ ”  (manik-manik), “lumpu” bahasa Makassarnya “lompo” (besar), “limba” bahasa Makassarnya “lemba” (teluk) dan lainnya lagi.

Baca :November, Lintas Budaya Indonesia Siap Gelar Event Budaya Sulsel

Pelaut Bugis Makassar berlayar dari satu pulau ke pulau lainnya, dari satu benua ke benua lainnya, membawa kebudayaannya keluar dari daerahnya dan membawa masuk kebudayaan asing ke dalam negerinya, sehingga terjadinya asimilasi kebudayaan yang ikut mencoraki peradaban Asia, khususnya Asia Tenggara.

Artikel ini telah terbit di Majalah Makassar Terkini