Bulukumba terima sertifikat Phinisi sebagai warisan UNESCO dari Kemendikbud

Bulukumba terima sertifikat Phinisi sebagai warisan UNESCO dari Kemendikbud

Terkini.id,Bulukumba – Wakil Bupati Bulukumba Tomy Satria Yulianto akhirnya menerima sertifikat Pinisi The Art Of Boatbuilding sebagai Warisan Budaya Takbenda dari Unesco yang langsung diserahkan oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid pada Selasa malam 27 Maret 2018 di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) di Tanah Beru Kecamatan Bontobahari.

Bukan hanya Wakil Bupati yang meneriman namun Sertifikat yang sama juga diserahkan kepada Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo yang diwakili Kadis Kebudayaan Pariwisata Sulsel, Musaffar Syah.

Ratusan warga Bulukumba yang sejak sore memenuhi lokasi oenyerahan terkihat antusias dengan kegiatan ini,bagaimana tidak dengan adanya pengakuan dunia,karya anak bangsa yang lahir di dan berkembang di Bontobahari akhirnya menjadi sebuah ikon yang tak akan lagi bisa diklaim pihak manapun.

Dalam sambutannya, Tomy Satria menyebutkan, dengan pengakuan dunia tersebut, menjadi momentum yang sangat baik menjadi bukti yang sangat kuat akan perdaban masyarakat Bulukumba.

“Dengan adanya pengakuan ini,kita memiliki sesuatu yang luar biasa dan ini patut kita jaga dan lestarikan” ujar Tomy.

Tomy juga menyampaikan, bahwa dalam waktu dekat, pihaknya bakal membuat museum Pinisi di Bulukumba.

Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dalam sambutannya mengucapakan terima kasih kepada semua pihak yang telah berjuang mengawal Perahu Pinisi ini sehingga mendapatkan pengakuan dunia.

“Kementrian telah mengawal bagaimana seni pembuatan perau tradisional Pinisi ditetapkan menjadi warisan dunia dari Unesco dan juga semua pihak yang telah berjuang dan bekerja keras sehingga semua ini bisa kita capai”,jelasnya.

Hilmar  Farid juga berkisah bagaimana hingga menceritakan Pinisi dihargai dan sangat penting di mata dunia.

Dimana menurutnya Kapal Pinisi sangatlah berbeda dengan pembuatan kapal pada umumnya.

“Di barat, orang buat kapal pakai meter, pakai komputer, hitungan matematik dan sekolah tinggi, itupun dia buat rangkanya dulu,” ujarnya

Sedangkan di Bulukumba lanjut Hilmar, orang turun temurun buat perahu mulai dari bungkus kemudian rangka, tanpa buku, tanpa macam-macam hitungan dan komputer.

“Itulah yang menjadi kekaguman bagi dunia,” tambahnya disambut tepuk tangan.

Ia beraharap dengan ditetapkannya Pinisi tersebut, dapat menjadi motivasi untuk para pengrajin dan generasi muda untuk menjaga dan terus melestarikan warisan leluhur .

Berita Terkait
Komentar
Terkini