Buntut Video Larang Ibadah Natal di Lampung, Polisi Tetapkan Satu Tersangka Penghasut

Terkini.id, Jakarta – Kepolisian Daerah Lampung mengumumkan satu orang tersangka pada kasus percobaan penghentian ibadah Natal beberapa waktu lalu di Gereja Protestan Indonesia (GPI) Tulang Bawang, Lampung.

Kejadian tersebut menjadi sorotan publik setelah videonya beredar luas di media sosial. Dimana memperlihatkan sekelompok masyarakat berdebat dengan pihak gereja agar segera menghentikan segala aktivitas.

Atas itu polisi mengusut kasus tersebut dan menetapkan IMR bin BR (46) warga Kampung Banjar Agung, Tulang Bawang sebagai tersangka. Ia diduga menghasut massa untuk menghentikan ibadah hari raya Natal di kampung mereka.

Kepala Sub Direktorat 1 Keamanan Negara (Kasubdit 1 Kamneg) Polda Lampung AKBP Dodon Priyambodo menyebut IMR sebagai provokator yang mendalangi aksi tersebut.

“Tersangka diduga telah melakukan penghasutan dan mengajak orang di kampungnya untuk menghentikan ibadah Natal dan pemalangan pintu gereja pada 25 Desember 2021 silam,” ujar Dodon Selasa 18 Januari 2022.

Berdasarkan hasil penyidikan, tersangka diduga telah lama menghalangi aktivitas ibadah di GPI Tulang Bawang.

“Sudah tiga kali, yang terakhir pada 25 Desember 2021,” ucap Dodon dilansir dari CNN Indonesia.

Hingga kini, penyidik sudah memeriksa 22 orang saksi yang terdiri dari pemerintah daerah (pemda) tiga orang, sembilan orang dari pihak gereja, dua saksi terkait persuratan. Serta delapan orang lain yang juga diduga terlibat dalam aksi tersebut.

Penyidik juga menyita barang bukti berupa tiga buah telepon genggam berisi rekaman penghasutan yang mengajak rekan-rekannya menghentikan ibadah di gereja.

Ditambah sebuah surat tertanggal 12 November 2021 ditujukan kepada Bupati Tulang Bawang. Serta banner bertuliskan ‘GPI Ditutup’.

Akibat perbuatannya IMR dijerat dengan pasal 14 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1946 dan atau pasal 160 KUHP dan atau pasal 175 KUHP dengan ancaman 10 tahun penjara.

Diberitakan sebelumnya beredar video di media sosial dimana sekelompok warga mendatangi gereja dan melarang seluruh aktivitas disana.

Warga mengklaim GPI belum mengantongi izin sehingga tidak boleh melakukan aktivitas ibadah di tempat tersebut. Namun saat itu berhasil dilakukan mediasi sehingga jemaat gereja dapat menyelesaikan prosesi ibadah hingga selesai.

Pihak gereja juga sepakat untuk menurunkan lambang salib yang terpasang di bagian depan bangunan.

Bagikan