Cabuli 7 Santri, dua oknum Satpol PP dihukum

Terkini.id – Dua oknum Satpol PP, terdakwa dalam perkara pencabulan terhadap 7 santri yang saat itu sedang mengaji di Mushola Medokan Sumampir, Surabaya akhirnya divonis oleh hakim.

Ketua Majlis (KM) Pengadilan Negeri Surabaya, Harijanto dalam putusannya memvonis dua terdakwa eks oknum satpol PP.

Masing-masing terdakwa Achmad Syafii di vonis 8 tahun 8 bulan. Sedangkan Muhammad Sunarto dikenai hukuman 5 tahun 6 bulan.

“Dengan ini mengadili terdakwa Achmad Syafii terbukti secara sah melawan hukum sesuai Pasal 76D Juncto Pasal 81 ayat (1) dengan hukuman 8 tahun 8 bulan penjara,” kata Harijanto, Selasa 20 Februari 2018, saat membacakan putusan di ruang Kartika I PN Surabaya.

Majelis hakim melanjutkan menvonis Terdakwa Muhammad Sunarto dengan hukuman 5 tahun 6 bulan.

Menarik untuk Anda:

“Dikarenakan terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan melawan hukum sesuai Pasal 76E Jo Pasal 81 ayat (1) tentang Perlindungan Anak,” kata Harijanto melanjutkan putusannya.

Tak hanya itu, kedua terdakwa masing-masing dikenai denda Rp. 100 juta. Jika tidak dibayar akan dikenai hukuman selama 2 bulan penjara.

Menanggapi putusan majelis hakim dalam perkara ini, Penasehat Hukum kedua terdakwa, Fariji dan Jaksa Penuntut Umum Kejari Surabaya, Darwis menyatakan menerima putusan.

Perlu diketahui, Vonis Majlis Hakim lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Darwis, yang sebelumnya menuntut Achmad Syafii dengan hukuman 13 tahun sesuai Pasal 76D Juncto Pasal 81 ayat (1) Tentang Kekerasan Anak dan memaksa anak untuk melakukan persetubuhan yang menelan korban 7 anak di bawah umur.

Sedangkan Muhammad Sunarto sebelumnya juga dituntut oleh JPU dengan hukuman 8 tahun sesuai Pasal 76E Jo Pasal 81 ayat (1) tentang Perlindungan Anak.

Di sisi lain, Marta ibu dari NA korban pencabulan yang dilakukan oleh terdakwa Achmad Syafii menangis histeris setelah mendengar putusan yang di bacakan majelis hakim.

Pasalnya, antara tuntutan Jaksa dan Putusan yang di bacakan oleh Majlis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya dinilai kurang memenuhi rasa keadilan.

“Kenapa pak Jaksa hukumanya sangat ringan, anak saya sudah cacat seumur hidup,” ujar Marta sembari menangis dihadapan Jaksa Darwis saat setelah persidangan usai digelar.

Mendengar jeritan hati dari wanita paruh baya itu, Jaksa Darwis lantas menjelaskan jika tuntutan dan putusan majlis hakim kepada kedua terdakwa sudah sesuai aturan.

“Putusan hakim sudah sesuai aturan dengan rumus hukum pidana 2/3 dari tuntutan Jaksa,” kata Darwis menanggapi rintihan ibu korban pencabulan seperti dikutip dari bidik nasional.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Nadiem Makarim: 100 Persen Dana BOS Bisa Dipakai untuk Beli Kuota

Pasien PDP Asal Gowa yang Meninggal Dunia Negatif Covid-19

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar