Cambridge Analytica gulung tikar akibat skandal FB

Cambridge Analitica tutup. Gambar : mrgavinbell

Terkini.id, – Setelah kasus ‘pencurian’ data dari nyaris semua pengguna Facebook milik Mark Zuckerberg, Cambridge Analytica memutuskan untuk tutup akibat kebangkrutan. Perusahaan ini dituduh sebagai dalang dari penyalahgunaan jutaan data yang terkumpul oleh Facebook dengan cara menyebarkan quiz app yang jika dijawab bisa menyebabkan semua data pribadi pengguna beserta kontaknya disedot, termasuk kepribadian pengguna.

Dengan jumlah informasi psikologi yang besar itu, Cambridge Analytica mampu mengendalikan keadaan politik sebuah negara, termasuk pemilihan Presiden Trump dan referendum Brexit Inggris. Alexander Nix, CEO dari Cambridge Analytica, mengaku segala bukti yang menekan perusahaannya tidaklah betul, termasuk perkataannya mengenai cara kerja perusahaan yang menggunakan kampanye hitam guna menekan lawan politik klien walau ucapan mulutnya itu sudah direkam dalam bentuk video.

Sayangnya semua jerih payah perusahaan tersebut harus berakhir sehari yang lalu. Dilaporkan oleh BBC, kantor Cambridge Analytica di London telah ditutup beserta tulisan nama perusahaannya. Penutupan kantor di New York juga telah dilakukan menurut investigasi The Guardian yang hanya mendapati seorang wanita di sana yang berkata bahwa dulunya Cambridge Analytica bekerja di sana, namun semua pegawainya baru saja pergi.

Alexander Nix. (foto/businessinsider.com)

Banyaknya desakan pers serta rusaknya nama mereka menjadi alasan utama keengganan pelanggan-pelanggan untuk berbisnis lagi. Clarence Mitchell, juru bicara perusahaan, angkat suara mengenai keputusan untuk gulung tikar ini:

“Selama beberapa bulan belakangan, Cambridge Analytica sudah menjadi subjek dari beberapa tuduhan tidak berdasar meski dengan adanya usaha perusahaan untuk memperbaiki jejak langkah perusahaan. Cambridge Analytica juga sudah difitnah dengan aktivitas yang tidak hanya legal, tetapi juga diterima secara luas sebagai komponen standar dari periklanan online di dalam arena politik dan komersial,” katanya kepada BBC.

“Walaupun Cambridge Analytica punya kepercayaan diri yang teguh bahwa pekerja kami telah berlaku dengan etis dan sesuai hukum … serangan liputan media telah mendorong keluar semua pelanggan dan pemasok perusahaan. Dampaknya, telah diputuskan bahwa perusahaan tidak lagi mampu menjalankan bisnis ini,” lanjut Clarence.

Cambridge Analytica bisa saja sudah lenyap, tapi tidak bagi orang-orang yang ada di belakangnya. The Guardian menyatakan bahwa terdapat kemungkinan lahirnya reinkarnasi perusahaan tersebut dengan terbentukanya Emerdata yang berisikan Alexander Nix sebagai salah satu direkturnya.

Saat ditanyai oleh Financial Times, hal yang sama diungkapkan oleh mantan pekerja Cambridge Analytica yang cukup yakin bahwa mereka akan muncul lagi di waktu mendatang dengan “penyamaran”.

Dalam akhir kasus ini, Damian Collins, seorang anggota parlemen Inggris, mengungkapkan kegelisahannya dengan penutupan perusahaan tanpa investigasi lebih lanjut. Melalui media sosial Twitter, Collins berkata:
“Cambridge Analytica dan grup SCL tidak bisa dibiarkan menghapus semua data mereka dengan menutup perusahaan. Investigasi mengenai usaha mereka sangatlah vital.”

Berita Terkait
Komentar
Terkini