Ini Capres Gay Pertama dalam Sejarah Tunisia dan Dunia Arab

Terkini.id, –  Secara terbuka Mounir Baatour yang berprofesi sebagai seorang pengacara yang kini terjun ke dunia politik mengakui dirinya adalah seorang Gay dan berharap dapat terpilih sebagai presiden Tunisia berikutnya.

Baatour terkenal lantaran secara vokal menyuarakan hak minoritas LGBT. Mounir Baatour juga merupakan pendiri Shams, sebuah organisasi pembela hak-hak LGBT dan terbesar di Tunisia yang berdiri sejak tahun 2015 silam.

Di tahun 2013, ia ditangkap di sebuah kamar hotel bersama dengan seseorang yang diduga pasangannya yang kemudian dimasukkan ke dalam penjara atas dasar tindakan sodomi.

(Foto: Sumber dari Google)

Baca Juga: Tantang Yusril Turut Gugat AD/RT Semua Parpol, Demokrat: Dia Memihak...

Dilansir dari berbagai media, Mounir Baatour merupakan ketua partai liberal yang akan maju sebagai calon presiden dalam pemilu bulan November yang akan mendatang. Ia berencana menggatikan Beji Caid Essebsi yang sudah berusia 92 tahun itu, dan sudah mengumpulkan lebih dari 10.000 tanda tangan sehingga mencukupi persyaratan untuk mencalonkan diri.

“Tunisia membutuhkan program yang yang demokratis termasuk perbedaan ras, budaya, kepercayaan dan bahasa. Program kami bertujuan untuk mempertahankan demokrasi, memperkuat badan parlemen dan memberikan peran lebih pada institusi lokal,” ujar Baatour dalam laman Facebooknya.

(Foto: Sumber dari Google)

Baca Juga: Rizal Ramli: Jokowi Tak Usah Dukung Ahok, Dia Itu Beban

Baatour sangat yakin dengan masyarakat Tunisia yang relatif liberal, meskipun secara geopolitik Tunisia termasuk negara Arab yang mayoritas muslim yang ada di bagian Utara Afrika dengan yang kehidupan sehari-harinya hampir sama dengan orang-orang Eropa daripada Arab yang dianggap konservatif.

“Tunisia dibawa kepemimpinan Bourguiba menghapuskan poligami, memperbolehkan adopsi, memperbolehkan aborsi, mengakui hak-hak wanita, menurut saya negara ini negara yang sangat modern, negara yang sangat progresif dan kita tidak bisa membandingkan Tunisia dengan negara-negara Arab lain dalam hal kesetaraan ataupun hak-hak individu lainnya,” ujar Baatour.

(Foto: Sumber dari Google)

Jika saja Baatour terpilih, dia akan mengkampanyekan penghapusan hukuman mati, dekriminalisasi homoseksual, mendepak ajaran ekstrimisme di sekolah, liberalisasi ekonomi, dan menanggung biaya pendidikan, kesehatan, keamanan dan pertahanan.

Baca Juga: Rizal Ramli: Jokowi Tak Usah Dukung Ahok, Dia Itu Beban

Revolusi Tunisia di tahun 2011 telah banyak membawa perubahan, transisi demokrasi menjadikan Tunisia diisi oleh dua partai yang saling bersebrangan yang diakhiri koalisi dengan kebijakan-kebijakan yang sekuler.

Di tahun 2019, jajak pendapat yang dirilis oleh BBC Arab News dan Arab Barometer menunjukkan bahwa Tunisia semakin bergerak ke arah sekuler, dengan penduduk muslimnya mencapai 99 persen, 40 persen warganya mengaku tidak lagi orang yang religius dan ini merupakan yang tertinggi dari negara Arab lain.

 

 

 

Bagikan