Cara Ahok Mengubah Hidupnya dan Menjawab Kritikan Lawan

Ilustrasi ahok, karikatur ahok, kartun ahok, karikatur basuki tjahaja purnama
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.(terkini.id/hasbi)

Terkini.id – Ketika Ahok resmi menjadi Komisaris Utama (Komut) Pertamina, dia seperti memberi jawaban tersirat soal pertanyaan banyak orang dua tahun silam: Mengapa Ahok memilih menjalani penjara hingga dua tahun saat itu? Mengapa tidak mengajukan banding saat divonis penjara? padahal peluangnya ada!

Lalu, kini dua tahun berlalu. Ahok yang bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama sukses membalikkan keadaan hidupnya melalui proses yang luar biasa.

Dia seperti membuktikan bahwa mengalah itu terkadang diperlukan. Untuk memenangkan pertarungan di masa depan. Kemudian masa-masa ‘kalah’ itu diisi dengan belajar, mengevaluasi diri, lalu membiarkan waktu menjalankan tugasnya.

Mei 2017 silam, pria yang akrab dipanggil Ahok itu dijebloskan ke penjara terkait kasus penistaan agama.

Saat itu, Ahok benar-benar jatuh. Didemo berjilid-jilid oleh massa 212, gagal terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta periode kedua, dicap penista agama, lalu divonis hukuman 2 tahun penjara oleh hakim.

Tetapi siapa sangka. Dia kini menjadi petinggi salah satu perusahaan BUMN terbesar di negeri ini: Pertamina.

Di tengah berbagai protes dari para Serikat Pekerja Pertamina, Fadli Zon hingga Rizal Ramli yang meragukan kemampuannya, Ahok membalas dengan gaya guyon:

“Dia enggak tahu saya sudah lulusan S3 dari Mako Brimob,” ujar Ahok saat menerima SK sebagai Komisaris Utama PT Pertamina, Selasa 25 November 2019.

Gaya Ahok yang cenderung menanggapi kritikan dengan gaya guyon dan jawaban-jawaban yang pendek tentu berbeda dibanding dirinya sebelum dipenjara.

Ahok saat masih menjadi Gubernur DKI Jakarta, sering menjawab pertanyaan wartawan dengan panjang lebar. Tidak jarang, jawaban-jawabannya disertai suara yang tinggi bahkan emosional.

“Saya enggak tahu mafia migas tuh apa ya. Saya kan bukan godfather,” ujar Ahok singkat, saat ditanya wartawan soal pemberantasan mafia migas.

“Hidup gue ditolak melulu, kok, ha-ha-ha…,” ujar Ahok saat menanggapi penolakan Serikat Pertamina terkait jabatan barunya itu.

Jika disimak, Ahok memang berniat ingin melakukan perubahan besar dalam dirinya sejak divonis penjara.

Di dalam penjara, Ahok membaca Alquran (terjemahan) bahkan hampir khatam, menikmati buku berjudul “Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku”, dan melahap puluhan judul buku tentang filsafat, rohani bahkan buku-buku tentang Islam.

Bukan cuma itu, dia juga menulis hingga 3 buku. Meskipun cuma satu judul yang sukses diterbikan: ” Kebijakan Ahok”.

Dua tahun berlalu, dia bebas. Tidak mau dipanggil Ahok lagi yang dikenal suka marah, keras dan bikin gaduh.

Dia meminta dipanggil BTP. Mungkin untuk menunjukkan bahwa dia kini berubah. Bahwa se-gaduh-gaduhnya seorang Ahok, dia tetap mau belajar untuk lebih baik.

Mengatasi Difisit Pertamina

Ahok yang ditunjuk menjadi Komisaris Utama Pertamina, mendapat tugas penting yakni mengatasi impor migas yang besar.

Pertamina, selaku BUMN migas, memberi kontribusi yang besar bagi defisit transaksi berjalan negara yang melebar. Impor terlalu besar dibanding ekspor. Salah satu pemicunya adalah impor minyak pertamina.

Dengan menugasi Ahok, Pertamina didorong untuk mempercepat substitusi.

Bahan baku BBM tidak melulu minyak mentah yang diimpor, melainkan minyak sawit (CPO) yang bahan bakunya melimpah di Indonesia. Lewat program substitusi hingga B20 (solar dicampur minyak sawit 20 persen), hingga B30 bahkan B50, Ahok diminta mengawasi dan mengawalnya.

Ahok bukanlah ahli minyak. Namun Ahok punya pengalaman dan langkah-langkah menekan defisit.

Saat menjadi Gubernur DKI Jakarta, Ahok pernah populer dengan kalimat ‘pemahaman bapak lo’ karena langkahnya memelototi anggaran APBD Pemprov.

Ahok juga dikenal karena pernah membangun beberapa infrastruktur tanpa menggunakan APBD, seperti Simpang Susun Semanggi hingga RPTRA Kalijodo.

Bagaimana Ahok bisa membuat Pertamina berubah? Biarkan saja waktu yang menjawabnya.

Berita Terkait