Jadilah bagian dari Kolomnis makassarterkini
Kirimkan tulisan Anda seputar opini, gagasan, sudut pandang, dan peristiwa yang terjadi disekitar Anda. Dapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari Kolomnis makassarterkini.

Cara Minum Kopi: Seruput Dulu Lalu Diaduk atau Aduk Dulu Lalu Diseruput?

Terkini.id – Tren dan cara menikmati keaslian rasa kopi, berkembang seperti kedai-kedai kopi dan warkop yang menjamur.

Di Makassar, umumnya kopi disajikan dengan campuran susu kental manis (sekaligus pengganti gula) tanpa diaduk. Pengunjung kopi-lah yang dipersilahkan untuk mengaduknya.

Tetapi, para peminum kopi yang datang ke warkop dan lebih memilih kopi hitam tanpa susu kental manis, pastilah penikmat kopi sejati.

Mereka ini mungkin menempati kasta tertinggi peminum kopi di kedai-kedai kopi yang ada. Mereka yang lebih percaya, bahwa rasa pahit dan aroma kopi itulah sebuah kenikmatan yang hakiki. Tanpa perlu pemanis tambahan.

Di bawah kasta peminum kopi ini, ada dua kubu yang sedang ribut. Padahal mereka dari kasta yang sama, yakni peminum ‘kopi susu.’

Kubu yang satu lebih memilih menyeruput dulu kopinya lalu kemudian diaduk. Sementara kubu kedua, meyakini kopi susu itu harus diaduk dulu lalu diseruput.

Dua kubu ini sedang panas berdebat dan berargumentasi sejak Minggu dua hari lalu.

Kubu pertama berdalih, kopi itu dinikmati dulu rasa pahit dan asamnya, lalu belakangan rasa manis-manisnya. Seperti filosofi hidup: berpahit-pahit dahulu, bermanis-manis kemudian.

Baca :Tugas Erick Tohir, Bikin Rakyat Bergembira

Sementara kubu kedua, meyakini perpaduan kenikmatan rasa susu dan kopi itu harus dirasakan beriringan, dari awal sampai kopinya habis.

Salah satu pengikut kubu seruput dulu baru diaduk, adalah Calon Wapres RI, Sandiaga Uno. Penegasan bahwa dirinya adalah kaum ‘seruput dulu lalu aduk’ itu terungkap saat dia datang ke Makassar.

Sambil menyentil kubu sebelah, yang memang sering menyinyiri segala aktivitasnya (mulai dari pasar hingga warkop), Bung Sandi bilang begini:

“Sengaja (kopinya) tidak diaduk dulu supaya berasa aromanya dan tingkat keasamannya,” ucap Sandi.

Kalimat itu disampaikan Sandiaga saat berkunjung Warung Kopi Azzahrah, Jalan Bandang, Kota Makassar, Minggu 4 November 2018.

Sandi saat itu sedang mencoba jenis Kopi Toraja Arabika. Makanya, kopi itu harus dinikmati dahulu keaslian rasanya.

Foto Sandi yang meminum kopi yang belum diaduk itu pun membangkitkan hasrat nyinyir kaum sebelah.

Salah satu netizen pengikut kaum ‘aduk dulu baru seruput’, Fadly Abu Zayyan, mengungkapkan, cara Bung Sandi itu sepertinya menunjukkan kebiasaannya.

“Yaitu, ‘nyeruput’ dulu baru ‘nyusu’. Berbeda dengan orang kebanyakan, di mana ‘nyusu’ dan ‘nyeruputnya’ berbarengan. Yakni ‘nyusu sambil nyeruput’ atau ‘nyeruput sambil nyusu’. Lah, kalau ‘nyusunya setelah selesai ‘nyeruput’, apa ndak hambar? iya toh! atau jangan-jangan dia memang gak terlalu suka susu?” tulis Fadly yang menyinyiri cara Sandi. Di akhir postingannya, dia meminta yang membaca jangan berpikir aneh-aneh.

Baca :Forum Ulama Dorong Ustaz Somad Jadi Cawapres Prabowo Subianto

Lalu, kubu siapakah yang paling benar? Entah siapa yang menang atau kalah, jelasnya yang menang tentu adalah pengusaha kopi.

Di akhir pernyataannya, Sandiaga Uno menyampaikan pesan, bahwa kita harus melihat tahun ini dan kedepan adalah tahunnya warung kopi.

“Karena hal yang remeh temeh, hal yang paling sangat sederhana sampai hal negara urusan politik dibicarakan di warung kopi. Jadi 2019 adalah tahunnya warung kopi,” begitu kata Sandi.

Tulisan ini adalah kiriman dari kolumnis makasar terkini, isi dari tulisan ini adalah tanggungjawab penulis yang tertera, tidak menjadi bagian dan tanggungjawab redaksi makassar.terkini.id
Editor : Hasbi Zainuddin