Catat Tanggalnya, Film Suporter Masuk Pesantren Akan Segera Tayang di Bioskop

Sutradara dan pemain Film Suporter Masuk Pesantren melakukan tatap muka dengan awak media jelang tayang di Bioskop tanah air.

Terkini.id,Makassar – Film “Suporter Masuk Pesantren” yang dibesut Sutradara Quraisy Mathar, akan mulai diputar di bioskop tanah air pada 28 Maret 2019 mendatang.

Hal itu diketahui saat Kru Rumah Tujuh Langit dan sebagian pemain Dilm Suporter Masuk Pesantren menggelar pertemuan dengan sejumlah awak media yang ada di kota Makassar, di Warunk Upnormal Andi Djemma, Kamis 7 Maret 2019.

Sutradara Film Suporter Masuk Pesantren, Quraisy Mathar mengatakan rencananya film itu tampil perdana di bioskop pada tanggal 28 Maret 2019 mendatang.

“Sebelum tayang, kami ingin berbagi tentang proses lahirnya film Suporter Masuk Pesantren kepada rekan-rekan media,”tutur Sutradara Film Melawan Takdir ini.

Sutradara dan pemain Film Suporter Masuk Pesantren 

Dikatakan putra mantan Rektor UIN Makassar ini, Film Suporter Masuk Pesantren bercerita tentang seorang pemuda (Aso) yang memiliki hobi menonton tim sepak bola favoritnya setiap bertanding di stadion. Setiap ada kesempatan, tak pernah Aso lewatkan untuk menonton laga tim kesayangannya.

Kemudian dimasukkan ke pesantren oleh orang tuanya. Kondisi Pesantren menyebabkan Aso tidak lagi bisa secara leluasa menyalurkan kegemaran menontonnya ke stadion.

Aso kemudian bersahabat dengan Dul, Yos dan Sultan, tiga orang kawannya yang berasal dari daerah yag berbeda-beda. Pesantren kemudian menjadikan persahabatan mereka menjadi sahabat kandung.

“Kebetulan saya alumnus pesantren. Saya juga pernah menginisiasi terbentuknya suporter, hampir semua selalu ada anak santri yang bergumul di situ. Jadi, kami tidak heran kemudian ketika bola selalu ada kaitan dengan pesantren,” kata Quraisy Mathar, produser Rumah 7 Langit.

Dia mengatakan film ini hendak mengubah perspektif masyarakat tentang pesantren yang berlabel “menakutkan”.

Dia mencontohkan bahwa anak-anak yang dianggap nakal sering kali dimasukkan di pesantren untuk memberi efek jera. Padahal, sambungnya, pesantren bukan “penjara”.

“Kasus meninggalnya Haringga yang kemudian divonis sebagai pelaku itu, minta hukumannya masuk pesantren saja. Itu kan menjadi pukulan telak buat anak santri. Bahwa seakan-akan pesantren itu betul-betul penjara, padahal tidak,”lanjutnya.

Dia menilai banyak kisah-kisah lucu dalam pesantren. Ada pun cuplikan lucunya di film superter masuk pesantren.

“Si santri berusaha untuk pergi nonton ke stadion dan mereka tidak mendapat ijin kemudian kabur, setelah balik dari pesanten teryata dalam perjalanan pulang dia bertemu dengan ustadnya yang juga dari nonton sepak bola,” ujarnya.

Anak santri cukup familiar karena ruang bermain hanya di lapangan sepak bola. Karena keterbatasan tidak boleh pakai gadget kemudian telivisi dan radio pada jaman saya tidak diperbolehkan. Memamg ruang hiburan kami hanya sepak bola.

“Film ini sedang mensosialisasikan pesantren kepada anak-anak yang sedang berpikir akan melanjutkan sekolah ke mana. Pesantren menjadi salah satu alternatif yang seharusnya tidak boleh dilihat sebagai sesuatu yang menyeramkan,”tutupnya.

Berita Terkait