Cek Fakta : Benarkah Penangkapan Ikan Mas Jumbo di Danau Toba Terkait Karamnya KM Sinar Bangun?

Penangkapan Ikan Mas Jumbo di Danau Toba, Sumber : Facebook Juliarson Saragih

Terkini.id, Jakarta, – Lagi viral di media sosial, warganet dihebohkan dengan penangkapan ikan mas jumbo pada Sabtu, 8 Agustus 2020. Kejadian ini sontak menjadi viral karena ikan mas yang ditangkap warga bukan ikan mas jumbo biasa melainkan ikan mas dengan bobot beratnya 15 kilogram.

Akun Facebook Fahmi Ramadhan mengunggah foto hasil dari memancing ikan mas jumbo di Danau Toba, Sumatera Utara.

Dalam unggahannya di Facebook pada 10 Agustus 2020, Fahmi Ramadan mengaitkan penangkapan ikan mas pertanda musibah lagi. Ia mengaitkan dengan peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun beberapa tahun silam.

Tangkapan layar facebook Fahmi Ramadhan penangkapan ikan mas jumbo di danau Toba

Berikut caption yang diunggahnya dalam Facebooknya :

Masih ingat dengan Tragedi tenggelam nya KM Sinar Bangun di Danau Toba???

Menarik untuk Anda:

Ya Tragedi yg menewaskan 150 lebih jiwa.Tragedi yg disebabkan kelebihan muatan kapasitas kapal tersebut, ditambah cuaca yg buruk.

Namun jika ditilik dari sisi Adat dan mitos yg berkembang di Danau Toba, kejadian tersebut dikaitkan dengan penangkapan Ikan Mas Besar berbobot 15 kg lebih oleh salah seorang pemancing sebelum kejadian tersebut.

Seperti yg kita ketahui bersama Danau Toba adalah Danau Vulkanik terbesar di Asia Tenggara yg menjadi Ikon pariwisata di Sumatera Utara, tpi dibalik keindahan nya, Danau ini menyimpan sejuta misteri dan mitos” yg menyelimuti nya, salah satunya adalah penunggu Danau yg dipercaya adalah Ikan mas besar , oleh karenanya masyarakat sekitar melarang penangkapan Ikan Mas yg ukurannya diatas kewajaran.

Namun tidak lama ini beredar kabar kalau ada seorang pemancing yg berhasil menangkap Ikan Mas berbobot 15 Kg di daerah Silalahi, Tanah Karo, yg masih perairan Danau Toba.Kita doakan saja semoga tidak ada tragedi serupa terjadi lagi di Danau Toba. Mari kita jaga kelestarian Alam sekitar. Jika kita menjaga Alam, Alam pun akan memberikan keramahan nya pada kita.Semoga kita tetap dilindungi Tuhan yg maha kuasa,”

Unggahan Fahmi tersebut telah dibagikan lebih dari seratus kali dan dipenuhi komentar dari warganet di bawah unggahannya.

Namun, benarkah peristiwa penangkapan ikan mas jumbo mendatangkan musibah seperti halnya yang dipercayai warga seputaran Danau Toba, bahkan dikaitkan peristiwa tenggelamnya kapal KM Sinar Bangun.

Dari penelusuran Cek Fakta dengan memasukkan kata kunci “ikan mas danau toba” melalu situs pencari Google Search melansir dari Cek Fakta Liputan6.com.

Beberapa artikel yang membahas mengenai peristiwa tersebut salah satunya berjudul :  “Ikan Mas Seberat 15 Kg di Danau Toba Tertangkap, Warga Resah Akan Ada Musibah” yang ditayangkan situs kumparan.com pada 10 Agustus 2020.

Artikel tersebut menuliskan narasi sebagai berikut :

Sebuah video warga di Tao Silalahi, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, memperlihatkan seekor ikan mas berukuran raksasa berhasil ditangkap. Bahkan, saking besarnya, ikan tersebut tampak harus dipeluk oleh warga yang hendak mengabadikannya dengan foto.

Video detik-detik penangkapan ikan mas raksasa tersebut pertama kali diunggah oleh akun Facebook Juliarson Saragih pada, Sabtu (8/8). Ia dan teman-temannya saat itu tengah memancing di Danau Toba, Tao Silalahi. “Berhasil mendarat dengan sempurna ikan mas 15 kg,” tulisnya.

Dalam video yang diunggah Juliarson, ia bersama empat orang temannya tengah memancing di Danau Toba. Namun, seketika, mereka terkejut karena umpan joran pancing milik seorang temannya memakai baju abu-abu dimakan oleh ikan.

Tak ayal, video detik-detik penangkapan ikan tersebut tampak tak berjalan dengan mudah. Ia bahkan harus dibantu oleh seorang temannya agar ikan mas raksasa itu bisa dibawa ke daratan.

Selain itu, seorang pria juga terlihat turun ke danau untuk mengangkat ikan mas yang disebut berbobot 15 kilogram tersebut. Bahkan, saking besarnya, ikan tersebut harus dibawa oleh dua orang pria.

Namun, setelah diunggah dua hari lalu, video itu kemudian viral. Bahkan, banyak warganet yang menyarankan agar ikan tersebut dikembalikan ke danau karena dianggap bisa menyebabkan bencana.

Diketahui, hal serupa juga pernah terjadi sebelum peristiwa tragedi KM Sinar Bangun pada Juni 2018 silam. Saat itu, seorang warga mendapat ikan mas raksasa yang ditaksir memiliki berat 13,5 kilogram. Namun, nahas, setelah penangkapan ikan mas raksasa itu, peristiwa mengerikan pun terjadi dengan tenggelamnya KM Sinar Bangun yang menewaskan ratusan orang.

Dengan hal itu, sejumlah warganet pun beranggapan bahwa ikan mas raksasa tersebut sebaiknya dikembalikan saja. Pasalnya, dari kabar yang beredar, banyak orang beranggapan, bahwa ikan mas itu merupakan sebuah tanda musibah.

Akan tetapi, meski dianggap sebagai mitos, namun sejumlah warganet khawatir dengan penangkapan ikan mas raksasa berbobot 15 kilogram tersebut. Hingga kini, video tersebut telah dilihat ribuan orang dan telah beredar luas di berbagai jejaring media sosial. “Kalau bisa dilepas aja to, jangan dimasak, kasihan. Cobalah ikan sebesar itu, jangan terjadi kesekian kalinya yang pernah dialami dulu,” ucap Elprida Lestari Nainggolan Parhusip. “Kalau saya bagusnya dilepas aja udah segitu besarnya lagian sebentar lagi bertelur itu. Jadi, bisa dilestarikan biar makin banyak bibit ikan masnya tambah,” lanjut Hutahaean Tommy.

“Jadi ingat kejadian-kejadian di danau toba yang katanya berawal dari dapatnya ikan mas yang gede berujung bencana. Sebaiknya dilepas aja bang. Kasihan juga ikannya,” timpal Mutya Annisa Hafsah.

Menelusuri peristiwa tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, ada artikel yang dimuat situs detik,com pada 26 Desember 2018 lalu, berjudul “ Tragedi Karamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba”

Demikian narasi berita tersebut :

Jakarta – Kapal Motor (KM) Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba, Sumatera Utara, mengalami kecelakaan pada 12 Juni 2018 lampau. Peristiwa itu menjadi tragedi transportasi yang tak boleh terulang lagi.

Senin (12/6/2018), masih dalam suasana libur lebaran, sekitar pukul 16.00 WIB sore, KM Sinar Bangun yang berangkat dari Pelabuhan Simanindo di Pulau Samosir ke Tigaras diketahui mengalami kecelakaan.

21 Orang berhasil dievakuasi, 3 orang di antaranya tewas. Sebanyak 164 orang dinyatakan hilang.

Kapal karam di kedalaman 450 meter. Pencarian dan evakuasi korban sulit dilakukan. Selain angin kencang dan ombak yang sempat menghalangi pencarian, kondisi di dalam air juga tidak mudah ditangani, ada pula ganggang yang menghalangi. “Di dalam sudah diselami sampai kedalaman 50 meter, tidak ditemukan apa-apa karena cukup gelap, keruh, dan airnya dingin sekali,” kata Kabasarnas M Syaugi di Kementerian Perhubungan (Kemenhub) Jakarta, Rabu (20/6/2018).

Jarak pandang sangat terbatas gara-gara keruhnya air, sekitar 5 meter saja. Dua alat remotely operated underwater vehicle (ROV) portable dikerahkan untuk menyelami dasar danau.

22 Juni, Nakhoda KM Sinar Bangun bernama SS ditetapkan sebagai tersangka. Tiga hari kemudian dipastikan bahwa tiga orang pegawai Dinas Perhubungan Sumatera Utara juga ditetapkan sebagai tersangka dan dikenakan Pasal 302 dan 303 UU No 17 tahun 2008 tentang Pelayaran jo Pasal 359. Ketiga oknum tersebut masing- masing Kepala Bidang Angkutan Sungai dan Danau Rihard Sitanggang, Kapos Pelabuhan Simanindo Golpa F. Putra dan pegawai honorer Dishub Samosir Karnilan Sitanggang.

Kabid Humas Polda Sumut, AKBP Tatan Dirsan Atmaja menyatakan kapal itu melaju tanpa manifes. Data penumpang sulit dipastikan. Namun ratusan orang mencari keluarganya, berharap selamat dari kapal nahas itu. Kapal itu dinyatakan Idrus Marham (saat itu sebagai Menteri Sosial) kelebihan muatan. Kapal yang harusnya berkapasitas 40 orang saja, ternyata diisi hingga 200 orang. Korban meninggal dunia mendapat santunan dari Mensos masing-masing RP 15 juta.

“Kita melihat kasus ini terjadi bukan hanya karena masalah kesalahan murni daripada nakhoda sebagai pengemudi dan pemilik kapal,” kata Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam jumpa pers di Gedung Pusdalsis Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (25/6/2018).

Tito melihat tragedi ini juga akibat sistem dan manajemen transportasi, juga regulasi yang tidak dipenuhi. Kapal kelebihan muatan, tak ada manifes penumpang.

Pencarian sempat diperluas. Namun karena sulitnya pencarian dan pertimbangan kondisi jasad korban di dasar Danau Toba, maka Operasi SAR Nasional dihentikan pada 3 Juli 2018.

Tak terima dengan penghentian pencarian itu, aktivis Ratna Sarumpaet adu mulut dengan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan di Posko Tim Pencarian KM Sinar Bangun, Pelabuhan Tigaras, Kabupaten Simalungun, Senin (2/7/2018) sekitar pukul 09.00 WIB.

“Mau minta sama Pak Luhut ya. Ini (pencarian korban KM Sinar Bangun) nggak boleh dihentikan,” kata Ratna.

Luhut juga bereaksi keras, “Kamu bukan prioritas saya pertama. Prioritas saya rakyat ini. Kamu macam-macam… Kau boleh ngomong sama orang lain macam-macam. Jangan sama saya! Ngerti kau!” ujar Luhut. Protes Ratna juga disanggah oleh seorang perempuan dari unsur masyarakat.

Pihak Istana Kepresidenan membela Luhut. Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menilai Ratna telah memprovokasi keluarga korban KM Sinar Bangun.

“Menurut saya, tidak boleh ada yang main di air keruh. Tidak boleh, siapa pun itu,” tutur Ngabalin kepada detikcom, Selasa (3/7/2018). Ratna membalas kembali dengan pernyataan, “Kasih tahu sama Ngabalin, jangan asal ngomong saja dia. Dasar penjilat.”

Kepala SAR Medan santai menanggapi aksi Ratna. “Itu kami nggak peduli. Suruh saja Bu Ratna nyelam, ha-ha-ha…,” ujar Kepala SAR Medan sekaligus Koordinator Tim Pencarian KM Sinar Bangun, Budiawan, kepada detikcom, Selasa (3/7/2018). Ratna bereaksi balik, “Ini negara demokrasi, jangan ngomong suruh nyelem, nyelem kan nggak ada gunanya kecuali dia ada cara lain yang mungkin dia minta anjuran apa, jangan kasar gitu lah, kampungan!”

Dari penuturan beberapa warga sekitar Danau Toba, salah satunya penuturan dari Saut Napitupulu mengungkapkan bahwa warga sekitar sudah biasa menangkap ikan mas seberat 14-15 kg di Danau Toba wilayah Parparean Porsea bahkan pada 2016 pernah mendapat ikan mas seberat 23kg. Jadi warga di sekitar Danau Toba sudah biasa menangkap ikan mas seberat di atas 14 kg.

Dari penelusuran klaim penangkapan ikan mas jumbo tidak benar berhubungan dengan kejadian tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba pada Juni 2018 lalu, jauh sebelum penangkapan ikan mas jumbo oleh warga dan tidak ada hubungan antara karamnya KM Sinar Bangun dengan penemuan ikan mas jumbo

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Cek Fakta : Benarkah Seluruh Ruangan Wisma Atlet Sudah Penuh Pasien Covid-19

Cek Fakta : Benarkah Orang Gila Tidak Mempan Covid-19?

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar