Cenning Rara, Cara Jitu Wanita Bugis Memikat Kaum Pria

Cenning Rara
Wanita Bugis

Terkini.id – Mencari pasangan hidup memang bukan perkara mudah. Banyak orang mengatakan itu susah-susah gampang. Beragam taktik dimainkan, pun beragam cara dilakukan untuk menemukan dia sang belahan jiwa. Satu diantaranya dengan Cenning Rara, sebuah cara yang biasa ditempuh para gadis sejak lampau di tanah bugis.

Siapa yang ingin hidup melajang selamanya. Telat jodoh saja sudah membuat kegelisahan luar biasa, tidak saja pada yang bersangkutan, tapi juga pada keluarga.

Apalagi bagi sang perempuan, tidak seorang pun ingin dicap “lolobangko” atau perawan tua atau yang lebih menakutkan lagi menyandang predikat gadis seumur hidup.

Untuk itu, pembenahan diri dengan berusaha tampil paripurna kerap dilakukan. Bagi perempuan masa kini, siap dengan rangkaian perawataannya telah menjadi menu wajib.

Sementara itu, bagi sebagian dara bugis mereka telah mengantongi warisan leluhur yang diyakini dapat membuat penampilan lebih menarik dalam keseharian. Resep mujarab itu bernama cenningrara.

Cenning Rara
Wanita Bugis

Dalam sejarahnya, Cenning Rara adalah prasesi untuk mengeluarkan aura dalam diri, sehingga telah menjadi sebuah kepercayaan bahwa dengan menggunakan Cenning Rara akan mendatangkan jodoh lebih mudah.

Cenning Rara sendiri berasal dari kata cenning yang berarti manis dan cendra atau cendrara yang berarti bulan atau matahari yang pada hakekatnya adalah cahaya.

Apalagi bulan dalan konteks kebudayaan bugis merupakan puncak keindahan alam dan di dalam. Maka, manis dari keduanya tak lain dimaktubkan untuk membuat diri dan penampilan kian bercahaya seperti bulan atau matahari bagi anak perawan.

Cenning rara ini biasa dilakukan dengan media minyak kelapa yang ditanak, telur yang direbus, atau beras yang dijadikan bedak.

Dalam perjalanannya, cenning rara pun terkoptasi oleh nilai-nilai religi yang berkembang di masyarakat. Kuatnya pengaruh islam, menuai perubahan dalam pengadaan media dan mantranya.

Cenning Rara
Wanita Bugis

Menurut Pammuda, SS, yang merupakan dosen sastra daerah Universitas Hasanuddin ini mengatakan bahwa pada zaman pra-islam, seremonial untuk mendapatkan cenningrara bersifat lebih ekstrim.

Karena dalam konteks kebudayaan bugis, bulan dianggap sebagai puncak keindahan alam dan di alam, maka bagi anak perawan yang berminat memperolehnya, cenningrara hanya dapat dilakukan pada saat gerhana bulan.

Menyediakan medianya pun tidak tanggung-tanggung harus merupakan hasil curian dengan prasyarat sebuah totalitas diri yang hanya menggunakan tubuh tanpa secuil kain melapisinya (baca telanjang).

Akan tetapi, ungkap Pammuda lebih lanjut, karena barang yang dicuri semata hanya peruntukan cenning rara, maka pembelajaran mencuri dalam konteks cenning rara tidak ada.

Motif pencurian ini hanya sekedar menjalankan misi pemujaan terhadap keindahan bukan bermotif ekonomi. “Sebab motif pencurian tidak dilandaskan karena alasan ekonomi, hanya semata untuk pemujaan keindahan atau cenningrara, maka pembelajaran mencuri itu tidak ada”, ujar akedemisi yang masih lajang ini.

Lantas bagaimana dengan keadaan diri yang bebas terbuka tanpa sehelai benang? Pammuda menuturkan, bahwa dalam keranka pemikiran fisik, dicobalah peniruan makro oleh makro. Bulan dianggap sebagai mahkota alam.

Ketika sang bulan menghilang maka alam diperumpamakan telanjang. Manusia sebagai mikro hendak meniru alam yang mencari rembulan tersebut, maka telanjangla mereka.

Kini dalam keadaan seperti itu, samalah dalam keadaan alam yang mencari, maka ketika dengan niat tertentu mengambil (mencuri) barang-barang, diasumsikan mereka telah menemukan bulan yang siap memperindah dirinya dan itulah yang kemudian disebut cenningrara.

Cenning Rara
Wanita Bugis Makassar

Sementara itu, perubahan paling mendasar dari propesi ini setelah masuknya ajaran islam, dengan dihilangkan syarat telanjang dan mencuri.

Tapi jangan berlega hati lebih dahulu, sebab kini bagi si pencari cenningrara harus membawa seekor ayam putih atau ayam hitam kepada sanro (dukun), dengan disertai sejumlah uang dalam nominal tertentu.

Bacaan yang melengkapi media pun ditambahkan dengan Fatimah putri Rasulullah SAW dan Barakka La Ilaha Illallah dengan arti semoga Allah mengabulkan. Sebuah pendeskripsian penyerahan diri seorang hampa kepada Tuhannya. Bahwa segala usaha yang dilakukan penetuannya berpulang kembali kepada kuasa Tuhan.

Berikut petikan mantra yang biasa dipakai atau dibaca dengan menggunakan bedak. Bacaan ini diajikan sesaat sebelum bedak tersebut dipakai atau disapukan keseluruh permukaan wajah. Berikut kutipannya:

Bedda’na Fatimah u wabedda,
u paenre ri rupakku
Namatappa pada uleng tepu
Barakka La Ilaha Illallah

Artinya;

Bedaknya Fatima yang kupakai
Kupakai di wajahku
Dan bercahaya seperti bulan purnama
Semoga Allah mengabulkan.

Cenning Rara
Wanita Bugis

Itulah sekelumit kisah dari cenning rara. Berminat mencoba? Itu sebuah pilihan bebas. Tapi satu hikmah yang dapat dipetik bahwa, penyertaan Tuhan dalam tarikan nafas dan denyut nadi, dalam langkah dan tindakan adalah hal terpenting yang tidak boleh terabaikan.

Sebab sejatinya, keberhasilan akan mencapai tingkat kesempurnaan jika sebuah usaha dibarengi dengan ridho Sang Khalik. Termasuk dalam hal cinta kasih. Bukankah Tuhan sang pemilik cinta? Semoga cinta anda kepada pasangan bentuk manifestasi cinta anda kepada Tuhan.

Penulis: Nina

Berita Terkait
Komentar
Terkini
Opini

Bangga Claudia

WARTAWAN Radar Cirebon saya minta ke Grage City Mall. Ke lantai 2. Di situ ada gerai cepat saji. Namanya sangat masa kini: Pota Friend."Tutup
Opini

Produksi Garam Jeneponto Semakin Merosot

GARAM merupakan bumbu masak yang paling sering digunakan oleh ibu rumah tangga. Tidak lengkap rasanya jika suatu masakan tidak ditambahkan garam. Berbicara mengenai garam,
Opini

Putusan Ayodhya

Satu masjid.Ribuan orang tewas.Entah masih akan berapa ribu lagi.Tergantung apa yang akan terjadi berikutnya. Setelah ada putusan mahkamah agung Sabtu kemarin.Ini bukan sembarang masjid:
Opini

Ibu Kota Sepaku

SAYA ke ibu kota Indonesia. Sabtu kemarin. Setelah acara wisuda di Universitas Mulia Balikpapan.Ke sebelah mananya?Ke pinggirnya.Belum bisa ke tengahnya? Belum ada jalan ke
Opini

Ikut Ribut Tentang Cadar dan Cingkrang

WACANA melarang ASN memakai celana cingkrang dan cadar, menjadi bola panas. Sepekan sudah masalah ini jadi polemik. Berkepanjangan, digoreng sana-sini, dikomentari ragam kalangan.Padahal, aturan
Opini

Anies Baswedan dan Partai Nasdem

ANIES mengatakan bahwa dia hadir di Kongres Nasdem karena posisinya sebagai Gubernur DKI. Yang kebetulan kongres diadakan di Jakarta, maka wajarlah dia hadir. Saya sudah
Opini

Promosi dan Demosi Jabatan

MELIHAT praktik penyelenggaraan pemerintahan khususnya pemerintahan daerah, sepertinya pembinaan dan pengembangan karir dari Aparatur Sipil Negara (ASN) yakni; pegawai negeri sipil atau PNS oleh
Opini

Garis Pendek, Garis Panjang

SUATU hari filsuf agung Ariestoteles masuk ke dalam kelas dan memberikan sebuah tantangan kepada murud-muridnya. Ia menggambar sebuah garis lurus di papan tulis, kemudian
Opini

Tentang Kasus Penyiraman Air Keras

BELAKANGAN ini terutama beberapa hari ini banyak sekali beredar opini seputar kasus Novel Baswedan (NB).Saya tidak mau menanggapinya. Karena itu pendapat dari para influencer.
Opini

What’s Up with Radicalism?

ADA satu hal yang seolah menjadi nyanyian bersama kabinet Presiden Jokowi-Ma’ruf kali ini. Yaitu ingin memberantas radikalisme yang menurut mereka sedang mengancam sendi-sendi kehidupan