Cerpen : Malaikat Berkacamata

Cerpen "Malaikat Berkacamata" oleh Crefty Ainil Haq

Malaikat Berkacamata
Oleh Crefty Ainil Haq

Terkini.id, – Hari ini terasa lebih dingin dari hari sebelumnya, beriringan derai hujan yang kian giat
menerpa setiap benda yang ada di bumi. Seorang gadis cantik terlihat sudah berpakaian rapi dengan
mata yang tak dapat lepas dari sebuah buku. Tiba tiba terdengar suara langkah kaki yang membuatnya
menghentikan segala aktivitas yang ia lakukan.

“Apa kau sudah bangun? Kau tidak sedang membaca buku lagi kan?” kata seorang wanita dengan
setelan jas hitam sambil membuka pintu.
“Apa aku sudah gila sampai sampai membaca buku sepagi ini? Berhenti mengatakan kata itu, aku
benar benar sudah muak sekarang”
“Benar, berhenti membacanya dan jangan pernah bermimpi untuk menjadi seorang penulis lagi! Ayo
kita ke bawah untuk makan”
“Pergilah lebih dulu, aku akan menyusul”
Wanita itu tersenyum lalu berjalan menuju ke meja makan. Sementara Awalia terlihat
menghela nafas setelah hampir tertangkap basah tengah membaca sebuah novel. Setelah merapikan
bukunya, ia segera menuju ke ruang makan dan berangkat ke sekolah.

Awan awan hitam mulai menghilang dan matahari mulai memancarkan sinarnya, Awalia
kembali membaca novel yang sempat terhenti karena ibunya.
“Sampai kapan kau akan seperti ini?” tanya seorang pria paruh bayah yang tengah fokus dengan
jalanan yang ada di depannya.
“Sampai saya bisa melupakan arti kata buku”
“Kamu berusaha melupakan kata buku dengan cara membaca kata itu? Apakah ini yang dimaksud
“kids jaman now”?”
“Siapa yang mengajarimu kata itu? Ah, kurasa aku butuh oksigen sekarang” kata Awalia yang tidak
dapat menahan tawanya
Seperti biasa, Awalia selalu menjadi pusat perhatian setiap penghuni sekolah. Kecantikan dan
kekayaan yang ia miliki sukses membuat semua orang terhipnotis olehnya.
“Tuan putri kita sudah tiba, terlambat lagi?” kata seorang gadis bernama Aulia
Awalia yang mendengarnya kamudian berbalik dan menatap gadis itu tanpa mengeluarkan
sepatah kata pun. Dia tersenyum lalu meninggalkan Aulia bersama teman temannya.
“Awalia, putri seorang pengusaha sukses yang bebas melakukan apapun. Wah, aku benar benar iri
dengan keistimewaan itu, sayangnya, dia bahkan tak punya teman” kata Aulia sambil memberi
penekanan di setiap kata yang ia ucapkan
“Apa hidupmu memang hanya didedikasikan untukku? Jika ia, berhenti melakukannya, aku tak butuh
diperhatikan atau dipuji oleh gadis yang hanya bisa mengeluarkan celaan dari bibir yang tak berguna
itu” kata Awalia yang kemudian pergi meninggalkan orang orang.

***

Menarik untuk Anda:

Bel kembali berdering, semua guru terlihat mulai berjalan memasuki ruang kelas. Begitu pun
dengan pak Yusril, ia terlihat berjalan menuju kelas 11 Ipa 2 dengan seorang gadis cantik
berkacamata yang mengikutinya.
“Selamat siang, hari ini kalin kedatangan teman baru, silahkan masuk dan perkenalkan dirimu”
“Yah, sudah kuduga, murid barunya pasti adalah orang aneh, lihatlah, dia bahkan tak bisa melihat
jarum jam dengan tepat akibat penyakit buku yang ia alami” teriak salah seorang murid laki laki yang
sukses membuat seluruh kelas tertawa, tak terkecuali Awalia.
Murid itu kemudian berjalan ke arah bangku kosong yang berada di dekat Awalia.
“Seorang kutu buku bersebelahan dengan seseorang yang bahkan sudah muak dengan hanya melihat
buku? Wah, kupikir mereka akan menjadi sangat cocok” kata Aulia sembari menatap sinis ke arah
Awalia.
“Muak melihat buku? Dia bahkan membeli 5 novel di toko kemarin” pikir Metri.

Jam istirahat tengah berlangsung, Awalia terlihat masih berada di kelas bersama dengan Metri
yang sedang sibuk membaca buku yang baru diambilnya dari toko buku miliknya. Tiba tiba Awalia
meraih tas nya dan pergi meninggalkan Metri.
“Mau kemana? Apa aku boleh ikut bersamamu?” tanya gadis berlesung pipi itu namun diabaikan oleh
Awalia.
Sedangkan di depan kelas, terlihat Aulia yang sedang asik berbicara dengan teman temannya
dan tak sengaja melihat Awalia.

“Lihat gadis itu. Apa kau tidak berfikir dia aneh, dia selalu membawa tasnya ke dalam wc, mari kita
ikuti dia” kata Aulia sambil bergegas mengikuti Awalia.
Di sisi lain, di suasana yang sepi dan sedikit berbau, Awalia terlihat sedang membaca sebuah
novel hingga bel masuk kembali barbunyi. Dengan wajah yang terlihat memerah, ia keluar dari
ruangan yang sempit dan panas itu sambil memasukkan novel ke dalam tasnya. Tiba tiba seseorang
menarik tangannya dan memposisikan wajah Awalia tepat dihadapannya.
“Hy, Awalia. The most wanted girl yang ternyata adalah seorang kutu buku juga, wah, kupikir gadis
berkaca mata itu benar benar hebat memengaruhi seseorang. Mereka hanya duduk bersebelahan
selama 2 jam dan lihat, gadis cantik kita sudah berubah menjadi seorang kutu buku” katanya sambil
menggenggam tangan Awalia.
“Sekarang apa? Mau mengadu ke seluruh warga sekolah? Lakukan dan kau akan tau akibatnya”
Awalia mencoba melawan.
“Oh, kau membuatku takut Awalia,hhhhh. Akan lebih baik jika semua warga sekolah menyaksikan
ini. Sekarang, kirim videonya ke semua orang! Oke, aku akan pergi dan lihat apa yang akan kau
dapatkan” Aulia melepaskan genggamannya dan keluar dengan bangga.
Awalia menangis dengan hanya membayangkan apa yang akan terjadi. Dia kemudian duduk
dengan memeluk kedua lututnya sambil menunduk dan menangis. Tiba tiba, dia merasa seseorang
memegang bahunya. Dia berbalik dan mendapati Metri yang tengah tersenyum kepadanya.

“Apa kau baik baik saja? Apa kutu buku terlalu menyedihkan? Apa kau mau membantuku?”
“Membantu? Apa yang harus kulakukan?” tanya Awalia bingung.
“Aku mengidap kanker darah stdium akhir, dan aku yakin bahwa hidupku sudah tak lama lagi jadi aku
tak mungkin bisa mengubah imej kutu buku menjadi labih baik. Tapi, setelah melihatmu kemarin di
toko buku milikku, aku merasa masih ada harapan. Ikutlah lomba menulis novel bersamaku! Aku
yakin kau bisa mengubah imej seorang kutu buku menjadi lebih baik dengan kecantikan dan
kepopuleran yang kau miliki” katanya sambil tersenyum.
“Kepopuleranku mungkin akan hilang ketika aku melangkah keluar dari tempat ini, aku sangat malu
menatap orang orang, dan aku tak mungkin bisa mengikuti lomba itu, ibuku menentang semua jenis
karya tulis termasuk novel. Dia tak ingin aku meninggalkannya seperti ayah”
“Kau harus melawan ibumu, tak semua yang orang lain inginkan harus kita lakukan. Apa kau merasa
nyaman membaca novel di tempat ini? Apa kau tidak lelah berbohong kepada ibumu? Kumohon! Kau
satu satunya harapan yang kumiliki, kau mungkin juga bisa membuat ibumu sadar jika kau
memenangkan lomba ini”
“Aku akan melakukannya, aku pernah menulis sebuah novel dan itu sudah masuk tahap akhir. Aku
akan menyelesaikannya demi dirimu” Awalia tersenyum dan kemudian dibalas oleh Metri.

Tiba tiba, Metri terjatuh dan tak sadarkan diri, mukanya terlihat sangat pucat bahkan hampir
seperti mayat. Dia kemudian menelepon ambulance dan berusaha membawa Metri keluar dari wc
yang semakin panas itu. Seperti kilat, dalam beberapa menit ambulance telah datang dan segera
membawa Metri ke rumah sakit. Di tengah perjalanan, dengan dibantu beberapa peralatan medis,
Metri membuka matanya kemuadia tersenyum kepada Awalia.

“Kau lihat kan? Hidupku memang sudah tak lama lagi, aku akan pergi sekarang, selesaikan novelmu
dan bawa piagam kemenanganmu ke batu nisanku” ia tersenyum dan perlahan menutup matanya
Seketika, Awalia tak lagi merasakan denyut nadi dan hembusan nafas dari Metri. Air matanya
sudah tak bisa mununggu, dia mengalir dan tak tau cara untuk menghentikannya. Dia mengingat
semua yang dikatakan Metri dan berjanji akan melakukannya.

Sesampainya di rumah, dia segera berlari menuju kamarnya dan mencari novel yang sudah
dalam tahap akhir itu. Dia kemudian menyelesaikannya dan segera mengirimnya. Dia terlihat yakin
saat menuliskan namanya sebagai “pengarang” dari novel tersebut. Sayangnya, dia harus menunggu
selama satu minggu untuk melihat hasil dari lomba tersebut. Setelah kejadian itu, dia mulai terbuka
tentang hobinya membaca novel, dia tak lagi bersembunyi di dalam wc melainkan secara terbuka
membaca setiap lembar novelnya di taman dan di dalam kelas. Berbeda dengan apa yang ia
bayangkan, temannya justru semakin memuji Awalia dan mulai mengikuti hobi Awalia. Kepopuleran
seseorang benar benar bisa mengubah segalnya. Awalia tak lagi tertutup karena dia telah memiliki
banyak teman dengan hobi yang sama dengannya. Di tengah keheningan kelas jam istirahat, tiba tiba
seorang wanita dengan rambut sebahu datang dan menghancurkan semua keheningan itu.

“Awalia, apa ini? apa kau ingin melihat ibu mati? Kau mengikuti lomb menulis tanpa sepengetahuan
ibu, apa kau juga ingin meninggalkan ibu setelah menjadi penulis yang sukses?” kata wanita tersebut
dengan nada tinggi.

“Ayah tak meninggalkan ibu begitu saja, pasti ada alasan dibalik itu. Kumohon, jangan melarangku
membaca lagi, kau adalah seorang ibu seharusnya kau tau apa yang diinginkan anakmu, aku hanya
ingin hidup sesuai dengan keinginanku. Maaf, aku tak bisa mengikuti kemauanmu kali ini” jawab
Awalia sambil meraih piagam di tangan ibunya dan segera meninggalkan semua orang.
“Awalia benar, aku tak mungkin meninggalkanmu begitu saja” suara seorang pria yang terlihat sedikit
lebih tua dari ibunya.
Dia melangkah lebih dekat kepada Awalia, semua orang kebingungan melihat pria itu
termasuk Awalia. Dia kemudian meraih novel yang dibaca Awalia dan tersenyum kepadanya.
“Apa kau menyukai novel ayah, sayang?” dia mengusap rambut Awalia perlahan.
“Ayah? Apa maksudnya? Kau adalah ayahku?” ia bertanya kepada pria yang tengah memeluknya.
“Iya, aku adalah ayah sekaligus penulis novel yang tengah engkau baca itu” ia tersenyum kepada
Awalia.
“Baiklah ayah, bisa kau mengurus ibu untukku, aku harus membawa piagam ini kepada seseorang”
Ayahnya kemudian mengangguk dan Awalia segera meninggalkan keributan yang mungkin
akan berlangsung sebentar lagi. Ia memeluk piagamnya dengan bangga menuju makam temannya,
Metri.
“Hy, apa kau baik baik saja? Aku membawa ini untukmu, terima kasih telah datang di hari itu, kau
membuat segalanya lebih baik dalam jangka waktu sehari. Bisakah kau menungguku? Aku ingin
membuat novel bersamamu di surga” kata Awalia yang tengah menangis sambil memeluk nisan
Metri.
Metri telah mengubah hidup Awalia dengan pencapaian luar biasa. Tak perlu berhari hari,
karena dia bisa meyakinkan gadis manis itu dalam satu hari.

*** Tamat ***

Tentang Penulis

Crefty Ainil Haq / Siswi SMAN 3 PINRANG dan Anggota Komunitas Ombak
Baca-Mattiro Sompe / Email creftyainilhaq01@gmail.com

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Mengandung Racun, 5 Buah Ini Bisa Membunuh Anda Jika Dikonsumsi

Wanita Perlu Tahu, Inilah Tanda-tanda Anda Sudah Dinikahi Jin

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar