Coppong Daeng Rannu dan Serang Dakko, Dua Maestro Seni yang Terabaikan

Maestro Seni Sulsel
Maestro Seni Tradisi Sulawesi Selatan, Serang Dakko

Terkini.id – Seni tradisi sebagai salah satu kebudayaan daerah yang memperkaya khasanah bangsa Indonesia kini semakin terkikis oleh kecanggihan teknologi maupun informasi. Setiap seni tradisi yang ada, khususnya di Sulawesi Selatan, nyaris kehilangan generasi.

Dari ratusan juta penduduk Indonesia satu dua orang saja yang mendalami dan mengabdikan seluruh hidupnya di dunia seni tradisi. Sang Maestro pun sulit ditemukan.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata pada tahun 2008 silam, Ir Jero Wacik SE mengatakan, jumlah maestro Seni Tradisi Indonesia makin lama makin sedikit.

Sehingga, bila tidak diambil langkah nyata untuk melestarikannya kembali, bukan tidak mungkin suatu saat nanti, cepat atau lambat ia akan mengalami kepunahan lalu hilang dari peta kebudayaan Indonesia.

Untuk itu, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia, tahun 2008 lalu telah menerbitkan buku Profil Maestro Seni Tradisi.

Dari 27 Maestro yang ada di Indonesia, dua di antaranya dari Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Mereka adalah Coppong Daeng Rannu “Penari Pakarena dari Istana Kerajaan Gowa sampai Amerika”, dan Serang Dakko yang “Seluruh Hidupnya untuk Menabuh Gendang”.

Coppong Daeng Rannu

Sayang, meski sudah seluruh hidupnya diabdikan dalam menjaga kelestarian seni tradisi tersebut, mereka tetap terabaikan oleh pemerintah daerah saat ini.

Tak salah jika sang Maestro merasa diabaikan, lebih diperhatikan dan dibutuhkan oleh orang luar negeri ketimbang daerah sendiri.

“Rasanya kami lebih dihargai dan diterima oleh pecinta seni di luar negeri dibandingkan di sini,” ujar Serang Dakko, sang Maestro Gendang yang telah berpentas di beberapa negara, seperti Amerika serikat dan Australia.

Kecintaan terhadap seni tradisi yang lelah mengalir dalam jiwa mereka akan tetap berkobar, meski secara materi tak menjanjikan kemakmuran hidup.

Serang Dakko

Di usianya yang ke-84 tahun, Coppong Daeng Rannu, tetap sibuk memekarkan bunga-bunga “Pakarena”, mulai dari cucu-cucunya hingga lingkungan sekitarnya. Berharap “pakarena tidak akan pernah mati” meski suatu hari ia telah berkalang tanah.

Serang Dakko, Penabuh Gendang termuka Sulawesi Selatan, setiap tahun diundang khusus oleh perdana menteri Thailand, sekedar ingin menikmati pertunjukan Tari Pakarena yang diringi tabuhan gendang.

Bahkan untuk mewariskan ilmu yang dimilikinya ini, Serang Dakko yang lebih senang dipanggil “Serda” ini mendirikan Sanggar Alam di Benteng Somba Opu.

Mereka memang bukan sarjana, doktor, apalagi profesor. Mereka hanyalah seniman tradisional yang dilahirkan dan dibentuk oleh alam, namun kepiawaiannya menabuh gendang dalam mengiringi Tarian Pakarena telah membawa mereka berkeliling di beberapa benua di dunia.

Coppong Daeng Rannu

Meski dua seniman ini telah mengharumkan nama bangsa dan daerah Sulawesi Selatan, khususnya Kabupaten Gowa, hingga saat ini Pemerintah Kabupaten Gowa belum pernah memberikan kepedulian berarti bagi kedua maestro ini.

Kepedulian mereka hanyalah di saat keduanya diundang untuk ditampilkan dan ini pun dibayar pas-pasan. Pertanyaannya apa yang telah pemerintah Gowa berikan atas apa yang telah diukir oleh kedua seniman ini.

Kini, baik Coppong maupun Serang Dakko hidupnya bergantung pada undangan pentas di luar negeri.

Penulis : Salmawati

Komentar

Rekomendasi

Telat Sarjana dan IPK Pas-pasan, Pria Asal Indonesia Ini Sukses Jadi Ilmuwan Kelas Dunia

Menginspirasi, Polisi Ini Jadi Guru Ngaji dan Bahasa Arab

Sosok Dadang Suhendi, Mantan Kakanwil ATR/BPN Sulsel di Mata Bawahannya

Dulu Urus Ban Mobil, Kini Sukses Jadi Desainer Aksesoris Kelas Dunia

Meski Punya Bisnis yang Sama, Karaeng Hilda: Sukses Bersama Lebih Indah

Daeng Naba dan Asal Usul Nama Warkop ‘Dottoro’

Kepala Madrasah Inspiratif Ini, Bawa MTsN I Jeneponto Raih Segudang Prestasi

Bupati Cantik Ini Ajak Perempuan Berkiprah di Ranah Politik

Puteri Indonesia Nadine: Ibu adalah ‘Institut’ Utama Bagi Anak

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar