Cristiano, Messi, dan kemunduran sepak bola

Terkini.id – Ketika kita membicarakan Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi, kita mestinya tahu bahwa mereka tidak berjaya ketika nama-nama mengerikan seperti Paolo Maldini, Fabio Cannavaro, Lilian Thuram, Alesandro Nesta, Franco Baresi, atau bahkan Booby Moore dan Claudio Gentile masih ada di barisan lini belakang tiap tim.

Salah satu bek terbaik dalam 15 tahun terakhir hanyalah Sergio Ramos yang bermain di Real Madrid. Lalu Gerard Pique di Barcelona. Sisanya hanyalah sampah jika diukur dari tradisi tim mereka dalam melahirkan bek-bek handal. Lihat saja: Andrea Barzagli, Thiago Silva, Gary Cahlil, atau Laurent Koscielny.

Nama-nama yang membuat Will Smith di “Pursuit of Happiness” memilih jalan menjadi seorang realis yang pahit ketimbang sales miskin yang optimistis.

Cristiano atau Messi juga belum bersinar ketika para gelandang jenius seperti Zinedine Zidane, Fernando Redondo, Claude Makelele (anjing, tiga nama pertama bekas pemain Madrid), Rui Costa, Paul Scholes, atau gelandang-gelandang pengincar tulang kering layaknya Patrick Vieira dan Roy Keane masih berjaya.

Scholes dan Keane memang sempat bermain bersama Cristiano. Tapi itu terjadi tatkala mereka menyiapkan masa pensiun. Scholes memang kembali merumput setelah pensiun sementara, lalu Keane melanjutkan karier sebagai pesakitan tukang ngamuk di pinggir lapangan.

Ketika Cristiano pindah ke Madrid, nyaris seluruh gelandang-gelandang terbaik di era sekarang silih berganti menemaninya.

Messi lebih beruntung. Ya, Anda tak salah baca: beruntung. Ia bermain bersama trisula lini tengah terbaik sepanjang sejarah Barcelona: Xavi Hernandez – Andres Iniesta – Sergio Busquests. Dan jangan lupa: ada bangsat bernama Pep Guardiola yang berhasil menciptakan sistem permainan paling pas untuk para jebolan La Masia, wabilkhusus, Messi.

Jika masih ingin diperlebar, lihatlah nama-nama striker top dalam 15 tahun ke belakangan. Anda hanya akan melihat nama-nama mentereng yang kemudian menjadi rekan setim Cristiano atau Messi, lalu kariernya meredup karena kerja bareng dua orang itu. Sementara striker-striker sisanya, seperti barisan para pemain belakang tadi, cukuplah kita anggap sampah.

Maksud saya, ayolah. Dahulu, ketika Thierry Henry dan Ruud van Nistelrooy kerap beradu mencetak 20-30-an gol tiap musim di EPL, kita masih disuguhi atraksi keganasan dari Ronaldo, Andriy Shevchenko, Gabriel Batistuta, Fransesco Totti, atau Rivaldo di liga-liga yang lain, bukan?

Maka, ketimbang terus menerus terpukau dengan kehebatan Cristiano atau Messi, ada baiknya mulai bertanya ulang: mereka yang kelewat jago atau jangan-jangan sepak bola yang mengalami kemunduran?

Berita Terkait