Dapat Panggilan Misterius dari Nomor Tak Dikenal, WhatsApp Pria Ini Dibobol Hacker

WhatsApp
WhatsApp dibobol hacker. (Foto: Warta Melayu)

Terkini.id, Jakarta – Lebih dari 1,5 miliar pengguna didesak untuk memperbarui aplikasi WhatsApp. Imbauan ini muncul beberapa waktu lalu di tengah kabar adanya panggilan suara misterius lewat WhatsApp.

Panggilan misterius tersebut diduga berbahaya dan memungkinkan peretas mengakses smartphone pengguna.

Kerentanan keamanan ini bisa membuat peretas menyebarkan spyware, bahkan jika pengguna tidak menjawab panggilan tersebut.

Hingga saat ini belum diketahui berapa banyak pengguna yang ditargetkan atau terpengaruh.

Belum lama ini, seorang warga negara Rwanda, Faustin Rukundo, diasingkan dan kini tinggal di Leeds, Inggris. Ia adalah salah satu dari ribuan korban pembobolan WhatsApp.

Pada April 2019 Rukundo menerima sebuah telepon via WhatsApp dari nomor yang tak ia kenal.

Saat panggilannya dijawab, tak ada suara dari ujung telepon, dan panggilannya mendadak mati. Saat ditelepon balik, panggilannya itu tak dijawab.

Ia tak menyadari usai menjawab telpon misterius tersebut, ponselnya sudah terkontaminasi malware yang bisa menyadap berbagai hal dari ponselnya itu.

Beberapa lama kemudian, panggilan telepon itu kemudian datang kembali, dengan kasus yang sama. Ia mulai was-was terhadap keamanan keluarganya, yang membuatnya membeli ponsel baru.

Kecurigaannya itu mulai timbul setelah ada sejumlah berkas yang hilang dari ponselnya. Namun, hal itu tak membuatnya terbebas dari panggilan telepon misterius itu.

Tak sampai sehari setelah ia menggunakan ponsel baru, panggilan lewat WhatsApp itu muncul kembali.

“Saya mencoba menjawab namun mereka langsung mematikan telepon sebelum saya mendengar suara apa pun,” kata Rukundo, seperti dilansir dari BBC, Jumat, 1 November 2019.

Ia pun kemudian mencari tahu dengan berbincang dengan temannya di Rwanda National Congress, dan ternyata mereka juga mengalami pengalaman yang sama, yaitu mendapat panggilan misterius dari nomor yang sama.

Rukundo baru menyadari adanya serangan cyber terhadap WhatsApp pada bulan Mei lalu, dan ia pun menyadari apa yang terjadi padanya.

“Saat saya pertama membaca beritanya soal peretasan WhatsApp, saya berpikir, wah, ini yang terjadi pada saya,” ujar Rukundo.

“Saya mengganti ponsel dan menyadari kesalahan saya. Mereka mengikuti nomor saya dan menyusupkan software mata-mata setiap kali saya mengganti perangkat dengan menelpon nomor yang sama,” sambungnya.

Rukundo dan rekan-rekannya adalah satu dari 1.400 orang korban yang menjadi target dari eksploitasi celah di WhatsApp.

Berita Terkait