Demam Berdarah Melanda Sejumlah Daerah, Sudah Punya Asuransi Kesehatan?

Terkini.id, Jakarta – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tengah terjadi secara masif di beberapa daerah di Indonesia.

Beberapa daerah bahkan menjadi daerah dengan jumlah kasus kematian terbanyak akibat DBD, seperti di Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Kupang (Kemenkes).

DBD dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Bagaimana cara mengantisipasinya?

Untuk melakukan ini, Anda harus kenal penyebab dan gejalanya agar bisa melakukan tindakan preventif dan responsif untuk menyembuhkan.

Penyakit DBD disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti. Jenis nyamuk ini adalah penyebab utama (vektor primer) terjadinya penularan penyakit DBD.

Biasanya, virus ini menyerang di siang atau sore hari pada manusia atau hewan yang secara klinis dinyatakan sakit.

Sementara penyebab lainnya (vektor sekunder) adalah nyamuk Aedes albopictus. Gigitan nyamuk ini menyebarkan infeksi pada siang hari.

Anak yang Tidur Siang

Nyamuk jenis ini termasuk jenis yang susah dibasmi karena terbangnya lebih cepat, lincah, dan terutama menyerang anak-anak yang tidur siang.

Penyakit DBD sendiri merupakan penyakit menular karena nyamuk yang sama dapat membawa infeksi ke orang lain setelah mengigit orang yang terinfeksi sebelumnya.

Bahkan, jika Anda pernah mengalami sakit DBD sebelumnya pun tetap berpeluang terkena DBD.
Setelah gigitan nyamuk yang membawa virus penyakit DBD akan terjadi masa inkubasi sekitar 4 hari hingga muncul demam atau tanda dan gejala lainnya yang menunjukkan bahwa seseorang mengidap DBD.

Selain demam mendadak, tanda lainnya, seperti sakit kepala, kemerahan pada permukaan kulit, dan nyeri pada otot dan tubuh.

Akan tetapi, demam berdarah tidak harus menunjukkan gejala yang sama, seperti bintik kemerahan di permukaan kulit.

Deteksi dini jarang bisa dilakukan oleh masyarakat awam karena pada demam pada fase awal demam, mirip dengan demam penyakit lainnya yang seringkali dianggap sepele dan dirasa dapat disembuhkan dengan minum obat demam yang dijual bebas.

Tes Demam Berdarah

Tes sederhana yang dapat dilakukan untuk mengetahui DBD adalah tes Tourniquet atau dikenal dengan Rumpel-Leede (Kerapuhan kapiler tes atau tes kerapuhan kapiler) atau disebut tes Petechiae.

Tes ini dilakukan dengan cara mengikat lengan bahu dengan sabuk atau manset tensi agar darah terbendung dan pada lengan bawah dibuat pola lingkaran diameter 5 cm.

Bila dalam 10 menit terbendung lebih dari 10-20 bintik dapat dipastikan 80% positif DBD.

Namun, dengan menggunakan cara ini bisa juga terjadi false positif (kesalahan hasil positif yang diakibatkan faktor lain).

Artinya, belum tentu tidak terkena demam berdarah hanya karena kurang dari 10 bintik, bisa saja belum pecah.

Ada baiknya, jika merasa demam lebih dari 2 hari, segera memeriksakan diri ke dokter untuk diagnosa lebih lanjut.

Kenapa harus ke dokter?

Dokter Spesialis Penyakit Dalam OMNI Hospitals Alam Sutera dr Sandy Perkasa Sp PD bahwa jika ternyata demam yang dialami terdiagnosa demam berdarah maka harus segera diobati sebelum mengalami fase kritis yang dapat menyebabkan kematian.

Adapun demam berdarah memiliki beberapa fase mulai dari fase awal merasa demam cukup tinggi hingga 40 derajat celsius yang berlangsung selama 1 hari hingga 7 hari.

Pada fase ini, penderita DBD dianjurkan memperbanyak minum air putih untuk mencegah dehidrasi dan membantu menurunkan suhu tubuh.

Selain demam, gejala yang ditemukan pada fase ini seperti infeksi tenggorokan, sakit di area bola mata, anoreksia, mual dan muntah. Ketika dilakukan pemeriksaan lab pun ditemukan jumlah sel darah putih dan trombosit yang menjadi turun.

Sedangkan pemeriksaan untuk mendiagnosis demam berdarah ada 2 (dua) yaitu antigen non struktural-1 dengue (NS1) dan IgG/IgM anti dengue.

Pasien yang positif terkena DBD akan rentan memasuki fase kritis di hari ke-4 atau hari ke-5. Pada fase ini, panas mulai turun dan pasien merasa sudah sembuh.

Akan tetapi, penurunan suhu tubuh bukan berarti sembuh karena terjadi penurunan trombosit.

Penurunan trombosit yang drastis mengakibatkan darah menjadi lisis (membran plasma robek hingga sel menjadi rusak). Jika hal ini terjadi, fungsi darah dan jantung akan terganggu.

Indikasi dini pembuluh darah pecah misalnya penderita DBD mengalami muntah, mimisan, pembesaran organ hati, dan nyeri perut.

Cegah & Sembuhkan DBD Sebelum Risiko Kematian

Masyarakat perlu peduli dengan bahaya DBD dengan cara menjaga kebersihan, memberantas nyamuk Aedes, dan segera bawa ke rumah sakit jika ada keluarga menderita DBD.

Health Claim Senior Manager Sequis dr. Yosef Fransiscus juga menambahkan bahwa demam berdarah sangat mungkin terjangkit jika lingkungan terdapat banyak nyamuk Aedes aegypti.

Untuk itu, ia mengimbau agar nyamuk jenis ini diberantas sejak masih menjadi jentik hingga nyamuk dewasa.

“Memberantas nyamuk Aedes sebaiknya dilakukan secara berkelanjutan bukan hanya saat sedang mewabah saja. Apalagi, Indonesia merupakan endemis DBD yang sebarannya di seluruh wilayah tanah air dan demam berdarah dengue banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis terutama saat musim hujan. Untuk itu, jika kita aktif melakukan pencegahan dan dilakukan secara reguler maka akan membantu mengurangi mewabahnya demam berdarah” ujarnya.

Asuransi Kesehatan

Untuk bisa mendapat perawatan intensif, masyarakat harus punya asuransi kesehatan.

Selain menjadi peserta BPJS Kesehatan, bisa juga menambah jaminan kesehatan dengan asuransi lain agar lebih terjamin.

Salah satu asuransi itu adalah Sequis life, yang ikut memberi fasilitas tambbahan seperti transportasi dan akomodasi keluarga pasien selama pengobatan, tertundanya pekerjaan, hingga menggerus anggaran keluarga.

Jumlah klain asuransi DBD yang dibayarkan Sequis selama 2018
Jumlah klain asuransi DBD yang dibayarkan Sequis selama 2018

Vice President of Life Operation Division Sequis Eko Sumurat mengungkapkan, asuransi kesehatan akan berguna saat kita harus rawat inap.

“Untuk itu, Sequis menyediakan produk asuransi kesehatan yang tidak hanya memberikan perlindungan penyakit tropis seperti DBD, tetapi juga untuk komplikasi selama dan setelah perawatan DBD,” ujar Eko.

Berita Terkait
Komentar
Terkini