Diduga Pungli, Oknum Polisi di Soppeng Minta Uang Pengamanan ke Pedagang

Pungli
Ilustrasi pungli. (Foto: Gatra)

Terkini.id, Soppeng – Seorang pedagang pakaian bekas (cakar) mengeluh lantaran seorang oknum polisi di Kabupaten Soppeng diduga meminta sejumlah uang pengamanan senilai Rp 1 juta.

Dugaan Pungutan Liar (Pungli) tersebut diduga melibatkan oknum aparat kepolisian Sektor Lilirilau, Soppeng.

Hal tersebut diungkapkan salah seorang pedagang cakar di Cabbenge, Kecamatan Lilirilau, Sapri, Jumat 6 Desember 2019.

Ia mengatakan bahwa pihaknya dimintai sejumlah uang oleh oknum polisi yang bertugas, sebagai salah satu persyaratan ijin pengamanan, agar dirinya bisa berjualan di sekitar Terminal Cabbenge.

Padahal, Sapri mengatakan bahwa ia telah mendapatkan izin berjualan dari pihak pemerintah, termasuk dari Dinas Perhubungan, kecamatan, dan izin dari kelurahan setempat.

Menarik untuk Anda:

“Saya sudah mengambil rekomendasi dari kelurahan, dan Kecamatan Lilirilau bahkan Dinas Perhubungan juga sudah memberikan izin untuk menggunakan terminal tanpa dipungut biaya. Saya bersama teman pedagang diberikan izin selama satu bulan untuk menjual,” kata Sapri.

Lanjut Sapri, awalnya ia diminta uang pengamanan sebanyak Rp 20 ribu oleh oknum polisi berinisial SR yang juga menjabat sebagai Kanit di Polsek Lilirilau.

“Awalnya diberi Rp 20 ribu per pedagang tapi saya mau sampaikan ke teman saya, lalu sore dia menelpon. Menurut polisi tersebut sore sudah ada surat izin tapi tidak mau ditandatangani Kapolsek jika tidak membayar Rp 1 juta,” ucap dia.

Selain itu, oknum polisi tersebut melarang pembeli yang hendak ke lapaknya.

“Jangan ada yang beli di situ,” ucap Sapri menirukan perkataan oknum polisi tersebut.

Sementara itu, Kapolsek Lilirilau Iptu Sainuddin membenarkan jika pihaknya telah meminta uang ke pedagang cakar untuk digunakan sebagai uang pengamanan.

“Jadi ituk dia mau menjual di terminal, itu tempat bukan tempat menjual, namanya kegiatan yang di luar kegiatan rutin dibutuhkan pengamanan seperti saat pertandingan sepakbola, dimana panitia harus menyediakan sejumlah dana, termasuk uang pengamanan,” kata Iptu Sainuddin.

Tekait adanya pembeli yang diusir saat hendak berbelanja. Sainuddin juga membenarkan hal tersebut.

“Ia diusir, dia tidak punya izin. Saya sudah sampaikan kalau mau menjual di pasar silahkan biar sampai pagi. Tapi ini di terminal, jadi harus ada prosedur yang harus ditempuh, kalau sanggup silahkan, kalau tidak, jangan. Jangan menyusahkan orang, kan begitu,” jelasnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

KPU Soppeng Usulkan Anggaran Rapid Tes untuk Lima Ribu Penyelanggara

Ditemukan Kerugian Negara Dugaan Korupsi Kades Bulue Soppeng

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar