Dihantam Isu Penculikan Aktivis Pun, Prabowo Tetap Kuat

Prabowo

KEMARIN saat beritanya muncul di Detikcom, dengan sumber BBCindonesia, di situ saya langsung senyam-senyum.

Kurang dari 24 jam dari summit (pertemuan tingkat-tinggi) Prabowo-SBY, segeralah materi “serangan” disajikan. Saya senyam-senyum karena: pelurunya peluru lama.

Nampak jelas untuk membendung Prabowo ke kursi eksekutif tertinggi di negeri ini harapan pihak yang tidak suka hanyalah isu lama. Tidak ada sesuatu yang baru.

Isu lama itu sudah disajikan pada 2014 (dan juga 2009, bukan?) dan ada sekitar 47% pemegang Hak Suara TIDAK PEDULI. Itu hanya sejarak 3% dari kemenangan. Apakah pula yang dirasakan masyarakat Indonesia 4 tahun terakhir? Makin mudah atau makin sulit? Saya tidak ingin berdebat soal ini.

Silakan rasakan sendiri-sendiri. Alih alih, 53% yang tidak pilih Prabowo 2014 lalu sangat mungkin unsur “swing” di dalamnya saat ini telah berayun (swing) ke Prabowo.

Ah, saya masuk ke analisis teks dari berita itu. Ada 1 fakta yang harus siap dijawab oleh penyaji berita. Foto dokumen yang disajikan.

Terlepas dari apa isi narasi dokumen yang kini tak lagi berstatus rahasia itu (karena narasi berisi laporan dari perspektif narasumber, bukan sebuah dokumen semacam surat keputusan), saya melihat photo caption bertulis “NSA via BBC”.

Saya rasa National Security Agency (NSA) sebagai sebuah agensi intelejen paling utama di Amerika Serikat tidak akan mungkin “bagi-bagi” dokumen ke media mana pun. Kecuali pembocoran dari dalam seperti yang dilakukan Edward Snowden.

Peneraan “NSA via BBC” itu saya rasa adalah bagian dari kerja kerja Framing (pembingkaian berita) untuk tujuan bombastis. Bahwa: “sumber datanya kuat”.

Memperoleh dokumen-dokumen agensi Amerika yang dulunya rahasia namun seiring waktu menjadi tidak lagi rahasia (unclassified) tidaklah sulit. Ada banyak sumber yang “menampung” dokumen itu dan semuanya bersifat terbuka. (Seakan-akan) Diperoleh dari NSA langsung adalah sebuah kebohongan.

Terakhir… Kapan sih dokumen yang dijadikan referensi berita tersebut diberi status tak lagi rahasia?

Untuk dokumen yang tidak rahasia rahasia amat (bukan urusan dalam negeri dan pertahanan keamana AS) waktunya adalah 10 tahun.

Setelah 25 tahun, kalau pun tak dideklasifikasi (dibuka untuk publik) maka berlaku aturan auto-25, yaitu dalam waktu 25 tahun otomatis bersifat tidak lagi rahasia. Kecuali untuk informasi-informasi super sensitif (50 dan 75 tahun). Mungkin “rahasia” pembunuhan Kennedy masuk ke dalam status rahasia 75 tahun ini.

Kalau melihat “kadar” informasi mengenai situasi Indonesia 1998, maka dokumennya paling banter masuk klasifikasi rahasia selama 10 tahun. Artinya, tahun 2008 dokumen itu sudah deklasifikasi. Kalau ditarik-banding dengan tahun 2018 sekarang, itu berarti 10 tahun lalu. Itu berarti: berita yang disajikan Detikcom dengan sumber BBCindonesia adalah murni framing. Pemimpin Redaksi kedua media harus bisa tahan malu.

Kalau informasi itu karena sesuatu dan lain hal ternyata bersifat rahasia selama 25 tahun (menanti masa auto-25), itu berarti agensi intelejen terbesar di dunia, NSA, telah bertindak begitu bodoh dengan mengirim “press release” ke media massa. Lucu kelas kakap. Which is, impossible.

Komentar

Rekomendasi

Surya Paloh: Nurdin Abdullah Sosok Pemimpin yang Mendapatkan Dukungan Luas

Silaturahmi ke Gubernur dan Kejati Sulsel, PDIP Singgung Soal Pilkada 2020

Blak-blakan, IAS Tegaskan Dukungan ke Deng Ical di Pilwakot Makassar 2020

Gubernur Serahkan Lahan Untuk Kantor PDIP Sulsel di Jalan Karunrung

Sabtu Hingga Minggu, DPD Garda Sidrap Akan Ramaikan Nasdem Day

Golkar Tunjuk JMS Koordinator Pemenangan Pemilu di Sulawesi

Shaifuddin Bahrum Pembuka Sekat dengan Etnis Tionghoa

Thita Syahrul Akan Dilantik Sebagai Ketua Umum Harnita Malahayati NasDem, Cicu: Kami Bangga

Kepemimpinan Dalam Islam

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar