Dont Cry, PSM!

SAYA tak ingin mengomentari kegagalan PSM Makassar juara liga Indonesia tahun ini. Sudahlah! Itu sudah lewat.

Yang namanya suporter dan pencinta PSM, pastilah merasakan sakit hati akibat kegagalan tim kesayangannya.

Sedih, kecewa, menangis tentu berbaur jadi satu. Tapi, itulah kenyataan pahit yang harus diterima tim berjuluk Ayam Jantan dari Timur, sekarang ini.

Dari awal, ketika melihat persaingan di klasemen sementara, dan PSM bersaing dengan Persija Jakarta untuk menjadi tim terbaik di tanah air, perasaan saya langsung menciut.

Saya langsung memprediksikan, Tim Macan Kemayoran (julukan Persija), pasti memenangkan kontestasi ini.

Mengapa? Alasannya sederhana. Dari segi persiapan teknis dan non teknis musim ini, Persija tampak yang paling siap untuk merengkuh gelar juara. Catat, semuanya.

Itu saja. Simple, kan? Hehe..

Kalau soal persiapan teknis, semua mungkin sudah pada tahu. Semua tim berlomba-lomba merekrut pemain berkualitas sesuai karakter tim yang akan dibangun.

Ya, misalkan, apakah dihuni pemain bertabur bintang, atau pemain berpengalaman? Apakah kualitas antara pemain inti dengan pelapis tidak jomplang? Lalu, apakah pelatihnya masuk jajaran pelatih top yang kaya strategi?

Lalu, bagaimana non teknisnya? Ini banyak variannya, dan seringkali menjadi faktor penentu kemenangan.

Sebut, misalnya, masalah yang paling mendasar seperti gaji dan bonus pemain. Apakah selama ini pembayarannya lancar-lancar saja, atau justru sebaliknya, malah tersendat-sendat?

Yakinlah, lancar atau tersendat-sendatnya pembayaran gaji dan bonus, sudah pasti bakal berdampak langsung kepada performa pemain di lapangan. Ini memang tampak terkesan biasa-biasa saja. Tapi, jangan pernah menyederhanakan masalah ini.

Ini masalah perut, Bung! Hihihi..

Masalah internal tim juga ikut mempengaruhi kondisi tim. Apakah relasi antarsesama pemain inti, serta pemain inti dan pemain pelapis, sudah berjalan harmonis, atau sebaliknya? Apakah hubungan pemain dengan pengelola dan manajemen tim juga akur-akur saja?

Kemudian, apakah relasi antara pelatih dengan para pemain dan juga pengelola tim, sudah berjalan lancar dan tidak ada kendala? Apakah tidak ada masalah dengan strategi pelatih? Bagi saya, ini juga sangat penting, lantaran pernah ada kejadian unik di PSM seperti ini.

Suatu waktu, ketika PSM dihuni pemain bintang, seperti Syamsul Haeruddin, Ponaryo Astaman, Ronald “il Gato” Fagundez, Ortizan Solossa, Irsyad Aras, Charis Julianto, Jack Komboy, pemain merasa kurang sreg dengan pola 3-5-2 yang minta dimainkan oleh pelatihnya.

Saat sesi latihan, pemain sebenarnya sudah sering menyampaikan keluhan mereka ini. Hanya saja, pelatih terlihat lebih senang dan memahami pola 3-5-2. Padahal, 3-5-2 saat itu dianggap formasi jadul, dan ketinggalan zaman.

Saat itu, di depan pendukungnya di Stadion Mattoanging, Makassar, PSM sempat tertinggal 0-1.

Namun, memasuki babak kedua, tanpa sepengetahuan pelatih, pemain tiba-tiba mengubah pola menjadi 4-4-2. Hasilnya, permainan PSM menjadi lebih hidup, dan skor akhir imbang, 1-1.

Berikutnya adalah suporter. Apakah dukungan suporter juga termasuk non teknis? Yup, betul. Namun, jangan pernah sekalipun meragukan kecintaan dan kesetiaan suporter terhadap PSM. Mereka betul-betul sangat mencintai PSM.

Saya berkali-kali menjadi saksi saat mengikuti tur PSM di luar Makassar (2001 hingga 2008), betapa cintanya suporter dengan PSM. Mereka bahkan siap menyabung nyawa. Bikin merinding. PSM harga mati!

***
Kalau urusan di atas sudah oke, berarti semua jadi beres, kan? Belum tentu. Ada juga non teknis, dan menjadi senjata pamungkas untuk juara.

Apa itu?

Sayangnya, persoalan ini sejak dulu masih misterius. Masih abu-abu. Barangkali, sudah banyak yang bisa menebak dan menduga, tetapi masih sulit menemukan buktinya. Cuma orang-orang tertentu dan punya kepentingan saja yang tahu.

Ibarat kentut yang tidak bunyi, semua orang mencium bau kentut busuk itu di sekitarnya, tapi tidak tahu siapa yang kentut. Hehe.

Pola relasi ini saling berkelindan, dan menguntungkan pihak-pihak yang berkepentingan. Ya.. Semacam simbiosis mutualistisme-lah..

Pada akhirnya, kita semua, orang-orang yang ingin melihat Indonesia berlaga di pentas sepakbola internasional, cuma menyayangkan, ternyata masih ada orang-orang yang belum ingin melihat persepakbolaan di tanah air maju dan berkembang.

Berita Terkait