Dugaan Perobekan Uang, Walhi Sulsel Sebut Ada Upaya kriminalisasi Nelayan

Sejumlah nelayan Pulau Kodingareng menggelar aksi solidaritas memberikan dukungan terhadap tiga nelayan yang diperiksa di Kantor Ditpolairud di Jalan Pasar Ikan, Kota Makassar, Senin 3 Agustus 2020.

Terkini.id — Direktur Walhi Sulsel Muhammad Al Amin angkat bicara terkait tiga nelayan asal Pulau Kodingareng, Kecamatan Sangkarrang, Makassar, diperiksa Polairud Polda Sulsel dalam kasus dugaan perobekan uang, Senin 3 Agustus 2020.

Menurut Amin, pemeriksaan ini merupakan bagian dari upaya kriminalisasi nelayan yang selama ini melakukan aksi penolakan terhadap aktivitas tambang pasir laut yang dilakukan oleh perusahaan swasta asal Belanda.

Aktivitas tambang pasir laut itu memberikan dampak buruk bagi nelayan yang mengakibatkan hasil tangkap menurun drastis.

“Ini adalah bagian dari skenario perusahaan untuk melemahkan gerakan masyarakat atau nelayan serta perempuan di Pulau Kodingareng,” kata Amin. 

Beberapa nelayan diajak oleh pihak perusahaan tambang pasir laut untuk mensurvei lokasi yang tidak mengganggu wilayah tangkap nelayan.

Menarik untuk Anda:

Setelah meninjau lokasi beberapa nelayan diberikan amplop berisi uang. 

Namun, Amin menilai pemberian amplop uang itu merupakan bagian dari dugaan gratifikasi atau sogokan yang tidak pantas diambil oleh nelayan.

“Sehingga kemudian mereka menggelar musyawarah nelayan dan meminta agar amplop dari perusahaan itu dirobek tidak diterima. Artinya, pada dasarnya pemberian atau uang dari perusahaan, bukan untuk melecehkan atau merendahkan mata uang negara,” ujar Amin.

Sebelumnya, tiga nelayan asal Pulau Kodingareng, Kecamatan Sangkarrang, Makassar, diperiksa Polairud Polda Sulsel dalam kasus dugaan perobekan uang, Senin 3 Agustus 2020.

Dirpolairud Polda Sulsel Kombes Pol Hery Wiyanto mengatakan, ketiga nelayan yang tidak disebutkan identitas itu telah diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan perobekan uang.

“Ada beberapa saksi yang dipanggil, pertama warga yang mengetahui di sana, yang kedua saya juga sudah melakukan pemeriksaan terhadap saksi ahli dari Bank Indonesia,” kata Hery.

Ia mengungkapkan, uang itu diberikan kepada beberapa nelayan dari pihak perusahaan tambang pasir untuk meninjau lokasi pengerukan pasir untuk penimbungan proyek Makassar New Port (MNP). Beberapa nelayan diajak oleh pihak perusahaan untuk mensurvei lokasi yang tidak mengganggu wilayah tangkap nelayan.

“Kemudian pada saat diberikan amplop berisi uang ada salah satu masyarakat Kodingareng, di sana warga sedang berkumpul dan sebagainnya kemudian melakukan perobekan uang asli tersebut yang merupakan upah dari pihak perusahaan kepada masyarakat yang ikut survei itu,” ungkapnya.

“Uang itu masih di amplop, tapi dia pasti tahu bahwa di dalam amplop itu isinya adalah uang karena itu merupakan upah dari masyarakat yang ikut melaksanakan survei,” tambahnya.

Polisi pertama kali mengetahui adanya dugaan aksi perobekan uang tersebut, karena adanya warga yang upload video aksi tersebut di Facebook. Kemudian ada anggota polisi yang mengetahui bahwa hal tersebut merupakan tindak pidanan mata uang. 

“Kemudian anggota membuat laporan polisi model A. Setelah itu kita lakukan penyelidikan kita kembangkan kita dapatkan juga uang yang disobek kemudian kita melakukan pemeriksaan juga di BI, bahwa itu merupakan uang murni 5 lembar yang sudah rusak,” pungkasnya.

Konten Bersponsor

Mungkin Anda Suka

Paling Unggul Soal Program, Ketua LPM Baraya: Semoga Dilan Jadi Pamenang

Bila Terpilih, Danny Pomanto Bakal Bangun Sirkuit Balap di Barombong

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar