Duh, Arief Poyuono Bilang Tak Bisa Jadi Presiden kalau Bukan Suku Jawa, Pengamat Beri Teguran Begini

Terkini.id, Jakarta – Pernyataan politisi Gerindra, Arief Poyuono soal tak bisa jadi presiden kalau bukan suku jawa ternyata membuat kontroversial publik.

Ya, pernyataan Arief Poyuono tersebut mengarah ke Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Menparekraf Sandiaga Uno.

“Saya juga percaya tentang kata-kata leluhur orang Jawa dan harus Jawa Presiden Indonesia. Itu enggak bisa Sandiaga, bukan Jawa. Anies setengah Jawa, setengah Timur Tengah,” kata Arief.

Baca Juga: Pasang Badan Bela UAS Usai Dideportasi Singapura, Fadli Zon: Sangat...

Hal itu sontak saja mengundang komentar publik, tak tekecuali pengamat politik dari Universitas Indonusa Esa Unggul M, Jamiluddin Ritonga.

Menurutnya, apa yang disampaikan oleh Arief Poyuono sangat etnosentris.

Baca Juga: Wah, Siapa? Pengamat Ini ‘Desak’ Presiden Jokowi Pecat Menteri yang...

Terlebih, ia pun mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara yang multietnik dan semua berpotensi menjadi presiden atau pemimpin negeri.

“Pernyataan Arief Poyuono itu mengarah etnosentrime. Suku lain seolah tertutup untuk terpilih menjadi presiden,” ujar Jamiluddin kepada wartawan, Senin, 6 Desember 2021, mengutip rmolid.

Ia menilai, sikap etnosentrime tersebut tentu membahayakan perkembangan demokrasi di Indonesia.

Baca Juga: Wah, Siapa? Pengamat Ini ‘Desak’ Presiden Jokowi Pecat Menteri yang...

Sebab, katanya, sikap etnosentrisme itu pada umumnya berkembang di negara totaliter.

“Hal itu sudah dipraktekan Adolf Hitler saat memimpin Jerman. Hitler melalui NAZI terus menerus mengagungkan rakyat Jerman sebagai bagian dari Ras Arya,” jelasnya.

Disebutkan lagi, NAZI menilai Ras Arya ras paling unggul, karena itu paling berhak memimpin dunia. Ras lain hanya pecundang, karenanya syah untuk dipimpin dan dikuasai.

Jamiluddin mengatakan, sikap seperti itu tentu sangat tidak cocok di negara demokrasi. Sebab, mereka akan terus berupaya mendominasi dengan tidak memberi ruang bagi suku lain untuk memimpin.

“Indonesia yang dihuni multietnis, tentu sikap etnosentrisme Arief Poyuono dapat mengganggu NKRI. Suku lain akan merasa tertutup untuk menjadi presiden. Hal itu dapat membuat frustasi suku lain,” demikian pungkasnya.

Bagikan